Pertobatan dan Pengampunan

Pelajaran 10, Triwulan 2, 30 Mei – 5 Juni 2026

img rest_in_christ
Share this Lesson
Download PDF

Sabat Sore 30 Mei

Memory Text:

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” KJV - 1 Yohannes 1:9


Selama Musa tidak berada di antara mereka, bagi Israel hal itu merupakan satu waktu menunggu dengan rasa cemas. Orang banyak mengetahui bahwa ia telah naik ke atas gunung bersama Yosua dan telah memasuki awan tebal yang dapat dilihat dari tempat mereka tinggal, yang ada di puncak gunung itu, dan dari waktu ke waktu diterangi oleh kilat yang memancar dari hadirat Ilahi. Dengan penuh kerinduan mereka menunggu kembalinya Musa. Oleh karena selama berada di Mesir sudah terbiasa dengan ilah-ilah yang diwakili oleh benda-benda, maka sukarlah bagi mereka untuk berharap kepada satu Pribadi yang tidak kelihatan, dan selama ini mereka telah bergantung kepada Musa untuk menguatkan iman mereka. Sekarang ia telah diambil dari antara mereka. Hari demi hari, pekan demi pekan berlalu tetapi Musa belum juga kembali. Sekalipun awan itu masih tampak, bagi orang banyak yang ada di perkemahan seolah-olah Musa telah meninggalkan mereka, atau telah dimusnahkan oleh api yang menghanguskan itu. PP 315.1

Merasa tidak berdaya oleh karena tidak hadirnya pemimpin mereka, mereka telah kembali kepada takhyul-takhyul mereka yang dulu. “Bangsa campuran” itu adalah yang pertama-tama bersungut-sungut dan bersikap tidak sabar dan merekalah pemimpin dalam kemurtadan yang terjadi selanjutnya…. PP 315.3

“Selagi kepergian Musa, wewenang pemerintahan telah dipercayakan kepada Harun, dan sekelompok orang banyak telah mengerumuni kemahnya, dengan tuntutan, “Buatlah bagi kami dewa-dewa yang akan berjalan di depan kami, karena mengenai Musa ini, orang yang membawa kami keluar dari tanah Mesir, kami tidak tahu apa yang telah terjadi pada dia.’… PP 316.1

“Harun merasa takut akan keselamatannya sendiri; dan bukannya berdiri teguh membela kehormatan Allah, dia malah tunduk pada tuntutan orang banyak… PP 317.1

Betapa sering, pada zaman kita ini, kecintaan akan kesenangan disamarkan oleh “bentuk kesalehan”! Agama yang memperbolehkan manusia, sambil menjalankan ibadah, untuk menyerahkan diri kepada pemanjaan hawa nafsu dan sifat mementingkan diri, adalah sangat menarik kepada orang banyak sekarang ini seperti pada zaman Israel..... PP 317.2

Minggu, 31 Mei 

Kesibukan Hidup


 “Dalam segala hal yang berkaitan dengan keberhasilan pekerjaan Allah, kemenangan pertama harus diraih dalam kehidupan rumah tangga. Di sinilah persiapan untuk hari Sabat harus dimulai. Sepanjang minggu, hendaklah orang tua mengingat bahwa rumah mereka harus menjadi sekolah tempat anak-anak mereka dipersiapkan untuk pengadilan di surga. Hendaklah perkataan mereka adalah perkataan yang benar. Jangan sampai ada perkataan yang tidak pantas didengar anak-anak mereka keluar dari bibir mereka. Hendaklah roh dijaga agar terbebas dari kejengkelan. Orang tua, selama seminggu hiduplah seolah-olah di hadapan Allah yang kudus, yang telah memberikan anak-anak kepada kalian untuk dididik bagi-Nya. Didiklah jemaat kecil di rumah kalian bagi-Nya, agar pada hari Sabat semua orang siap untuk beribadah di tempat kudus Tuhan. Setiap pagi dan sore, persembahkan anak-anak kalian kepada Allah sebagai warisan-Nya yang telah ditebus dengan darah-Nya. Ajarkan mereka bahwa tugas dan hak istimewa tertinggi mereka adalah mengasihi dan melayani Allah.” 6T 354.1

“Orang tua hendaknya menjadikan ibadah kepada Tuhan sebagai pelajaran berharga bagi anak-anak mereka. Ayat-ayat Alkitab hendaknya lebih sering diucapkan, terutama ayat-ayat yang mempersiapkan hati untuk pelayanan keagamaan. Kata-kata berharga ini sebaiknya sering diulang: “Jiwaku, nantikanlah Allah saja, sebab pengharapanku ada pada-Nya.” Mazmur 62:5.” 6T 354.2

“Apabila hari Sabat diperingati dengan cara demikian, hal-hal duniawi tidak akan dibiarkan mengganggu hal-hal rohani. Tidak ada tugas yang berkaitan dengan enam hari kerja yang akan ditunda untuk hari Sabat. Selama seminggu, energi kita tidak akan begitu terkuras dalam pekerjaan duniawi sehingga pada hari ketika Tuhan beristirahat dan disegarkan, kita akan terlalu lelah untuk terlibat dalam pelayanan-Nya. 6T 354.3

“Meskipun persiapan untuk hari Sabat harus dilakukan sepanjang minggu, hari Jumat adalah hari persiapan khusus. Melalui Musa, Tuhan berfirman kepada bangsa Israel: “Besok adalah hari istirahat Sabat yang kudus bagi Tuhan: pangganglah apa yang akan kamu panggang hari ini, dan rebuslah apa yang akan kamu rebus; dan sisanya simpanlah bagimu untuk dimakan sampai pagi.” “Lalu orang-orang itu pergi dan mengumpulkan manna itu, lalu menggilingnya di penggilingan, atau menumbuknya di lesung, lalu memanggangnya di dalam wajan, dan membuat kue-kue darinya.” Keluaran 16:23; Bilangan 11:8. Ada sesuatu yang harus dilakukan dalam mempersiapkan roti yang dikirim dari surga untuk bangsa Israel. Tuhan memberi tahu mereka bahwa pekerjaan ini harus dilakukan pada hari Jumat, hari persiapan. Ini adalah ujian bagi mereka. Tuhan ingin melihat apakah mereka akan menguduskan hari Sabat atau tidak.” 6T 354.4

Untuk menjadi…. seorang Kristen, seorang yang benar-benar religius, seseorang pertama-tama harus mengatur seluruh keberadaannya, mengendalikan, mengoordinasikan, dan menggunakan kekuatan, energi, sarana, dan waktunya dengan benar. Siapa pun yang gagal mewujudkan ekonomi empat dimensi yang terintegrasi ini, tidak akan pernah mencapai kesuksesan sejati. Untuk melakukannya, ia harus memaksimalkan "enam puluh detik jarak tempuh dari setiap menit yang tak kenal ampun," enam puluh menit aplikasi dan pencapaian maksimal dari setiap jam kerja atau istirahat, dan efektivitas puncak dari setiap gerakan atau tindakan. Singkatnya, ia harus menghilangkan setiap gerakan yang sia-sia, serta setiap duplikasi dan tumpang tindih gerakan yang tidak dipikirkan dan berbelit-belit, yang tidak menghasilkan apa pun tetapi hanya menguras cadangan energinya. Pekerjaan seorang Kristen sejati seperti itu tidak akan pernah dilakukan dengan cara yang asal-asalan atau untung-untungan.

Senin, 1 Juni 

Dorongan Roh Kudus


Bacalah Hosea 6. Apakah yang secara khusus Anda perhatikan tentang bagaimana Allah menggambarkan diri-Nya dalam seruan-Nya kepada pertobatan?

 “Kejahatan di Israel selama setengah abad terakhir sebelum tawanan Asyur sama seperti kejahatan pada zaman Nuh, dan pada setiap zaman lain ketika manusia menolak Allah dan membiarkan diri mereka sendiri seluruhnya berbuat kejahatan. Penyembahan terhadap alam di atas Allah alam itu, penyembahan terhadap makhluk kejadian gantinya Sang Pencipta, telah selalu menjadi akibat kejahatan yang paling mencolok. Jadi ketika umat Israel dalam penyembahan mereka kepada Baal dan Astoret, mengagung-agungkan penghormatan kepada kekuatan-kekuatan alam, mereka memutuskan hubungan mereka dengan semua yang mengangkat derajat dan memuliakan, dan jatuh menjadi mangsa yang mudah kepada pencobaan. Dengan pertahanan jiwa yang telah hancur, para penyembah yang diselewengkan tidak mempunyai penghalang terhadap dosa dan memasrahkan diri mereka sendiri kepada nafsu-nafsu jahat hati manusia.” PR 163.2

“Para pendurhaka diberi banyak kesempatan untuk bertobat. Pada saat kemurtadan mereka yang memuncak dan kebutuhan yang terbesar, pekabaran Allah pada mereka adalah pengampunan dan pengharapan. Ia berfirman, “aku membinasakan engkau, hai Israel, siapakah yang dapat menolong engkau? Di mana gerangan rajamu, supaya diselamatkannya engkau?” Hosea 13:9, 10. PR 163.7

“Mari, kita akan berbalik kepada Tuhan,” ajak nabi itu; “sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” Hosea 6:1-3. PR 164.1

Kepada mereka yang telah kehilangan pandangan terhadap rencana dari zaman ke zaman demi kelepasan orang-orang berdosa yang terperangkap oleh kuasa Setan, Allah menawarkan pemulihan dan perdamaian. “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela,” kata-Nya memaklumkan: “sebab murka-Ku telah surut daripada mereka. Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon Libanon. Ranting-rantingnya akan merambah, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau seperti yang di Libanon. Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon. Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau. Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, daripada-Ku engkau mendapat buah. PR164.2

Hubungan dengan Kristus ini, sekali dibentuk, harus dipertahankan. Kristus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Hal ini bukannya hubungan secara kebetulan saja, bukannya hubungan yang kadang-kadang saja. Ranting itu menjadi bagian dari pokok anggur yang hidup. Komunikasi kehidupan, kekuatan, dan kelebatan berbuah dari akar ke ranting-ranting tidak terhalang-halang dan tetap. Bila dipisahkan dari pokok anggur, carang itu tidak dapat hidup. Yesus mengatakan bahwa kamu tidak dapat hidup kalau terpisah dari Aku. Hidup yang telah kamu terima dari pada-Ku dapat dipelihara hanya oleh hubungan yang terus-menerus. Tanpa Aku kamu tidak dapat mengalahkan satu dosa, atau melawan satu pencobaan pun. KSZ2 319.2

“Tinggallah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu.” Tinggal di dalam Kristus berarti, terus-menerus menerima Roh-Nya, suatu kehidupan penyerahan diri sepenuhnya kepada pekerjaan-Nya. Saluran komunikasi harus terbuka terus-menerus antara manusia dan Allahnya. Sebagaimana cabang pokok anggur senantiasa menghisap sari dari pokok anggur yang hidup, demikian juga kita harus berpegang teguh pada Yesus, dan menerima dari pada-Nya oleh iman, kekuatan dan kesempurnaan tabiat-Nya sendiri. KSZ2 320.1

Selasa, 2 Juni 

Pertobatan yang Sejati


Bacalah Kisah Para Rasul 3: 18, 19. Mengapa pertobatan begitu penting dalam proses pertumbuhan rohani? Apakah yang dimaksud dengan masa “kelegaan"?

Di sinilah, dalam kesunyian padang pasir, Paulus mempunyai kesempatan yang luas untuk belajar dengan tenang sambil merenung-renungkan. Ia dengan tenang mengulangi pengalamannya yang lampau dan merasa yakin akan pekerjaan pertobatan. Ia mencari Allah dengan segenap hatinya; tidak berhenti sampai ia mengetahui dengan pasti bahwa pertobatannya diterima dan dosanya diampuni. Ia rindu akan jaminan bahwa Yesus akan beserta dengan dia dalam pelayanannya yang akan datang. Ia menghampakan jiwanya dari prasangka dan tradisi yang sampai sekarang telah membentuk jiwanya, dah menerima petunjuk dari Sumber kebenaran. Yesus berhubungan erat dengan dia dan mendirikan dia dalam percaya, mengaruniakan kepadanya akal budi dan anugerah yang limpah. KR 107.3

Bila pikiran manusia dihubungkan dengan pikiran Allah, yang terbatas dengan yang Tidak Terbatas, pengaruh pada tubuh dan pikiran dan jiwa tidak ada batasnya. Dalam hubungan itu didapati pendidikan yang paling tinggi. Itulah cara Allah sendiri untuk memperkembangkan. “ Berlakulah ramah terhadap Dia” (Ayub 22:21), adalah pekabaran-Nya kepada umat manusia. KR 107.4

Pekerjaan pengadilan pemeriksaan dan penghapusan dosa akan dilaksanakan sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kali. Oleh karena orang-orang yang sudah mati akan diadili berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab, maka tidaklah mungkin dosa-dosa manusia dihapuskan sebelum selesai pengadilan di mana kasus mereka diperiksa. Tetapi Rasul Petrus dengan jelas mengatakan bahwa dosa-dosa orang percaya akan dihapuskan “agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.” (Kisah 3:19,20). Bilamana pengadilan pemeriksaan selesai, maka Kristus pun akan datang dan upahNya ada bersama-sama dengan Dia yang akan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. KA 507.3

Pekerjaan besar pengabaran Injil tidak akan ditutup dengan manifestasi kuasa Allah yang kurang dari yang menandai pembukaan penyiarannya. Nubuatan-nubuatan yang telah digenapi pada pencurahan hujan awal pada pembukaan penyiaran Injil, sekali lagi akan digenapi pada hujan akhir pada penutupan penyiaran Injil itu. Inilah “waktu kelegaan” yang dinanti-nantikan Rasul Petrus pada waktu ia berkata, “Karena itu sadarlah dan bertobatlah supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.” (Kisah 3:19, 20). KA 644.1

Hamba-hamba Allah, dengan wajah yang bersinar dengan pengabdian kudus, akan mempercepat penyiaran pekabaran dari surga itu dari satu tempat ke tempat yang lain. Melalui ribuan suara amaran itu akan disampaikan ke seluruh dunia. Mukjizat-mukjizat akan diadakan, orang sakit disembuhkan, dan tanda-tanda ajaib akan menyertai orang-orang yang percaya. KA 644.2

Kamis, 3 Juni 

Anugerah yang Cukup


Bacalah Keluaran 34: 1-10. Kebenaran penting apakah yang Anda temukan di sini?

 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa. Keluaran 34:6, 7. UL 41.1

“Betapa bersyukurnya kita bahwa Tuhan lambat untuk marah! Sungguh suatu pemikiran yang menakjubkan, bahwa Yang Maha Kuasa membatasi kuasa-Nya yang besar! Tetapi karena Tuhan penyayang dan panjang sabar, hati manusia sering kali menunjukkan kecenderungan untuk dengan lancang menambah dosa demi dosa! ... “Karena hukuman atas perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia sepenuhnya tertuju untuk melakukan kejahatan” (Pengkhotbah 8:11). Alih-alih kesabaran Allah mengeraskan hati orang berdosa untuk terus menerus berbuat dosa, seharusnya kesabaran itu menuntunnya untuk bertekad mencari pengampunan Allah, agar catatan dosa-dosanya yang tercatat di surga dapat dihapuskan....” UL 41.2

“Setan adalah pencetus kejahatan. Ia menyimpang dari kesetiaannya kepada Tuhan. Mereka yang terus bersimpati kepadanya dalam pemberontakannya, bersama dengannya, diusir dari surga. Kebencian yang tak terpadamkan terhadap Tuhan memenuhi pikiran Setan. Ia terus-menerus menggunakan pengaruhnya untuk menghapus citra Tuhan dari umat manusia, dan menggantinya dengan citra setannya sendiri. Usahanya untuk menipu orang tua pertama kita berhasil. Diciptakan menurut gambar Tuhan, umat manusia kehilangan kepolosan mereka, menjadi pelanggar, dan sebagai makhluk yang tidak setia memulai perjalanan mereka menuju kehancuran. Setan menguasai kekuatan tindakan manusia. Melalui indra-indra, ia mempengaruhi pikiran.” UL 41.3

“Demikianlah keadaannya sejak awal dunia. Alih-alih tetap berada di bawah pengaruh Tuhan, agar ia dapat mencerminkan citra moral Penciptanya, manusia menempatkan dirinya di bawah kendali pengaruh Setan dan menjadi egois. Dengan demikian dosa menjadi kejahatan universal. Dan betapa mengerikan kejahatan dosa itu!” UL 41.4

“Karena menuruti bujukan Setan, orang tua kita yang pertama itu membuka pintu gerbang kejahatan ke dunia. Prinsip-prinsip yang dipertanyakan dari bapak dan ibu umat manusia itu mempengaruhi sebagian dari orang-orang yang bergaul dengan mereka. Kejahatan yang dimulai di Firdaus telah meluas sepanjang zaman. Meskipun Adam dan Hawa dengan sedih menceritakan kisah menyedihkan tentang Kejatuhan kepada anak-anak mereka, keluarga mereka menjadi keluarga yang terpecah. Kain memilih untuk melayani Setan, Habel untuk melayani Tuhan. Kain membunuh saudaranya Habel, karena ia tidak mau mengikuti teladannya.” UL 41.5

“Agar dunia tidak binasa karena kemerosotan moralnya, Allah melakukan pekerjaan penyelamatan-Nya yang besar, dengan mengutus Putra-Nya ke bumi ini untuk menebus umat manusia.—Manuscript 55, 27 January 1902, ‘The Long-Sufferance of God.’” UL 41.6

Kamis, 4 Juni 

Jubah yang Paling Mahal


Bacalah perumpamaan dalam Matius 22: 1-14 yang disampaikan Yesus untuk menjelaskan hal ini. Pesan-pesan apakah yang dapat Anda temukan dalam perumpamaan ini?

“Perumpamaan tentang pakaian pernikahan membuka pelajaran yang sangat penting bagi kita. Pernikahan melambangkan persatuan umat manusia dengan keilahian; pakaian pernikahan melambangkan karakter yang harus dimiliki oleh semua orang yang ingin dianggap sebagai tamu yang layak dalam pernikahan tersebut. COL 307.1

“Dalam perumpamaan ini, seperti dalam perumpamaan tentang perjamuan besar, diilustrasikan undangan Injil, penolakannya oleh bangsa Yahudi, dan seruan belas kasihan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Tetapi dari pihak mereka yang menolak undangan tersebut, perumpamaan ini memperlihatkan penghinaan yang lebih dalam dan hukuman yang lebih mengerikan. Undangan ke perjamuan itu adalah undangan raja. Undangan itu berasal dari seseorang yang diberi kekuasaan untuk memerintah. Undangan itu memberikan kehormatan yang tinggi. Namun kehormatan itu tidak dihargai. Kekuasaan raja dihina. Sementara undangan pemilik rumah dipandang dengan acuh tak acuh, undangan raja disambut dengan penghinaan dan pembunuhan. Mereka memperlakukan hamba-hambanya dengan hinaan, memperlakukan mereka dengan kejam dan membunuh mereka.” COL 307.2

“Ketika raja masuk untuk melihat para tamu, karakter asli mereka semua terungkap. Setiap tamu di pesta itu telah diberi pakaian pernikahan. Pakaian ini adalah hadiah dari raja. Dengan memakainya, para tamu menunjukkan rasa hormat mereka kepada penyelenggara pesta. Tetapi ada seorang pria yang mengenakan pakaian warga biasa. Ia menolak untuk melakukan persiapan yang diminta oleh raja. Pakaian yang disediakan untuknya dengan biaya besar itu ia tolak untuk dikenakan. Dengan demikian ia menghina tuannya. Ketika raja bertanya, “Bagaimana engkau bisa masuk ke sini tanpa mengenakan pakaian pernikahan?” ia tidak dapat menjawab. Ia telah menghukum dirinya sendiri. Kemudian raja berkata, “Ikat tangan dan kakinya, bawa dia pergi, dan lemparkan dia ke dalam kegelapan di luar.” COL 309.3

“Pemeriksaan para tamu di pesta oleh raja digambarkan sebagai suatu pekerjaan penghakiman. Para tamu di pesta Injil adalah mereka yang mengaku melayani Allah, mereka yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan. Tetapi tidak semua yang mengaku sebagai orang Kristen adalah murid sejati. Sebelum upah terakhir diberikan, harus diputuskan siapa yang layak untuk menerima warisan orang benar. Keputusan ini harus dibuat sebelum kedatangan Kristus yang kedua di awan-awan surga; karena ketika Ia datang, upah-Nya ada bersama-Nya, “untuk memberikan kepada setiap orang sesuai dengan pekerjaannya.” Wahyu 22:12. Sebelum kedatangan-Nya, maka, karakter pekerjaan setiap orang akan ditentukan, dan kepada setiap pengikut Kristus upah akan dibagi sesuai dengan perbuatannya.” COL 310.1

“Saat manusia masih tinggal di bumi, pekerjaan pemeriksaan pehukuman berlangsung di pengadilan surga. Kehidupan semua pengikut-Nya yang mengaku beriman diperiksa di hadapan Allah. Semua diperiksa sesuai dengan catatan kitab surga, dan sesuai dengan perbuatannya, nasib masing-masing ditetapkan selamanya.”

Meskipun hamba-hamba Allah berjaga-jaga dan melakukan pekerjaan mereka dengan benar, namun beberapa anggota mungkin gagal mengenakan pakaian pesta pernikahan. Pakaian, Anda tahu, adalah sesuatu yang dikenakan di luar tubuh. Oleh karena itu, pakaian tersebut melambangkan tingkah laku seperti Kristus setiap hari—kebenaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari seseorang.

Fakta bahwa pria dalam perumpamaan itu terdiam ketika ditanya, "Sahabat, bagaimana engkau bisa masuk ke sini tanpa mengenakan pakaian pesta?" menunjukkan bahwa ia bersalah karena kelalaian, bukan karena ketidaktahuan! Ia tidak punya alasan, dan ia mengetahuinya.

Jumat, 5 Juni 

Pendalaman

 “Pertobatan mencakup penyesalan atas dosa dan berpaling darinya. Kita tidak akan meninggalkan dosa kecuali kita menyadari sifat dosanya; sampai kita berpaling darinya dalam hati, tidak akan ada perubahan nyata dalam hidup.” SC 23.2

“Banyak orang yang gagal memahami hakikat pertobatan yang sejati. Banyak orang berduka karena telah berdosa dan bahkan melakukan perubahan lahiriah karena takut bahwa kesalahan mereka akan mendatangkan penderitaan bagi diri mereka sendiri. Tetapi ini bukanlah pertobatan dalam pengertian Alkitab. Mereka meratapi penderitaan, bukan dosanya. Demikianlah kesedihan Esau ketika ia melihat bahwa hak kesulungannya hilang selamanya. Bileam, yang ketakutan oleh malaikat yang berdiri di jalannya dengan pedang terhunus, mengakui kesalahannya agar ia tidak kehilangan nyawanya; tetapi tidak ada pertobatan sejati atas dosa, tidak ada perubahan tujuan, tidak ada kebencian terhadap kejahatan. Yudas Iskariot, setelah mengkhianati Tuhannya, berseru, “Aku telah berdosa karena telah mengkhianati darah yang tidak bersalah.” Matius 27:4. SC 23.3

“Pengakuan itu dipaksa keluar dari jiwanya yang bersalah oleh rasa bersalah yang mengerikan dan penantian yang menakutkan akan penghakiman. Konsekuensi yang akan menimpanya membuatnya ketakutan, tetapi tidak ada kesedihan yang mendalam dan memilukan di dalam jiwanya, karena ia telah mengkhianati Putra Allah yang tak bernoda dan menyangkal Yang Kudus dari Israel. Firaun, ketika menderita akibat penghakiman Allah, mengakui dosanya untuk menghindari hukuman lebih lanjut, tetapi kembali menentang Surga segera setelah tulah-tulah itu berhenti. Mereka semua meratapi akibat dosa, tetapi tidak menyesali dosa itu sendiri.” SC 24.1

“Tetapi ketika hati tunduk pada pengaruh Roh Allah, hati nurani akan dihidupkan, dan orang berdosa akan memahami kedalaman dan kekudusan hukum Allah yang kudus, dasar pemerintahan-Nya di surga dan di bumi. “Terang yang menerangi setiap orang yang datang ke dunia” menerangi ruang-ruang rahasia jiwa, dan hal-hal tersembunyi dalam kegelapan dinyatakan. Yohanes 1:9. Keyakinan menguasai pikiran dan hati. Orang berdosa memiliki kesadaran akan kebenaran Yehuwa dan merasakan ketakutan untuk tampil, dalam kesalahan dan kenajisan dirinya sendiri, di hadapan Penyelidik hati. Ia melihat kasih Allah, keindahan kekudusan, sukacita kemurnian; ia merindukan untuk dibersihkan dan dipulihkan ke persekutuan dengan Surga.” SC 24.2

“Doa Daud setelah kejatuhannya menggambarkan hakikat penyesalan sejati atas dosa. Pertobatannya tulus dan mendalam. Tidak ada upaya untuk meringankan rasa bersalahnya; tidak ada keinginan untuk menghindari penghakiman yang mengancam, yang mengilhami doanya. Daud melihat besarnya pelanggarannya; ia melihat kekotoran jiwanya; ia membenci dosanya. Ia berdoa bukan hanya untuk pengampunan, tetapi juga untuk kemurnian hati. Ia merindukan sukacita kekudusan—untuk dipulihkan ke dalam keselarasan dan persekutuan dengan Tuhan. Inilah bahasa jiwanya:” SC 24.3

“Di sinilah banyak orang mungkin keliru, dan karena itu mereka gagal menerima pertolongan yang ingin diberikan Kristus kepada mereka. Mereka berpikir bahwa mereka tidak dapat datang kepada Kristus kecuali mereka terlebih dahulu bertobat, dan bahwa pertobatan mempersiapkan pengampunan dosa-dosa mereka. Memang benar bahwa pertobatan mendahului pengampunan dosa; karena hanya hati yang hancur dan menyesal lah yang akan merasakan kebutuhan akan seorang Juruselamat. Tetapi haruskah orang berdosa menunggu sampai ia bertobat sebelum ia dapat datang kepada Yesus? Apakah pertobatan harus dijadikan penghalang antara orang berdosa dan Juruselamat?” SC 26.1

“Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang berdosa harus bertobat sebelum ia dapat mengindahkan undangan Kristus, “Datanglah kepada-Ku, semua yang lelah dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kamu istirahat.” Matius 11:28. Justru kebajikan yang berasal dari Kristuslah yang menuntun kepada pertobatan sejati. Petrus menjelaskan hal ini dengan jelas dalam pernyataannya kepada orang Israel ketika ia berkata, “Allah telah meninggikan Dia dengan tangan kanan-Nya sebagai Raja dan Juruselamat, untuk memberikan pertobatan kepada Israel dan pengampunan dosa.” Kisah Para Rasul 5:31. Kita tidak dapat bertobat tanpa Roh Kristus untuk membangkitkan hati nurani, sama seperti kita tidak dapat diampuni tanpa Kristus.” SC 26.2