Menuju Kekekalan

Pelajaran 13, Triwulan 2, 20–26 Juni 2026

img rest_in_christ
Bagikan Pelajaran ini
Download PDF

Sabat Sore, 20 Juni

Ayat Hafalan:

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. ”KJV - 1 Yohanes 3:2


“Tidak lama kemudian kami mendengar suara Allah [Suara Allah terdengar berulang kali selama masa yang segera mendahului kedatangan Kristus kembali. Lihat Kemenangan Akhir, 632, 633, 636, 638, 640, 641.] seperti bunyi air bah yang besar, yang memberitahukan kepada kami hari dan jam kedatangan Yesus. Orang-orang kudus yang hidup, yang berjumlah 144.000 orang, mengetahui dan memahami suara itu, sedangkan orang-orang fasik mengira bahwa itu adalah bunyi guntur dan gempa bumi.”—Tulisan-tulisan Permulaan, 15 (1851). LDE 272.2

“Ketika Allah menyatakan hari dan jam kedatangan Yesus, serta menyampaikan perjanjian kekal kepada umat-Nya, Ia mengucapkan satu kalimat lalu berhenti sejenak, sementara kata-kata itu bergema ke seluruh bumi. Israel milik Allah berdiri dengan mata tertuju ke atas, mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut Yehova dan bergema ke seluruh bumi seperti dentuman guruh yang sangat dahsyat. Suasana itu sangat khidmat. Pada akhir setiap kalimat, orang-orang kudus berseru, “Kemuliaan! Haleluya!” Wajah mereka bercahaya oleh kemuliaan Allah, dan mereka bersinar dengan kemuliaan seperti wajah Musa ketika turun dari Sinai. Orang-orang fasik tidak dapat memandang mereka karena kemuliaan itu. Dan ketika berkat yang tidak berkesudahan diucapkan atas mereka yang menghormati Allah dengan memelihara Sabat-Nya tetap kudus, terdengarlah sorak kemenangan yang besar atas binatang itu dan atas patungnya.” Tulisan Tulisan Permulaan, 285, 286 (1858). LDE 272.3

“Saya sama sekali tidak mengetahui waktu yang dinyatakan oleh suara Allah itu. Saya mendengar jamnya diumumkan, tetapi setelah keluar dari penglihatan, saya tidak mengingat lagi jam tersebut. Pemandangan-pemandangan yang begitu menggetarkan dan khidmat telah diperlihatkan kepada saya, yang tidak dapat digambarkan dengan bahasa manusia. Semuanya merupakan kenyataan yang hidup bagi saya, sebab segera setelah pemandangan itu tampaklah awan putih yang besar, dan di atasnya duduk Anak Manusia.”— Selected Messages, Book 1, hlm. 76 (1888) LDE 273.1

Minggu, 21 Juni

Hidup Hari Ini


Badai akan datang dan kita harus bersedia menghadapi keganasannya dengan bertobat kepada Allah dan iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan akan bangkit mengguncangkan dunia ini dengan dahsyat. Kita akan menyaksikan kesusahan di mana-mana. Ribuan kapal akan terlempar ke dalam laut. Para pelaut akan tenggelam, dan jutaan nyawa manusia akan dikorbankan. Kebakaran akan terjadi secara tidak diduga-duga dan tidak ada upaya manusia yang sanggup memadamkannya. Istana-istana dunia akan disapu bersih oleh api yang ganas. Kecelakaan kereta api akan makin sering terjadi. Kekacauan, tabrakan, dan kematian secara mendadak akan terjadi dalam lalu lintas perjalanan yang sangat luas. Kesudahan sudah dekat, pintu kasihan segera akan tertutup. Oh, marilah kita mencari Allah selagi Dia masih dapat ditemukan, serukanlah nama-Nya selagi Dia dekat!— MYP 89, 90 (1890). LDE 24.1

Dalam babak terakhir sejarah dunia peperangan akan berkecamuk. Akan terjadi wabah, bencana dan kelaparan. Air dari kedalaman akan melimpah-ruah. Harta dan nyawa akan dimusnahkan oleh api dan banjir. Kita harus bersiap memasuki istana yang telah disediakan Kristus bagi mereka yang mengasihi-Nya.—Mar 174 (1897). LDE 24.2

Mazmur 80 merupakan sebuah seruan yang indah kepada Allah. Bacalah seluruh pasal, dan renungkan secara khusus ayat 1-3, 14-17, 18, dan 19, lalu gantilah kata “kami” dengan "saya". Terlepas dari waktu, tempat, dan konteks mazmur ini, dalam hal apakah Anda secara pribadi dapat menghubungkannya dengan diri Anda?

“Kebanggaan Asyur akan diturunkan dan tongkat kerajaan Mesir akan lewat” (Zakharia 10:11). Hal ini benar bukan saja bagi bangsa-bangsa yang menampilkan diri mereka melawan Allah pada zaman dahulu, tetapi juga bagi bangsa-bangsa pada masa kini yang tidak mau menggenapi rencana Ilahi. Pada hari ganjaran terakhir, bilamana Hakim seisi bumi yang benar akan “mengayak bangsa-bangsa,” (Yesaya 30:28), dan mereka yang telah memelihara kebenaran akan diizinkan untuk masuk kota Allah, maka lonceng-lonceng surga akan berbunyi dengan nyanyian kemenangan orang-orang yang ditebus. “Kamu akan menyanyikan suatu nyanyian,” kata nabi itu, “seperti pada waktu malam ketika orang menguduskan diri untuk perayaan, dan kamu akan bersuka hati seperti pada waktu orang berjalan diiringi suling hendak naik ke gunung Tuhan, ke Gunung Batu Israel. Dan Tuhan akan memperdengarkan suara-Nya yang mulia. . . . Sebab Asyur akan hancur oleh suara Tuhan, pada waktu ia memukul mereka dengan gada. Sebab setiap pukulan dengan tongkat penghajar yang ditimpakan Tuhan ke atasnya, akan diiringi rebana dan kecapi.” (Yesaya 30:29-32). PK 366.3

Senin, 22 Juni

Akhirnya, Muka dengan Muka


Read 2 Corinthians 4:7–12. In this passage, what reveals how Paul was able to endure the trials he faced? What seems to be the focus of his life?

Tidak lama kemudian tampaklah di sebelah timur segumpal awan gelap, kira-kira setengah dari besarnya kepalan tangan manusia. Itulah awan yang menyelimuti Juruselamat yang dari kejauhan tampak terselubung dalam kegelapan. Umat Allah mengenal bahwa inilah tanda Anak Manusia itu. Dengan keheningan mencekam mereka menatap ke arahnya sementara itu makin mendekat ke bumi, menjadi lebih terang dan makin mulia, sampai menjadi gumpalan awan putih yang besar, yang bagian dasarnya berupa satu kemuliaan yang bernyala-nyala bagai api, dan di atasnya ada pelangi perjanjian. Yesus bergerak maju sebagai seorang pemenang yang perkasa. . . . LDE 274.1

Diiringi nyanyian berirama surgawi malaikat-malaikat kudus yang banyaknya tak terhitung itu mengawal Dia dalam perjalanan-Nya. Langit tampak dipenuhi dengan sosok-sosok gemerlapan — “sepuluh ribu kali sepuluh ribu dan beribu-ribu.” Tidak ada pena manusia dapat melukiskan pemandangan tersebut, tidak ada pikiran yang fana mampu membayangkan kemuliaannya. . . . LDE 274.2

Raja atas segala raja itu turun dengan gumpalan awan, terbungkus dalam api yang bernyala-nyala. Langit tergulung seperti gulungan kertas, bumi bergetar di hadapan-Nya, dan tiap gunung dan pulau berpindah dari tempatnya.— The Great Controversy, 640-642 (1911).” LDE 274.3 

Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Bacalah 1 Tesalonika 4: 17. Pada akhirnya, apakah yang Paulus tulis dalam Filipi 2: 10-11 akan bergema di seluruh alam semesta.

Mereka yang bertindak paling kejam dalam penolakan dan penyaliban Kristus bangkit untuk melihat Dia sebagaimana Ia ada, dan mereka yang telah menolak Kristus bangkit menyaksikan orang saleh dimuliakan, dan pada waktu itulah orang-orang saleh diubahkan dalam sesaat, dalam sekejap mata, dan diangkat untuk menemui Tuhan mereka di angkasa. Orang-orang yang memakaikan jubah ungu kepada-Nya dan memahkotai-Nya dengan duri pada kepala-Nya, dan mereka yang memukulkan paku-paku pada tangan dan kaki-Nya, memandang kepada-Nya dan menangis. —Manuscript Releases 9:252 (1886). LDE 275.1

Mereka teringat bagaimana kasih-Nya itu telah diremehkan dan belas kasihan-Nya dilecehkan. Mereka teringat bagaimana Barabas, seorang pembunuh dan perampok, telah dipilih menggantikan-Nya, bagaimana Yesus telah dimahkotai dengan duri lalu disiksa dan disalibkan, bagaimana pada saat-saat penderitaan-Nya di kayu salib para imam dan penguasa mengejek-Nya dengan berkata: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya” (Markus 15:31,32). Segala hinaan dan ejekan yang dilontarkan kepada Kristus, semua penderitaan yang didatangkan kepada murid-murid-Nya, akan segar dalam ingatan mereka seperti pada waktu perbuatan-perbuatan Iblis itu dilakukan. LDE 275.2

Suara yang mereka sering dengar dalam permohonan dan bujukan akan kembali mendengung di telinga mereka. Setiap nada permintaan yang lemah lembut akan bergetar jelas dalam telinga mereka seperti ketika Juruselamat itu berbicara di bait suci maupun di pinggir jalan. Lalu mereka yang menikam Dia akan berseru kepada batu-batu gunung supaya menimpa mereka dan menudungi mereka dari wajah Dia yang duduk di atas takhta itu dan dari murka Anak Domba itu.— Surat 131, 1900. LDE 275.3

Orang-orang mati yang mulia itu, mulai dari Adam sampai kepada orang saleh terakhir yang mati, akan mendengar suara Putra Allah itu dan keluar dari kuburnya kepada hidup yang kekal.— DA 606 (1898) LDE 276.3

Selasa, 23 Juni

Mempelai Perempuan


Bacalah Wahyu 21: 9-11. Analogi apakah yang diberikan, dan mengapa menurut Anda itu digunakan?

Dalam musim panas dan musim gugur tahun 1844, pengumuman “Mempelai datang! Songsonglah Dia!” telah diberikan. Dua golongan seperti yang dilambangkan oleh anak dara yang bijaksana dan yang bodoh itu telah terjadi—satu golongan yang mengharap dengan sukacita kedatangan Tuhan dan yang dengan tekun menyediakan dirinya untuk bertemu dengan Tuhan; sementara segolongan lain yang dipengaruhi oleh ketakutan, dan bertindak hanya atas hawa nafsu, telah puas dengan teori kebenaran, tetapi miskin karunia Allah. Dalam perumpamaan itu disebutkan, bahwa pada waktu mempelai datang, “mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan Dia ke ruang perjamuan kawin.” Kedatangan mempelai laki-laki, yang ditampilkan di sini, terjadi sebelum pernikahan. Pernikahan melambangkan penerimaan akan Kristus kerajaan-Nya. Kota suci, Yerusalem yang baru, yaitu ibu kota dan sebagai cerminan kerajaan itu, disebut “mempelai perempuan, isteri Anak Domba itu.” Malaikat itu berkata kepada Yohanes, “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.” “Lalu di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung,” kata nabi itu, “dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari Surga, dari Allah.” (Wahyu 21:9, 10). Jelaslah, mempelai perempuan melambangkan kota suci itu, dan anak-anak dara yang pergi menemui mempelai laki-laki adalah lambang jemaat. Dalam buku Wahyu, umat Tuhan dikatakan adalah tamu pada perjamuan kawin. (Wahyu 19:9). Jika umat Tuhan adalah tamu, tidak mungkin juga melambangkan mempelai wanita Kristus, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Daniel, akan menerima dari Yang Lanjut Usia-Nya, “kekuasaan dan kemuliaan, dan kerajaan.” Ia akan menerima Yerusalem Baru, ibu kota kerajaan-Nya, “yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” (Daniel 7:14; Wahyu 21:2). Setelah menerima kerajaan, Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya, sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuan, untuk menebus umat-Nya, yang akan “duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub” di meja-Nya dalam kerajaan-Nya (Matius 8:11; Lukas 22:30), untuk turut ambil bagian dalam perjamuan kawin Anak Domba. KA 446.3

Perumpamaan tentang sepuluh gadis tidak dapat menjamin keselamatan para gadis itu hingga kedatangan Tuhan, melainkan hanya hingga beberapa waktu sebelum penutupan akhir masa percobaan, sebab, perhatikanlah dengan lebih saksama apa yang dikatakan Kitab Suci: “Dan mereka yang siap masuk bersama-Nya ke dalam pesta perkawinan; lalu pintu itu ditutup.” (Mat. 25:10.) Kata-kata “ke pesta perkawinan” menunjukkan bahwa panggilan telah disampaikan dan pintu ditutup sebelum pesta perkawinan berlangsung, dan karena Kristus menikah atau dimahkotai pada akhir masa percobaan manusia (lihat The Great Controversy, 426, 427), dan sebelum tujuh tulah terakhir dicurahkan, hal ini membuktikan bahwa panggilan, “Lihatlah, Mempelai Laki-laki datang,” bukanlah kedatangan Kristus di awan-awan ketika Ia menerima umat-Nya “kepada diri-Nya” (Yoh. 14:3), melainkan kedatangan-Nya ke bait suci untuk penghakiman atas orang-orang yang masih hidup.

Sebagaimana lima gadis yang bijaksana adalah 144.000 orang (Why. 14:4), kita melihat bahwa seruan agar mereka bangun sama dengan Yes. 52:1: yang menjadikan waktu seruan itu sama dengan “waktu pemeteraian 144.000 orang” (3 T 266), dan pertemuan mereka dengan Mempelai Laki-laki sama dengan Yeh. 9. Kemudian setelah masa kasihan berakhir dan setelah pencurahan malapetaka, Dia akan datang dan mengambil milik-Nya, bukan untuk menyaksikan perkawinan itu, melainkan untuk menikmati perjamuan kawin setelah upacara dilaksanakan.

Rabu, 24 Juni

Mengikuti Anak Domba


Berkat-berkat lain apakah yang mungkin dapat kita nantikan dalam kekekalan? Bacalah Yesaya 25: 8, Wahyu 7: 17, dan Wahyu 21: 4.

“Salah satu ciri yang menonjol dalam penggambaran mereka yang 144.000 itu adalah bahwa di mulut mereka tidak ditemukan tipu daya. Tuhan telah berfirman, “Berbahagialah orang ... yang rohnya tidak ada tipu daya.” Mereka mengaku sebagai anak-anak Allah, dan digambarkan mengikuti Anak Domba ke mana pun Ia pergi. Mereka digambarkan di hadapan kita berdiri di Gunung Sion, mengenakan perlengkapan untuk pelayanan kudus, berpakaian linen putih, yang merupakan kebenaran orang-orang kudus. Tetapi semua orang yang mengikuti Anak Domba di surga terlebih dahulu akan mengikuti Dia di bumi, dengan ketaatan yang penuh kepercayaan, kasih sayang, dan rela, mengikuti Dia bukan dengan gelisah dan sembarangan, tetapi dengan keyakinan dan kejujuran, seperti kawanan domba mengikuti gembalanya....” 3SM 424.2

Di atas laut kristal yang di depan takhta itu, laut kaca yang bening itu seakan-akan bercampur dengan api, — begitu berkilau-kilauan dengan kemuliaan Allah — berhimpunlah rombongan yang “telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya.” (Wahyu 15:2). 144,000 orang yang ditebus dari antara manusia berdiri bersama Anak Domba di Bukit Sion memegang “kecapi Allah”. Dan kemudian terdengarlah, bagaikan desau air bah, dan bagaikan deru guruh yang dahsyat, “bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.” (Wahyu 15:1-2). Dan mereka menyanyikan “nyanyian yang baru” di hadapan takhta itu, suatu nyanyian yang tak seorang pun dapat mempelajarinya selain dari yang 144,000 orang itu. Nyanyian itu ialah nyanyian Musa dan Anak Domba,—suatu nyanyian kelepasan. Tak seorang pun, kecuali yang 144,000 orang itu, dapat mempelajari nyanyian itu, karena nyanyian itu adalah nyanyian pengalaman mereka—suatu pengalaman yang tidak pernah dialami oleh rombongan lain. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. “Mereka ini, setelah diubahkan dari dunia ini, dari antara yang hidup, diperhitungkan sebagai “korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.” (Wahyu 14:4). “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar” (Wahyu 7:14), mereka telah melewati masa kesesakan seperti yang belum pernah terjadi sejak adanya suatu bangsa. Mereka telah menanggung penderitaan masa kesesakan Yakub. Mereka telah berdiri tanpa pengantara selama pelaksanaan terakhir penghakiman Allah. Tetapi mereka telah dilepaskan, karena telah “mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.” “Di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta, mereka tidak bercela” di hadapan Allah. “Karena mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang dan malam di bait suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.” (Wahyu 7:14-15). Mereka telah melihat dunia ini dilanda kelaparan dan bala sampar, matahari berkuasa menghanguskan manusia dengan panasnya yang hebat, dan mereka sendiri telah menanggung penderitaan, kelaparan dan dahaga. Akan tetapi “mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” (Wahyu 7:16-17). GC 648.3

Kamis, 25 Juni

Marilah!


Bacalah ayat-ayat berikut dan perhatikan undangan-Nya kepada Anda untuk datang kepada-Nya: Matius 11: 28-30, Yesaya 55: 1-3, Yohanes 6: 44.

“Penebus dunia datang bukan hanya untuk menjadi korban penebusan dosa, tetapi juga untuk menjadi teladan bagi manusia dalam segala hal, karakter manusia yang kudus. Ia adalah seorang Guru, pendidik yang belum pernah dilihat atau didengar dunia sebelumnya. Ia berbicara sebagai seseorang yang memiliki otoritas, namun Ia mengundang kepercayaan dari semua orang. “Datanglah kepada-Ku, semua yang lelah dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kamu istirahat. Pikullah kuk-Ku dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan mendapat ketenangan jiwa. Karena kuk-Ku mudah dan beban-Ku ringan.” (Matius 11:28-30) 3SM 138.3

“Anak Tunggal Allah yang Mahakuasa, melalui firman-Nya dan teladan-Nya, telah meninggalkan kita pola yang jelas yang harus kita tiru. Melalui firman-Nya, Ia telah mendidik kita untuk taat kepada Allah, dan melalui praktik-Nya sendiri, Ia telah menunjukkan kepada kita bagaimana kita dapat taat kepada Allah.” 3SM 138.4

“Kristus tidak hanya memberikan aturan-aturan yang jelas tentang bagaimana kita dapat menjadi anak-anak yang taat, tetapi Ia juga menunjukkan kepada kita dalam kehidupan dan karakter-Nya sendiri bagaimana melakukan hal-hal yang benar dan berkenan di hadapan Allah, sehingga tidak ada alasan mengapa kita tidak melakukan hal-hal yang menyenangkan di mata-Nya.” 3SM 139.1

“Ketidaktaatan telah menutup pintu bagi sejumlah besar pengetahuan yang seharusnya dapat diperoleh dari Firman Tuhan. Pemahaman berarti ketaatan kepada perintah-perintah Tuhan. Seandainya pria dan wanita taat, mereka akan memahami rencana pemerintahan Tuhan. Dunia surgawi akan membuka ruang-ruang kasih karunia dan kemuliaannya untuk dieksplorasi. Manusia akan sama sekali berbeda dari sekarang, dalam bentuk, ucapan, dan nyanyian; karena dengan menjelajahi tambang kebenaran, mereka akan dimuliakan. Misteri penebusan, inkarnasi Kristus, pengorbanan penebusan-Nya, tidak akan, seperti sekarang, samar-samar dalam pikiran kita. Hal-hal itu tidak hanya akan lebih dipahami, tetapi juga akan lebih dihargai secara keseluruhan.” BLJ 127.3

“Di kekekalan kita akan mempelajari apa yang, seandainya kita telah menerima pencerahan yang mungkin kita peroleh di sini, akan membuka pemahaman kita. Tema-tema penebusan akan memenuhi hati, pikiran, dan lidah orang-orang yang ditebus sepanjang zaman. Mereka akan memahami kebenaran yang ingin Kristus ungkapkan kepada murid-murid-Nya, tetapi yang tidak mereka miliki iman untuk memahaminya. Selama-lamanya, pandangan-pandangan baru tentang kesempurnaan dan kemuliaan Kristus akan muncul.” The Review and Herald, July 3, 1900.” BLJ 127.4

Jumat, 26 Juni

Pendalaman

Pada hari itu umat tebusan akan bercahaya dengan kemuliaan Bapa dan Putra. Malaikat-malaikat, sambil memetik kecapi emas, akan menyambut Raja dan tanda-tanda kemenangan-Nya — yaitu mereka yang sudah dibasuh dan dijadikan putih dalam darah Anak Domba. Sebuah nyanyian kemenangan akan berkumandang, memenuhi segenap surga. Kristus sudah menang. Ia memasuki istana surga, diiringi umat tebusan-Nya, saksi-saksi bahwa misi-Nya yang penuh derita dan pengorbanan tidaklah sia-sia.— 9T 285, 286 (1909) LDE 281.1

Dengan kasih yang tak dapat dituturkan, Yesus menyambut umat-Nya yang setia kepada kesukaan Tuhan mereka. Kesukaan Juruselamat ialah melihat jiwa-jiwa yang telah diselamatkan melalui kehinaan dan penderitaan-Nya berada di dalam kerajaan yang mulia.— GC 647 (1911). LDE 281.2

Sebagai hasil dari pekerjaan-Nya Kristus akan melihat upahnya. Di dalam rombongan besar yang tak seorang pun dapat menghitungnya, yang dibawa “dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya” (Yudas 24), Ia yang darah-Nya telah menebus kita dan hidup-Nya sudah mengajarkan kita yang “sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas” (Yesaya 53:11).— Ed 309 (1903). LDE 281.3

Saya melihat malaikat yang sangat banyak jumlahnya membawa mahkota-mahkota kemuliaan dari kota itu — satu mahkota untuk setiap orang saleh, dengan namanya tertulis pada mahkota itu. Begitu Yesus meminta mahkota-mahkota itu para malaikat mempersembahkannya kepada-Nya, dan dengan tangan kanan-Nya sendiri Yesus yang kekasih itu meletakkan mahkota-mahkota itu di kepala orang-orang saleh.— EW 288 (1858). LDE 281.4

Di laut kaca itu 144.000 orang itu berdiri dalam bentuk empat persegi yang sempurna. Sebagian dari mereka mempunyai mahkota yang sangat gemilang, yang lainnya tidak begitu cemerlang. Sebagian mahkota-mahkota itu tampak berat dengan bintang-bintang, sedangkan yang lainnya hanya terdapat sedikit bintang. Semuanya benar-benar puas dengan mahkota-mahkota mereka.— EW 16, 17 (1851). LDE 282.1

Mahkota kehidupan itu akan gemerlapan ataupun redup, akan ditaburi banyak bintang, atau hanya diterangi sedikit permata, itu sesuai dengan tindakan kita sendiri — 6BC 1105 (1895). LDE 282.2

Tidak akan ada seorang pun yang diselamatkan di surga yang mahkotanya tidak berbintang. Kalau engkau masuk, akan ada beberapa jiwa di istana yang mulia itu yang telah menemukan jalan masuk ke sana melalui usahamu. — ST, 6 Juni 1892. LDE 282.3

Sebelum memasuki kota Allah, Juruselamat menganugerahkan kepada para pengikut-Nya lambang-lambang kemenangan, dan menyematkan kepada mereka lencana kerajaan mereka. Barisan yang berkilau-kilauan itu diatur dalam bentuk empat persegi yang sempurna di sekeliling Raja mereka. . . . Ke atas kepala para pemenang itu Yesus dengan tangan kanan-Nya sendiri meletakkan mahkota kemuliaan. . . . Pada setiap tangan disematkan daun palem kemenangan dan kecapi yang berkilauan. Kemudian, begitu malaikat-malaikat yang memimpin memetik nada, setiap tangan memetik tali-tali kecapi dengan sentuhan yang terampil, menghasilkan musik nan indah dengan alunan yang marak dan merdu. . . .Di depan umat tebusan itu terdapat kota suci. Yesus membuka lebar-lebar gerbang-gerbang mutiaranya, dan bangsa yang sudah memelihara kebenaran itu memasukinya.— GC 645, 646 (1911). LDE 282.4