
Ayat Hafalan: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” KJV - Amsal 15:1
“Sesudah kecurahan Roh Kudus, murid-murid keluar untuk memberitakan Juruselamat yang hidup, keinginan mereka satu-satunya ialah keselamatan jiwa-jiwa. Mereka bergembira karena manisnya perhubungan dengan orang-orang suci. Mereka lemah lembut, memikirkan kepentingan orang lain, menyangkal diri sendiri, rela berkorban untuk kebenaran. Dalam pergaulan mereka setiap hari satu dengan yang lain, mereka menyatakan kasih yang telah diperintahkan oleh Kristus ke atas mereka. Dengan perkataan dan perbuatan yang tidak mengasihi diri sendiri mereka berusaha menyalakan kasih ini dalam hati orang-orang lain.” AA 547.3
“Tetapi berangsur-angsur suatu perubahan datang. Orang-orang percaya mulai melihat kekurangan-kekurangan pada orang-orang lain. Memikirkan akan kesalahan-kesalahan, memberikan tempat kepada kritik yang tidak enak, mereka kehilangan pandangan akan Juruselamat dan kasih-Nya. Mereka menjadi lebih ketat dengan upacara-upacara secara lahiriah, lebih teliti dengan teori daripada kebiasaan iman. Dalam semangat mereka untuk menghukum orang-orang lain, mereka lupa akan kesalahan-kesalahan mereka sendiri. Mereka kehilangan kasih persaudaraan yang diperintahkan oleh Kristus, dan lebih menyedihkan dari semuanya, mereka tidak sadar akan kekurangan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa kebahagiaan dan kesukaan sedang keluar dari kehidupan mereka, dan setelah menutup kasih Allah dari hati mereka, tidak lama kemudian mereka akan berjalan dalam kegelapan.” AA 548.1
“Bukanlah perlawanan dunia yang paling membahayakan sidang Kristus. Kejahatan yang dipelihara di dalam hati orang-orang percaya yang mengerjakan rencana mereka yang paling menyedihkan dan dengan pasti memperlambat pekerjaan Allah. Tidak ada jalan yang lebih pasti yang melemahkan kerohanian lebih dari pada menghargai kecemburuan, kecurigaan, mencari-cari kesalahan, dan sangka-sangka jahat. Sebaliknya, saksi yang paling kuat bahwa Allah telah mengirim Anak-Nya ke dalam dunia adalah adanya keselarasan dan persatuan di antara manusia yang bermacam-macam pembawaannya yang membentuk sidang-Nya. Adalah hak pengikut-pengikut Kristus untuk membawa kesaksian ini. Tetapi supaya melakukan hal ini, mereka harus menempatkan diri mereka sendiri di bawah perintah Kristus. Tabiat-tabiat mereka harus disesuaikan dengan tabiat-Nya dan kemauan mereka dengan kemauan-Nya.” AA 549.1
Bacalah Yosua 22: 1-8. Apakah yang disampaikan ayat-ayat ini kepada kita tentang komitmen suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye?
Dua dari suku-suku bangsa Israel, Gad dan Ruben, dengan setengah dari suku Manasye, telah menerima warisan mereka sebelum menyeberangi sungai Yordan. Kepada satu bangsa gembala, dataran tinggi yang luas dan hutan-hutan Gilead dan Bazan yang subur, yang menyediakan padang rumput bagi kawanan kambing dan domba mereka, telah memberikan satu penarikan yang tidak didapati di Kanaan sendiri, dan kedua setengah suku itu, yang menghendaki untuk bermukim di sana, telah berjanji akan menyediakan bagian dari tentara mereka untuk menemani saudara-saudara mereka menyeberangi sungai Yordan, dan ikut berperang sampai mereka juga dapat mewarisi pusaka mereka. Tanggung jawab mereka ini telah dilaksanakan dengan setia. Pada waktu kesepuluh suku bangsa itu memasuki Kanaan, empat puluh ribu dari “bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu, . . . menyeberang di hadapan TUHAN ke dataran Yerikho untuk berperang.” Yosua 4:12,13. Selama bertahun-tahun mereka telah berperang dengan beraninya bersama dengan saudara-saudaranya. Sekarang waktunya telah tiba bagi mereka untuk kembali ke tanah pusaka mereka. Sebagaimana mereka telah bergabung bersama dengan saudara-saudaranya dalam peperangan, demikian pula mereka pun ikut mengambil bagian menerima hasil rampasan perang; dan mereka telah kembali “dengan banyak harta, . . . dengan amat banyak binatang, dengan emas perak, dan dengan tembaga, dan besi dan dengan amat banyak pakaian,” dan semuanya ini harus mereka bagi-bagikan dengan orang-orang yang tinggal bersama dengan keluarga dan kawanan domba mereka. PP 517.4
Mereka sekarang harus tinggal di satu tempat yang jauh dari Bait Suci, dan adalah dengan hati yang berat, di mana Yosua telah menyaksikan keberangkatan mereka, menyadari betapa besarnya pencobaan, di dalam kehidupan mereka yang terpencil dan mengembara itu, untuk jatuh ke dalam adat kebiasaan bangsa-bangsa kafir yang tinggal di sekeliling mereka. PP 518.1
Bacalah kisah tentang suku-suku yang pulang dalam Yosua 22: 9-20. Tuduhan apa yang dilontarkan oleh suku-suku Yordan Barat terhadap suku-suku Yordan Timur? Sejauh mana tuduhan-tuduhan ini beralasan?
Sementara pikiran Yosua dan para pemimpin lainnya masih diliputi oleh firasat yang tidak baik, satu berita yang aneh telah tiba kepada mereka. Di tepi sungai Yordan, dekat tempat penyerangan Israel yang ajaib itu, kedua setengah suku bangsa itu telah mendirikan satu mezbah yang besar, sama seperti mezbah korban bakaran yang ada di Silo. Hukum Allah telah melarang, dengan ancaman hukuman mati, didirikannya perbaktian yang lain di samping perbaktian yang ada di dalam Bait Suci. Jikalau itulah tujuan mezbah ini, itu akan, jikalau dibiarkan begitu saja, menuntun orang banyak menyimpang dari iman yang benar. PP 518.2
Para wakil orang banyak itu berkumpul di Silo, dan di dalam luapan amarah dan kegusaran mereka, telah bermaksud untuk segera berperang dengan orang-orang yang telah melanggar itu. Namun demikian, melalui pengaruh mereka yang lebih berhati-hati, telah diambil keputusan untuk pertama-tama mengirimkan utusan untuk memperoleh keterangan dari kedua setengah suku itu atas tindakan mereka. Sepuluh pemimpin, satu dari masing-masing suku, telah dipilih. Sebagai pimpinan mereka adalah Pinehas, yang terkenal oleh keberaniannya dalam peristiwa di Peor. PP 518.3
Kedua setengah suku bangsa itu telah bersalah dalam mengadakan, tanpa memberikan keterangan, satu tindakan yang terbuka kepada rasa curiga yang besar itu. Para utusan itu, dengan menyangka bahwa saudara-saudara mereka bersalah, menghadapi mereka dengan satu tempelakan yang keras. Mereka menuduh saudara-saudaranya itu telah memberontak kepada Tuhan, dan menyuruh mereka mengingat kembali akan hukuman yang telah dijatuhkan ke atas Israel karena telah menggabungkan diri dengan Baal-Peor. Atas nama segenap bangsa Israel, Pinehas mengatakan kepada bani Gad dan Ruben bahwa jikalau mereka enggan tinggal di tanah itu tanpa satu mezbah untuk korban, maka mereka dipersilahkan mengambil bagian di dalam pusaka serta kesempatan-kesempatan bersama dengan saudara-saudara mereka di seberang sungai. PP 518.4
Bacalah Yosua 22: 13-15 sekali lagi, tetapi sekarang dalam terang Bilangan 25. Mengapa orang Israel memilih Pinehas sebagai kepala delegasi kepada dua setengah suku?
Sementara mereka sedang menangis di hadapan Allah, di pintu Kemah Pertemuan, sementara bala sampar itu masih merajalela dan tua-tua Israel sedang melaksanakan tugas maut mereka, Zimri, salah seorang dari orang-orang bangsawan Israel, dengan beraninya datang ke dalam perkemahan, dengan ditemani oleh seorang perempuan sundal Midian, putri seorang “kepala kaum di Midian” yang ia bawa ke tendanya. Belum pernah ada satu tindakan kejahatan yang seberani dan senekat seperti ini. Mabuk oleh air anggur, Zimri menyatakan “dosanya seperti Sodom” dan ia bermegah-megah dalam perbuatan kehinaannya itu. Imam-imam dan pemimpin-pemimpin bersujud dengan rasa sedih dan penyesalan, menangis “di depan pintu Kemah Pertemuan” sambil memohon kepada Tuhan untuk membiarkan umat-Nya hidup dan jangan membiarkan milik-Nya itu dinista oleh bangsa lain, pada waktu para pemuka Israel ini berbuat dosanya di hadapan jemaah itu, seolah olah menentang murka Allah dan mengolok-olok hakim-hakim bangsa itu. Pinehas, anak Eliazar imam besar itu, bangkit dari antara perhimpunan itu, dan sambil membawa sebatang tombak, “mengejar orang Israel itu sampai ke ruang tengah,” dan kemudian membinasakan keduanya. Dengan cara demikian tulah itu pun dihentikan, sementara imam yang telah melaksanakan hukuman Ilahi itu telah dihormati di hadapan segenap bangsa Israel, dan keimamatan pun telah diberikan kepadanya dan kepada rumah tangganya untuk selama-lamanya. PP 455.2
Pinehas “telah menyurutkan murka-Ku dari pada orang Israel,” adalah pekabaran Ilahi; “Sebab itu katakanlah: Sesungguhnya Aku berikan kepadanya perjanjian keselamatan yang dari pada-Ku untuk menjadi perjanjian mengenai keimaman selama-lamanya bagi dia dan bagi keturunannya, karena ia telah begitu giat membela Allahnya dan telah mengadakan pendamaian bagi orang Israel.” PP 455.3
Bacalah Yosua 22: 21-29 dalam terang Amsal 15: 1. Apakah yang dapat kita pelajari dari jawaban suku-suku di Timur?
Sebagai jawabnya, para tertuduh itu menerangkan bahwa mezbah mereka itu bukanlah dimaksudkan untuk korban, melainkan hanya sekadar sebagai satu saksi bahwa, sekalipun mereka dipisahkan oleh sungai itu, mereka mempunyai iman yang sama seperti saudara-saudaranya di Kanaan. Mereka merasa takut bahwa pada masa mendatang anak-anak mereka akan dipisahkan dari Bait Suci, sebagai orang-orang yang tidak mempunyai bagian bersama Israel. Kemudian mezbah ini, yang didirikan sesuai dengan pola mezbah Tuhan di Silo, akan menjadi satu saksi bahwa pembangunan-pembangunannya adalah juga orang orang yang berbakti kepada Allah yang hidup. PP 519.1
Dengan kesukaan yang besar para utusan itu menerima keterangan ini, dan dengan segera mereka membawa kembali berita kepada mereka yang telah mengutus mereka. Segala pemikiran untuk mengadakan peperangan telah dibuangkan, dan orang banyak itu bergabung bersama-sama dalam kegembiraan, dan menaikkan puji-pujian kepada Allah. PP 519.2
Bani Gad dan Ruben sekarang telah mengukirkan di atas mezbah mereka satu tulisan yang menjelaskan maksud dari didirikannya mezbah itu; dan mereka berkata, “Inilah saksi antara kita, bahwa TUHAN itulah Allah.” Dengan demikian mereka berusaha untuk mencegah timbulnya salah pengertian di kemudian hari, dan membuangkan apa yang akan dapat menjadi penyebab pencobaan. PP 519.3
“Betapa seringnya kesulitan yang sungguh-sungguh timbul hanya oleh karena salah pengertian, sekalipun di antara mereka yang didorong oleh motif-motif yang baik; dan tanpa adanya kesopansantunan serta kesabaran, betapa gawat dan mematikan akibat-akibat yang mengikutinya. Kesepuluh suku itu mengingat bagaimana, di dalam masalah Akhan, Allah telah menempelak kekurangwaspadaan untuk mendapati dosa yang ada di antara mereka. Sekarang mereka bertekad untuk bertindak cepat dan sungguh-sungguh; tetapi di dalam berusaha menjauhkan diri dari dosa yang pertama, mereka telah pergi kepada satu keadaan keterlaluan lainnya. Gantinya dengan sopan menanyakan fakta-fakta dari peristiwa itu, mereka telah datang kepada saudara-saudara mereka itu dengan kritik serta kecaman-kecaman yang pedas. Kalau saja orang-orang dari suku Gad dan Ruben telah bertindak dalam roh yang sama, maka peperangan akan menjadi akibatnya. Sementara di satu pihak adalah penting untuk menjauhkan diri dari kelalaian dalam menghadapi dosa, adalah sama pentingnya di pihak lain untuk menjauhkan diri dari sikap curiga yang tidak beralasan dan tindakan untuk mengecam dengan keras. PP 519.4
Bacalah Yosua 22: 30–34. Bagaimanakah seluruh peristiwa ini memberi kita wawasan tentang penyelesaian konflik dan cara-cara untuk memastikan kesatuan gereja? (Bandingkan dengan Mzm. 133; Yoh. 17: 20-23; 1 Ptr. 3: 8, 9.)
“Sementara mempunyai kepekaan terhadap tuduhan yang paling kecil yang diadakan terhadap perbuatan mereka, banyak orang yang terlalu keras dalam memperlakukan mereka yang disangka bersalah. Tidak ada seorangpun yang pernah diinsyafkan dari keadaan mereka yang bersalah melalui kecaman dan kritikan, tetapi banyak orang yang telah didorong lebih jauh dari jalan yang benar oleh cara demikian itu, dan dituntun untuk mengeraskan hati mereka terhadap keyakinan. Satu roh kebajikan, satu pembawaan yang sopan dan sabar, dapat menyelamatkan yang bersalah, dan menutupi dosa yang banyak. PP 519.5
“Kebijaksanaan yang telah dinyatakan oleh bani Ruben dan sahabat - sahabat mereka patut dicontoh. Sementara dengan jujur berusaha memajukan agama yang benar, mereka telah disalah-tafsirkan dan telah dikecam dengan keras; namun demikian, mereka tidak menunjukkan kemarahan. Dengan sopan dan sabar mereka telah mendengarkan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan oleh saudara-saudara mereka, sebelum berusaha untuk mengadakan pembelaan diri, dan kemudian dengan sempurna menerangkan motif mereka dan menunjukkan keadaan mereka yang tidak bersalah itu. Dengan demikian, kesulitan yang akan mendatangkan akibat-akibat yang gawat itu, telah diatasi dengan baik. PP 520.1
“Sekalipun berada di bawah tuduhan yang palsu, mereka yang berada di pihak yang benar bisa berusaha untuk menjadi tenang dan berpikir. Allah mengerti akan segala sesuatu yang disalah-mengerti dan disalah-tafsirkan oleh manusia, dan kita dapat dengan aman menyerahkan perkara kita ke dalam tanganNya. Ia pasti akan membenarkan persoalan mereka yang berharap kepadaNya sebagaimana Ia telah menunjukkan kesalahan Akhan. Mereka yang didorong oleh roh Kristus akan memiliki belas kasihan yang sifatnya sabar dan manis budi. PP 520.2
“Allah menghendaki bahwa persatuan dan kasih persaudaraan harus ada di antara umatNya. Doa Kristus sebelum penyalibanNya adalah agar muridmuridNya bisa menjadi satu sama seperti Dia satu adanya dengan Bapa, agar dunia percaya bahwa Allah telah mengutus Dia. Doa yang paling ajaib dan mengharukan ini menggema sepanjang zaman, bahkan sampai kepada zaman kita sekarang ini, karena kata-kataNya adalah, “Bukan karena mereka itu saja Aku berdoa ini, melainkan karena segala orang yang percaya akan Daku oleh sebab pengajaran mereka itupun.” Yohanes 17:20. Sementara kita tidak boleh mengorbankan satu prinsip kebenaran, haruslah menjadi tujuan kita selalu untuk mencapai keadaan persatuan seperti ini. Ini merupakan bukti bahwa kita adalah murid-muridNya. Yesus berkata, “Oleh hal ini semua orang akan mengetahui bahwa engkau adalah murid-muridKu, yaitu jikalau engkau berkasih-kasihan satu dengan yang lain.” Yohanes 13:35. Rasul Petrus menasihatkan sidang, “Hendaklah kamu sekalian sehati, dan berbelas kasihan, dan mengasihi segala saudara, dan penyayang, dan rendah hati; janganlah kamu membalas kejahatan dengan kejahatan atau membalas maki dengan maki, melainkan memintakan berkat, karena bagi yang demikian itu kamu sudah dipanggil, supaya kamu mendapat berkat akan menjadi warisanmu.” 1 Petrus 3:8, 9. PP 520.3
“Kesulitan dan kesalahpahaman yang masih timbul di antara umat Allah seringkali serupa dalam sifat dan akibatnya dengan kesulitan dan kesalahpahaman yang pernah mengancam akan membawa malapetaka bagi Israel. Sepuluh suku dipenuhi rasa takut bahwa umat yang telah diterima Allah sebagai milik-Nya sendiri, akan terpecah dalam kepentingan dan ibadah, sehingga mereka dengan cepat menegur dugaan pengkhianatan saudara-saudara mereka. Namun, dalam upaya untuk mempertahankan kehormatan Allah dan kemurnian Israel, kita melihat betapa serius dan bahkan fatalnya akibat yang mungkin timbul dari sebuah kesalahpahaman sederhana.” ST May 12, 1881, par. 15
Orang-orang yang dengan tulus berusaha memajukan agama yang benar disalahpahami dan ditegur dengan keras. Kebijaksanaan yang ditunjukkan dalam tindakan mereka di bawah keadaan yang sulit ini patut diteladani. Betapa besarnya kejahatan yang dapat dihindari jika tindakan seperti itu diikuti oleh seluruh anggota gereja kita. Seseorang mungkin dicurigai atau dikecam secara tidak adil oleh saudara-saudaranya, tetapi ia tidak boleh karena alasan ini menyerah pada amarah, atau menyimpan keinginan untuk membalas dendam. Kesempatan seperti itu memberikan kesempatan untuk mengembangkan anugerah kelembutan dan kesabaran yang berharga. ST May 12, 1881, par. 16
“Semua orang Kristen harus berhati-hati untuk menghindari dua ekstrem: yaitu kelonggaran dalam menangani dosa di satu sisi, dan penilaian yang keras serta kecurigaan yang tidak berdasar di sisi lain. Orang-orang Israel yang menunjukkan begitu bersemangat dalam menentang orang-orang Gad dan Ruben teringat bagaimana, dalam kasus Akhan, Allah telah menegur ketidakwaspadaan mereka dalam menemukan dosa-dosa yang ada di antara mereka. Lalu mereka bertekad untuk bertindak cepat dan sungguh-sungguh di masa depan; tetapi dalam berusaha melakukan hal itu, mereka jatuh ke ekstrem yang berlawanan. Gantinya menghadapi saudara-saudara mereka dengan kecaman, mereka seharusnya terlebih dahulu melakukan penyelidikan yang sopan untuk mengetahui semua fakta dalam kasus tersebut. ST May 12, 1881, par. 17
Masih banyak orang yang dipanggil untuk menanggung tuduhan palsu. Seperti orang-orang Israel, mereka dapat tetap tenang dan bijaksana, karena mereka berada di pihak yang benar. Mereka harus mengingat dengan syukur bahwa Allah mengetahui segala hal yang disalahpahami dan ditafsirkan secara keliru oleh manusia, dan mereka dapat dengan aman menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Dia akan dengan pasti membela kepentingan mereka yang mempercayai-Nya, sebagaimana Dia menyelidiki dosa tersembunyi Akhan. ST May 12, 1881, par. 18
“Betapa banyak kejahatan yang dapat dihindari, jika semua orang, ketika dituduh secara tidak adil, menghindari tuduhan balik, dan sebagai gantinya menggunakan kata-kata yang lembut dan mendamaikan. Dan pada saat yang sama, mereka yang dalam semangatnya untuk menentang dosa telah membiarkan diri mereka terjebak dalam kecurigaan yang tidak adil, hendaknya selalu berusaha untuk melihat sisi positif dari saudara-saudara mereka, dan bersukacita ketika mereka terbukti tidak bersalah.” ST May 12, 1881, par. 19