“Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci… Sebab awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel dalam setiap perjalanan mereka.” KJV - Keluaran 40:34, 38
“Bait Suci di surga, tempat Yesus melayani demi kita, adalah Bait Suci asli yang agung, yang tiruannya adalah Bait Suci yang dibangun oleh Musa. Allah mencurahkan Roh-Nya ke atas para pembangun Bait Suci di bumi. Keahlian artistik yang ditunjukkan dalam pembangunannya merupakan manifestasi hikmat ilahi. Dinding-dindingnya tampak seperti emas yang sangat besar, memantulkan cahaya ketujuh pelita dari kandil emas ke segala arah. Meja roti sajian dan mezbah pembakaran ukupan berkilauan bagaikan emas yang mengkilap. Tirai indah yang membentuk langit-langit, dihiasi dengan gambar-gambar malaikat berwarna biru, ungu, dan merah tua, menambah keindahan pemandangan tersebut. Dan di balik tirai kedua terdapat Shekinah yang kudus, manifestasi nyata dari kemuliaan Allah, yang di hadapannya hanya imam besar yang dapat masuk dan tetap hidup.” GC 414.1
“Kemegahan bait suci dunia yang tak tertandingi, mencerminkan kepada penglihatan manusia kemuliaan bait suci di surga tempat Kristus, penghulu kita, melayani kita di hadapan takhta Allah. Tempat tinggal Raja segala raja itu, tempat seribu kali beribu-ribu orang melayani-Nya, dan selaksa kali berlaksa-laksa orang berdiri di hadapan-Nya (Daniel 7:10); bait suci itu, yang dipenuhi dengan kemuliaan takhta kekal, tempat para serafim, sebagai pengawalnya yang bercahaya, menutupi wajahnya dengan sikap hormat, dapat ditemukan, dalam bangunan termegah yang pernah dibangun oleh tangan manusia, tetapi merupakan gambaran samar dari kebesaran dan kemegahannya yang di sorga. Namun, kebenaran-kebenaran penting mengenai bait suci surga dan pekerjaan besar yang dilakukan di sana untuk penebusan manusia diajarkan oleh bait suci dunia dan pelayanan-pelayanannya.” GC 414.2
“Tempat-tempat suci di surga dilambangkan oleh dua bilik di tempat suci di bumi. Sebagaimana dalam penglihatan, rasul Yohanes diberikan penglihatan tentang bait suci Allah di surga, ia melihat di sana "tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu." Wahyu 4:5. Ia melihat seorang malaikat "membawa sebuah pedupaan emas; dan kepadanya diberikan banyak kemenyan, untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas yang ada di hadapan takhta itu." Wahyu 8:3. Di sini nabi diizinkan untuk melihat bilik pertama bilik suci di surga; dan ia melihat di sana "tujuh obor menyala-nyala" dan "mezbah emas," yang dilambangkan oleh kaki dian emas dan dupa di bilik suci di bumi. Sekali lagi, "Bait Suci Allah terbuka" (Wahyu 11:19), dan ia melihat ke dalam bait suci bagian dalam, ke bilik yang maha suci. Di sini ia melihat "tabut perjanjian-Nya," yang dilambangkan oleh peti suci yang dibangun oleh Musa untuk menyimpan hukum Allah.” GC 414.3
Bacalah Keluaran 35:1–3. Apa kebenaran yang ditekankan kembali kepada umat di sini dalam konteks pembangunan kemah suci?
“Inilah yang dimaksudkan Tuhan: Besok adalah hari perhentian penuh, Sabat yang kudus bagi Tuhan; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi.” Mereka telah melakukan demikian, dan mereka dapati bahwa manna itu tidak berubah. “Selanjutnya kata Musa: Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah Sabat untuk Tuhan, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang. Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada Sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu.” PP 295.3
Tuhan menuntut agar hari-Nya yang suci itu dipelihara sama kudusnya seperti pada zaman Israel dahulu. Perintah yang diberikan kepada orang Israel itu harus dianggap oleh semua orang Kristen sebagai satu perintah dari Allah kepada mereka. Hari sebelum Sabat harus menjadi sebagai satu hari persediaan, agar segala sesuatu dapat dipersiapkan untuk jam-jam yang suci itu. Bagaimanapun juga janganlah urusan kita dibiarkan mengambil waktu yang suci itu. Allah telah memerintahkan agar orang sakit dan yang menderita dirawat; pekerjaan yang dituntut untuk meringankan beban mereka adalah satu pekerjaan rahmat, dan bukan merupakan pelanggaran terhadap Sabat; tetapi segala pekerjaan yang tidak perlu harus dihindarkan. Banyak orang dengan lalainya telah menunda sampai kepada permulaan hari Sabat perkara-perkara kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan pada hari persediaan. Hal seperti ini janganlah terjadi. Pekerjaan yang dibiarkan sampai kepada permulaan Sabat harus tetap dibiarkan sampai Sabat berlalu. Cara seperti ini akan dapat menolong ingatan dari pada yang lalai itu, dan menjadikan mereka lebih berhati-hati untuk melaksanakan tugas mereka dalam enam hari bekerja itu. PP 296.1
Oleh menuntun manusia untuk melanggar hukum yang kedua, Setan bertujuan merusak pandangan pikiran mereka sehubungan dengan Pribadi Ilahi. Dengan menyisihkan hukum yang keempat, ia mau menuntun manusia untuk melupakan Allah sama sekali. Tuntutan Allah untuk dihormati dan disembah, lebih daripada dewa-dewa kafir, didasarkan atas kenyataan bahwa Dialah Khalik itu, dan bahwa kepada-Nya segala makhluk itu berutang nyawa….. Sabat sebagai satu peringatan akan kuasa Allah yang menciptakan, menunjuk kepada-Nya sebagai Khalik langit dan bumi. Oleh sebab itu Sabat merupakan saksi yang tetap akan adanya Allah, dan satu pengingat akan kebesaran-Nya, hikmat-Nya dan kasih-Nya. Jikalau hari Sabat selalu disucikan, maka tidak akan pernah ada seorang ateis atau seorang penyembah berhala.. PP 336.1
Lembaga hari Sabat, yang berasal di Eden, adalah sama tuanya dengan bumi ini sendiri. Itu dipelihara oleh semua bapa-bapa mulai dari masa penciptaan dan seterusnya. Selama perbudakan di Mesir, bangsa Israel dipaksa oleh pengerah-pengerah mereka supaya melanggar Sabat, dan sebegitu jauh mereka telah kehilangan pengetahuan tentang kesuciannya. Pada waktu hukum itu diumumkan di Sinai, kata-kata yang pertama dari hukum yang keempat adalah, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat,” – menunjukkan bahwa Sabat bukan ditetapkan pada saat itu; kepada kita ditunjukkan kembali waktu penciptaan bumi ini sebagai asal-usul Sabat. Agar dapat menghapuskan Allah dari pikiran manusia, Setan bertujuan menghancurkan peringatan yang besar ini. Jikalau manusia dapat dituntun untuk melupakan Khalik mereka, mereka tidak akan berusaha melawan kuasa kejahatan, dan Setan pun pasti akan menguasai mangsanya. PP 336.2
Bacalah Keluaran 35:4–36:7. Apa pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ayat-ayat ini untuk kehidupan kita saat ini?
Untuk pembangunan Kemah Suci itu persiapan-persiapan yang mahal dan banyak diperlukan, bahan-bahan yang paling mahal dan berharga dalam jumlah yang besar harus disediakan; namun demikian Tuhan hanya menerima persembahan sukarela. “Dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu,’’ adalah perintah Ilahi yang diulangi oleh Musa kepada perhimpunan itu. Penyerahan kepada Allah dan satu roh pengorbanan adalah syarat-syarat pertama dalam mempersiapkan satu tempat tinggal bagi Yang Mahatinggi. PP 343.3
Semua orang dengan serentak memberikan jawabnya. Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada Tuhan untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN.” PP 344.1
“Juga setiap orang yang mempunyai kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba, datang membawanya. Setiap orang yang hendak mempersembahkan persembahan khusus dari perak atau tembaga, membawa persembahan khusus yang kepada Tuhan itu, dan setiap orang yang mempunyai kayu penaga membawanya juga untuk segala pekerjaan mendirikan itu. PP 344.2
Setiap perempuan yang ahli, memintal dengan tangannya sendiri dan membawa yang dipintalnya itu, yakni kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus. Semua perempuan yang tergerak hatinya oleh karena ia berkeahlian, memintal bulu kambing.” PP 344.3
“Pemimpin-pemimpin membawa permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada, rempah-rempah dan minyak untuk penerangan, untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian.” Keluaran 35:21-28. PP 344.4
Sementara pembangunan Kemah Suci itu sedang berlangsung, orang banyak itu, tua dan muda—1aki-laki, perempuan dan anak-anak—tetap memberikan persembahan mereka, sampai mereka yang mengawasi pekerjaan itu mendapati bahwa jumlah pemberian itu sudah cukup, bahkan melebihi dari apa yang dapat mereka gunakan. Dan Musa menyuruh untuk mengumumkan ke seluruh perhimpunan itu, “Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus. Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi.” Persungutan bangsa Israel dan diturunkannya hukuman Allah oleh sebab dosa-dosa mereka telah dicatat sebagai satu amaran kepada generasi-generasi mendatang. Dan pengabdian, semangat dan kedermawanan hati mereka, adalah satu teladan yang patut untuk dicontoh. Semua orang yang mengasihi perbaktian kepada Allah dan menghargai berkat hadirat-Nya yang suci akan menyatakan roh pengorbanan yang sama dalam menyediakan satu rumah di mana Ia dapat bertemu dengan mereka. Mereka mau membawa kepada Tuhan satu persembahan yang terbaik yang mereka miliki. Sebuah rumah yang dibangun bagi Allah janganlah dibiarkan dalam keadaan berutang oleh karena dengan cara itu Ia dihinakan. Satu jumlah yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan itu harus diberikan dengan sukarela, agar pekerja-pekerja itu dapat juga berkata, seperti pembangun-pembangun Kemah Suci itu, “Jangan bawa lagi persembahan.” PP 344.5
Bacalah keseluruhan Keluaran 36:8–39:31. Mengapa menurut Anda instruksi yang begitu jelas diberikan? Apa yang dapat kita pelajari dari hal ini tentang bagaimana Allah peduli terhadap setiap detail?
“Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Keluaran 25:8), demikianlah perintah yang diberikan kepada Musa pada waktu ia di atas gunung bersama Allah. Orang-orang Israel berjalan melalui padang gurun, dan kemah suci dibangun sedemikian rupa sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, bangunan itu adalah suatu struktur yang megah dan indah. Dindingnya terbuat dari papan yang dilapisi dengan emas, dan engsel-engselnya terbuat dari perak, sementara atapnya terbuat dari sejumlah tirai atau penutup, dan bagian luamya terbuat dari kulit. Bagian paling dalam terbuat dari lenan halus yang dengan indah dilukisi dengan gambar kerub. Di samping pelataran luar, yang berisi mezbah persembahan bakaran, kemah suci itu terdiri dari dua ruangan yang disebut bilik yang kudus dan bilik yang maha kudus, yang dipisahkan oleh tirai mewah dan indah, atau selubung, selubung yang sama yang menutup pintu masuk ke bilik yang pertama. GC 411.2
Di bilik yang kudus terdapat kaki dian, di sebelah Selatan, dengan tujuh lampunya menerangi tempat kudus itu siang dan malam. Di sebelah Utara, berdiri meja roti sajian. Dan di depan tirai atau selubung yang memisahkan bilik yang kudus dari bilik yang maha kudus terdapat mezbah pedupaan, yang dari padanya naik asap bau-bauan yang harum, bersama doa-doa orang Israel ke hadirat Allah. GC 412.1
Di bilik yang maha kudus berdiri tabut perjanjian, suatu peti yang terbuat dari kayu berharga yang dilapisi dengan emas, tempat menyimpan dua loh batu tempat kesepuluh hukum dituliskan oleh Allah. Di atas tabut perjanjian itu, yang menjadi penutup peti suci itu terdapat tutup pendamaian, suatu hasil kerja yang indah, dan di atasnya terdapat dua kerub—satu di setiap ujungnya—dan semuanya disalut dengan emas mumi. Di bilik ini hadirat Ilahi ditandai dengan awan kemuliaan di antara kedua kerub itu. GC 412.2
Pelayanan dalam tempat kudus duniawi terdiri dari dua bagian: imam imam bekerja di bilik yang kudus setiap hari, sementara sekali setahun imam besar melakukan pekerjaan khusus penyucian di bilik yang maha kudus, untuk pemulihan tempat kudus itu. Hari demi hari orang berdosa yang bertobat membawa persembahannya ke pintu kemah suci, dan meletakkan tangannya di atas kepala korban, mengakui dosa-dosanya, dengan demikian menggambarkan pemindahan dosa-dosa dari dirinya sendiri kepada korban yang tidak bersalah itu. Binatang itu kemudian disembelih. “Tanpa penumpahan darah,” kata rasul, “tidak ada pengampunan.” “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya.” (Imamat 17:11). Pelanggaran hukum Allah menuntut nyawa dari pelanggar. Darah yang melambangkan hutang nyawa orang berdosa, yang kesalahannya ditanggungkan kepada korban, dibawa oleh imam ke dalam bilik yang kudus dan memercikkannya di hadapan tirai penghubung, yang di belakangnya terdapat tabut perjanjian yang berisi hukum yang dilanggar oleh orang berdosa itu. Dengan upacara ini dosa-dosa, melalui darah, dipindahkan secara simbolis ke tempat kudus. Dalam beberapa kasus, darah tidak dibawa ke bilik yang suci, tetapi dagingnya kemudian akan dimakan oleh imam, sebagaimana Musa memberi petunjuk kepada anak-anak Harun dengan mengatakan, “Tuhan memberikan kepadamu, supaya kamu mengangkut kesalahan umat.” (Imamat 10:17). Kedua upacara ini sama-sama melambangkan pemindahan dosa dari orang berdosa kepada tempat kudus. GC 418.1
Itulah pekerjaan yang terus berlangsung dari hari ke hari sepanjang tahun. Dosa-dosa orang Israel dengan demikian dipindahkan ke tempat kudus, dan satu pekerjaan khusus diperlukan untuk menghilangkan dosa-dosa ini. Allah memerintahkan untuk melakukan penyucian dan pendamaian tiap-tiap bilik yang kudus. “Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.” Suatu pendamaian juga harus dibuat bagi mezbah untuk “menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel.” (Imamat 16:16, 19). GC 418.2
Sekali setahun, pada hari besar pendamaian, imam memasuki bilik yang maha kudus untuk membersihkan dan memulihkan tempat kudus. Pekerjaan ini dilakukan untuk mengakhiri pelayanan tahunan. Pada hari pendamaian, dua ekor kambing jantan dibawa ke pintu kemah suci, lalu dibuang undi bagi keduanya, “sebuah undi bagi Tuhan, dan sebuah lagi bagi Azazel.” (Imamat 16:8). Kambing yang terundi bagi Tuhan akan disembelih sebagai korban persembahan bagi orang banyak. Dan imam akan membawa darahnya ke dalam tirai selubung, dan memercikkan darah itu ke atas tutup pendamaian dan di hadapan tutup pendamaian itu. Juga darah itu dipercikkan ke atas mezbah pedupaan yang di hadapan tirai selubung itu. GC 419.1
“Dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun.” (Imamat 16:21,22). Kambing Azazel itu tidak lagi datang ke perkemahan orang Israel, dan orang yang menggiringnya ke padang gurun harus membasuh dirinya dan pakaiannya dengan air sebelum ia kembali ke perkemahan. GC 419.2
Bacalah Keluaran 40:1–38. Bagaimana cara orang Israel mengenali kehadiran Allah?
Satu jangka waktu kurang lebih setengah tahun telah digunakan untuk mendirikan Kemah Suci ini. Setelah selesai, Musa memeriksa semua pekerjaan pembangun-pembangun itu, sambil membandingkannya dengan pola yang ditunjukkan kepadanya di atas gunung, dan dengan petunjuk-petunjuk yang ia terima dari Allah. “Seperti yang diperintahkan TUHAN, demikianlah mereka melakukannya. Lalu Musa memberkati mereka.” Dengan perhatian yang dalam bangsa Israel berhimpun di sekelilingnya untuk melihat bangunan yang suci itu. Sementara mereka sedang merenung-renungkan pemandangan itu dengan penuh kepuasan yang disertai rasa hormat, tiang awan itu terbang ke atas Kemah Suci itu dan kemudian turun menyelimutinya. “Dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci itu.” Keagungan Ilahi dinyatakan pada waktu itu, dan untuk sementara waktu Musa sekalipun tidak dapat memasukinya. Dengan luapan perasaan yang dalam bangsa itu melihat tanda bahwa pekerjaan tangan mereka itu telah diterima. Saat itu tidak terdengar pernyataan kegembiraan yang ribut. Satu suasana khidmat menyelimuti semua orang. Tetapi kegembiraan hati mereka meluap dalam air mata kesukaan, dan dengan suara yang rendah berbisik-bisik mengucapkan syukur bahwa Allah telah turun untuk tinggal bersama mereka. PP 349.4
Musa telah membuat Kemah Suci di dunia, “menurut contoh yang telah dilihatnya.” Paulus menyatakan bahwa “kemah dan semua alat untuk ibadah,” bilamana disempurnakan, “melambangkan apa yang ada di surga.” Kisah 7:44; Ibrani 9 :21, 23. Dan Yohanes menyatakan bahwa ia melihat Bait Suci di dalam surga. Bait Suci itu, di mana Yesus melayani demi kita, adalah yang aslinya, untuk mana Kemah Suci yang didirikan oleh Musa merupakan satu gambaran.” PP 357.1
Bait Suci surga, tempat tinggalnya Raja atas segala raja, di mana “beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya” (Daniel 7:10), Bait Suci ini dipenuhi oleh kemuliaan takhta yang kekal, di mana malaikat-malaikat penjaganya yang berkilau-kilauan itu, menudungi wajah mereka sebagai penghormatan – tidak ada bangunan di dunia ini yang dapat menggambarkan kehebatan dan kemuliaannya. Namun demikian kebenaran-kebenaran yang penting sehubungan dengan Bait Suci surga dan pekerjaan yang besar yang dilaksanakan di sana untuk penebusan manusia diajarkan oleh Bait Suci di dunia dan upacara-upacaranya. PP 357.2
Baca Yohanes 1:14. Bagaimana perbandingan antara inkarnasi Kristus dengan Tabernakel ?
Allah memberikan perintah kepada Musa bagi Israel, ‘’Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengahtengah mereka,” (Kel. 25:8), dan Ia bersemayam dalam Bait Suci itu, di tengah-tengah umat-Nya. Selama pengembaraan mereka yang memenatkan di padang belantara itu, lambang hadirat-Nya menyertai mereka. Demikianlah Kristus mendirikan Bait Suci-Nya di antara tempat kediaman manusia. Didirikan-Nya kemah-Nya di samping kemah-kemah manusia, supaya Ia dapat diam di antara kita, dan membuat kita tahu benar tabiat serta hidup-Nya yang Ilahi. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Yoh. 1:14. DA 23.3
Karena Yesus datang untuk tinggal dengan kita di dunia ini, kita tahu bahwa Tuhan telah maklum akan segala kesukaran kita, dan turut mera-sakan segenap kesusahan kita. Setiap anak Adam baik pria maupun wanita dapat mengerti bahwa Khalik kita itu adalah sahabat orang-orang berdosa. Karena dalam setiap doktrin anugerah, setiap janji sukacita, setiap perbuatan kasih, setiap penarikan Ilahi yang ditunjukkan dalam hidup Juruselamat tatkala di bumi ini, kita melihat “Allah menyertai kita.” DA 24.1
Baca 2 Wahyu 21:1-3. Apa yang dipersembahkan kepada kita disini ?
“‘ Dan aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru: sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu; dan tidak ada lagi laut. Dan aku, Yohanes, melihat kota kudus, Yerusalem yang baru, turun dari Allah dari surga, disiapkan seperti seorang pengantin yang dihiasi untuk suaminya. Dan aku mendengar suara yang besar dari sorga, berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia, dan Ia akan diam di antara mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya, dan Allah sendiri akan ada di antara mereka dan menjadi Allah mereka. Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka; dan tidak akan ada lagi maut, dukacita, atau tangisan, dan tidak akan ada lagi sakit: sebab segala yang dahulu telah berlalu.” Inilah komunitas yang ingin kita ikuti. Maka marilah kita tunjukkan hal itu melalui perbuatan kita, dan singkirkan dari hati kita segala sesuatu yang akan menghalangi Yesus. Hujan akhir akan turun atas umat Allah. Seorang malaikat yang perkasa akan turun dari surga, dan seluruh bumi akan diterangi oleh kemuliaannya. Apakah kita siap untuk ikut serta dalam pekerjaan mulia malaikat ketiga? Apakah wadah kita siap untuk menerima embun surgawi? Apakah ada kekotoran dan dosa di dalam hati kita? Jika demikian, marilah kita membersihkan bait suci jiwa kita, dan bersiap untuk hujan akhir yang akan turun. Kesegaran dari kehadiran Tuhan tidak akan pernah datang ke hati yang dipenuhi dengan kekotoran. Semoga Allah membantu kita untuk mati terhadap diri sendiri, agar Kristus, harapan kemuliaan, terbentuk di dalam! Aku harus memiliki Roh Allah di dalam hatiku. Saya tidak akan pernah dapat melangkah maju untuk melakukan pekerjaan besar Allah, kecuali Roh Kudus berdiam di dalam jiwa saya. “Seperti rusa yang merindukan aliran air, demikianlah jiwa saya merindukan Engkau, ya Allah.” Hari penghakiman telah tiba. Oh, kiranya kita dapat membersihkan jubah karakter kita dan menjadikannya putih dalam darah Anak Domba! RH April 21, 1891, par. 11
Pada hari yang besar itu di mana pahala yang terakhir diberikan, orang mati akan “dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.” Wahyu 20:12. Kemudian oleh jasa dari pada darah Kristus yang menebus, dosa-dosa semua orang yang sungguh-sungguh bertobat dihapuskan dari buku-buku surga. Dengan demikian Bait Suci akan dibebaskan, atau dibersihkan, dari catatan dosa. Di dalam upacara simbolis, pekerjaan penebusan yang besar ini, atau penghapusan dosa itu, digambarkan oleh upacara-upacara yang diadakan pada Hari Pendamaian—pembersihan Bait Suci dunia, yang dilaksanakan dengan pemindahan dosa yang telah mencemarinya oleh jasa darah korban penghapus dosa. PP 357.6
Sebagaimana di dalam penebusan yang terakhir dosa-dosa orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh itu dihapuskan dari catatan surga, tidak akan diingat lagi atau terlintas kepada pikiran, demikian juga di dalam upacara simbolis dosa-dosa itu dibuang ke gurun, terpisah dari perhimpunan itu untuk selama-lamanya. PP 358.1
Oleh karena Setan adalah makhluk yang memulai dosa, biang keladi segala dosa yang telah menyebabkan kematian Anak Allah, maka keadilan menuntut agar Setan menanggung hukuman yang terakhir. Pekerjaan Kristus untuk penebusan manusia dan penyucian alam semesta dari dosa akan diakhiri oleh pemindahan dosa dari Bait Suci surga, dan meletakkan dosa-dosa ini ke atas diri Setan, yang akan menanggung hukuman yang terakhir. Demikian juga di dalam upacara simbolis itu, upacara-upacara yang berlangsung sepanjang tahun diakhiri oleh penyucian Kemah Suci dan pengakuan dosa-dosa di atas kepala Azazel. PP 358.2
Dengan demikian di dalam upacara-upacara Bait Suci duniawi dan di dalam Bait Suci yang di surga, orang banyak itu diajar setiap hari tentang kebenaran-kebenaran yang agung sehubungan dengan kematian dan pelayanan Kristus, dan sekali setahun pikiran mereka diarahkan kepada peristiwa-peristiwa terakhir dari pertentangan yang besar antara Kristus dan Setan, penyucian terakhir alam semesta ini dari dosa dan orang-orang berdosa. PP 358.3