Dosa, Injil, dan Hukum

Pelajaran 9, Triwulan 2, 23–29 Mei 2026

img rest_in_christ
Share this Lesson
Download PDF

Sabat Sore 23 Mei

Memory Text:

“Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku. Aku kepunyaanMu, selamatkanlah aku, sebab aku mencari titah-titah-Mu.” KJV - Mazmur 119:93-94


“Hukum dan Injil, yang dinyatakan dalam Firman, harus diberitakan kepada orang; karena hukum dan Injil, jika dipadukan, akan menyadarkan hati akan dosa. Hukum Allah, walaupun menyatakan dosa, justru mengarahkan kita kepada Injil, yang menyatakan Yesus Kristus, di dalam Dia berdiam sepenuhnya ke-Allahan secara jasmani. Kemuliaan Injil memantulkan cahaya pada zaman Yahudi, memberikan makna pada seluruh tatanan Yahudi yang terdiri dari lambang dan bayangan. Dengan demikian, baik hukum maupun Injil dipadukan. Dalam setiap pembicaraan, keduanya tidak boleh dipisahkan.”—Manuskrip 21, 1891. Ev 231.3

“Orang beragama pada umumnya telah memisahkan hukum dan Injil, sementara kita, di sisi lain, hampir melakukan hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Kita belum menunjukkan kepada orang-orang kebenaran Kristus dan makna sepenuhnya dari rencana penebusanNya yang besar. Kita telah menyingkirkan Kristus dan kasihNya yang tidak ada bandingannya, dan sebagai gantinya membawa masuk teori serta pemikiran manusia, lalu mengkhotbahkan argumen-argumen itu.” —Manuskrip 24, 1890.” Ev 231.4

Minggu, 24 Mei

Pengalih Perhatian dan Pencobaan


Bacalah tentang pencobaan-pencobaan yang dihadapi Simson dalam Hakim-Hakim 14 dan Hakim-Hakim 16: 1, 4, 16, 17. Meskipun dipanggil oleh Allah untuk tujuan tertentu, Simson tetap melayani Allah sambil menyerah pada pencobaan. Apakah yang dapat kita pelajari dari akhir kehidupannya?

 Kalau saja Simson telah setia kepada panggilan Ilahinya itu, rencana Allah akan dapat terwujud demi kehormatan dan pengagungan dirinya. Tetapi ia telah menyerah kepada penggodaan, membuktikan dirinya tidak setia kepada apa yang telah dipercayakan kepadanya, dan tugasnya telah dilaksanakan dalam kekalahan, perhambaan dan kematian. PP 567.2

Secara jasmani, Simson adalah orang yang paling kuat di atas dunia ini, tetapi di dalam pengendalian diri, kejujuran, dan keteguhan, ia adalah salah seorang yang paling lemah di antara manusia. Banyak yang salah mengira bahwa nafsu yang kuat itu adalah satu tabiat yang kuat pula; tetapi yang sebenarnya adalah bahwa dia yang dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri adalah seorang manusia yang lemah. Kebesaran sejati seorang manusia diukur oleh kuasa perasaan yang ia kendalikan, bukan oleh apa yang mengendalikan dia. PP 567.3

Perlindungan Allah telah menyertai Simson, agar ia dapat dipersiapkan untuk melaksanakan pekerjaan yang untuknya ia telah dipanggil. Dari sejak kecil ia dikelilingi oleh satu lingkungan yang baik untuk kekuatan jasmaninya, kesegaran pikirannya dan kesucian moralnya. Tetapi di bawah pengaruh pergaulan yang jahat, ia telah melepaskan pegangannya dari Tuhan yang merupakan satu-satunya pelindung manusia, dan ia pun telah dihanyutkan oleh arus kejahatan. Mereka yang berada pada jalan tugas dan dibawa kepada ujian bisa merasa pasti bahwa Allah akan memeliharakan mereka; tetapi jikalau manusia dengan sengaja menempatkan diri mereka di bawah kuasa penggodaan, mereka akan jatuh, lambat atau segera. PP 568.1

Orang-orang yang direncanakan Allah untuk digunakan sebagai alat untuk satu pekerjaan yang istimewa, justru itulah yang menjadi sasaran Iblis. Ia menyerang kita pada titik kelemahan kita, memanfaatkan kekurangan-kekurangan dalam tabiat kita untuk menguasai seluruh kehidupan kita; dan ia mengetahui bahwa jikalau kekurangan-kekurangan ini dipelihara, maka ia akan berhasil. Tetapi tidak seorang pun perlu dikalahkan. Manusia tidak dibiarkan sendirian untuk mengalahkan kuasa kejahatan oleh usahanya sendiri yang lemah itu. Pertolongan sudah tersedia dan akan diberikan kepada setiap jiwa yang benar-benar menginginkannya. Malaikat-malaikat Allah, yang turun naik di tangga yang dilihat Yakub di dalam khayalnya, akan menolong setiap jiwa yang mau naik sampai ke langit yang paling tinggi. PP 568.2

Senin, 25 Mei

Benteng dalam Hubungan Saya dengan Allah


Yesus memperingatkan tentang apa yang harus kita lakukan ketika tangan, kaki, atau mata menyebabkan kita berdosa. Apakah yang sedang Yesus peringatkan kepada kita? Bacalah Markus 9: 42-48

 “Mungkin ada hal-hal salah yang kita sayangi, yang tampaknya sangat berharga seperti halnya tangan atau kaki. Hal-hal ini harus kita singkirkan selamanya. Jangan pernah memaksakan ide-ide kita yang aneh dan tidak suci kepada orang lain....” RC 283.4

“Jika ada sesuatu yang menghalangi kita untuk menyerahkan diri kepada Kristus, sekalipun hal itu begitu berharga bagi kita seperti halnya tangan, kaki, atau mata, lebih baik kita melepaskannya daripada kehilangan kehidupan kekal.” 23LtMs, Ms 47, 1908, par. 11

“Setiap orang memiliki perjuangan yang harus dilalui. Jika sifat buruk dalam diri tidak diatasi, Iblis akan memanfaatkan kelemahan itu, dan dengan demikian mencemari seluruh diri manusia.” ST December 24, 1894, par. 7

“Di sini Kristus ingin mengajarkan kepada kita bahwa pembentukan karakter memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dan cermat. Inilah tugas yang mungkin telah disadari oleh Yudas berkat kepekaannya, seandainya ia menerima pelajaran yang ingin diajarkan Kristus kepadanya. Sifat-sifat buruknya pun akan lenyap, dan ia akan menjadi lemah lembut dan rendah hati, seperti Gurunya.” ST May 20, 1897, par. 9

“Dan pekerjaan ini adalah sesuatu yang harus kita lakukan, sama seperti yang harus dilakukan Yudas. Mereka yang memiliki kecenderungan bawaan untuk berbuat kejahatan, mereka yang menumbuhkan dahan berduri untuk melukai semua orang yang mereka temui, harus memastikan bahwa bagian-bagian yang menyimpang itu dipotong. Betapapun menyakitkannya pekerjaan ini dalam memisahkan kejahatan dari karakter kita, hal itu harus dilakukan. Keegoisan dan keserakahan, yang merupakan penyembahan berhala; roh yang kasar dan tidak baik, yang, jika terwujud dalam perkataan atau perbuatan, akan melukai dan menghancurkan jiwa-jiwa, harus dibuang dari kehidupan, atau seluruh dirinya akan menjadi menjijikkan bagi dirinya sendiri dan bagi Allah. kekerasan hatinya akan membuatnya mengabaikan orang-orang yang justru membutuhkan bantuannya.” ST May 20, 1897, par. 10

“Inilah roti yang turun dari surga, yaitu Firman Allah. Dan Firman ini, yang diterima dan dihayati oleh agen-agen yang hidup, akan melahirkan iman yang bekerja melalui kasih, serta menyucikan jiwa. Ia akan memotong kecenderungan jahat bawaan, serta sifat-sifat buruk yang telah diperkuat oleh kebiasaan. Betapapun kita menghargai hal-hal ini, adalah lebih baik memisahkannya dari praktik hidup kita sekarang daripada membiarkan kuasa dominannya mencemari dan merusak seluruh diri kita. Dan bukan hanya itu, hal-hal itu menghancurkan pengaruh kita untuk kebaikan, dan, alih-alih menjadi aroma kehidupan bagi kehidupan, kita menjadi aroma kematian bagi kematian.” ST May 20, 1897, par. 12



Selasa, 26 Mei

Hukum


Bagaimanakah Anda akan menjelaskan dan menggambarkan dosa kepada orang non-Kristen? Bagaimanakah Alkitab menggambarkan dosa? Bacalah Roma 3: 20 dan 1 Yohanes 3: 4

Hukum Allah, dari sifatnya sendiri, tidak dapat diubah. Hukum itu adalah pernyataan kehendak dan tabiat Penciptanya. Allah adalah kasih, dan hukum-Nya adalah kasih. Prinsip agungnya ialah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat. (Roma 13:10). Tabiat Allah ialah kebenaran; demikianlah sifat hukum-Nya. Pemazmur berkata,‘Taurat-Mu benar,” “segala perintahMu benar .’’(Mazmur 119:142, 172). Dan Rasul Paulus menyatakan, “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” (Roma 7:12). Hukum seperti itu, yang menjadi pernyataan pikiran dan kehendak Allah, sudah tentu sekekal Penciptanya. KA 488.2

Pertobatan dan penyucianlah yang mendamaikan manusia kepada Allah, oleh membawa manusia itu selaras dengan hukum-Nya. Pada mulanya manusia diciptakan menurut peta Allah. Ia sangat selaras dengan sifat dan hukum Allah. Prinsip-prinsip kebenaran dituliskan di dalam hati. Tetapi dosa memisahkan dia dari Penciptanya. Ia tidak lagi memancarkan peta Ilahi. Hatinya berperang dengan prinsip-prinsip hukum Allah. “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah, hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Tetapi “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,” agar manusia boleh diperdamaikan dengan Allah. Melalui jasa-jasa Kristus manusia itu bisa kembali selaras dengan Penciptanya. Hatinya harus diperbarui oleh rahmat Ilahi. Ia harus mempunyai hidup baru yang dari atas. Perubahan ini adalah kelahiran baru, tanpa itu kata Yesus “ia tidak bisa melihat kerajaan Allah.” KA 488.3

Langkah pertama dalam perdamaian kepada Allah ialah pengakuan dosa. “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” “Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”(l Yohanes 3:4; Roma 3:20). Agar dapat melihat dosanya, orang berdosa itu harus menguji tabiatnya dengan standar kebenaran Allah. Standar kebenaran itu adalah cermin yang menunjukkan penyempurnaan tabiat kebenaran, dan yang menyanggupkannya untuk melihat cacat pada dirinya. KA 489.1

Hukum itu menunjukkan kepada manusia dosa-dosanya, tetapi tidak menyediakan obatnya. Sementara hukum itu menjanjikan hidup kepada yang menurut, ia menyatakan kematian menjadi bagian pelanggar. Hanya Injil Kristus saja yang dapat membebaskannya dari hukuman dan pencemaran dosa. Ia harus menunjukkan penyesalan kepada Allah, yang hukum-Nya telah dilanggar; dan iman kepada Kristus, korban pendamaiannya. Dengan demikian ia memperoleh “pengampunan dosa-dosa yang terjadi dulu,” dan menjadi ikut mengambil bagian dalam sifat Ilahi. Ia adalah anak Allah yang telah menerima pengangkatan menjadi anak, di mana ia berkata, “Abba, ya Bapa!” KA 489.2

Rabu, 27 Mei

Hukum dan Injil


Dalam Matius 5: 17-18, apakah yang dikatakan Yesus tentang hukum?

 Pencipta manusia dan Pemberi hukum itulah yang menyatakan bahwa maksud-Nya bukanlah untuk mengesampingkan aturan-aturannya. Segala sesuatu dalam alam, dari butir debu dalam sinar matahari hingga ke dunia-dunia di tempat yang tinggi, adalah di bawah hukum. Ketenteraman dan keselarasan dunia alami bergantung kepada penurutan akan hukum-hukum ini. Jadi di situ terdapat prinsip-prinsip kebenaran yang besar untuk mengendalikan kehidupan dari segala makhluk yang cerdas, dan kesejahteraan alam semesta bergantung kepada penyesuaian dengan prinsip-prinsip ini. Sebelum dunia ini diciptakan, hukum Allah sudah ada. Malaikat-malaikat diatur oleh prinsip-prinsipnya, dan supaya dunia selaras dengan surga, manusia juga harus menurut kepada undang-undang Ilahi. Kepada manusia di Taman Eden aturan-aturan dari hukum itu diberitahukan oleh Kristus “pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai.” Ayub 38:7. Misi Kristus di dunia bukanlah untuk merusak hukum, tetapi oleh kasih karunia-Nya untuk membawa manusia kembali menurut kepada aturan-aturannya. MB 48.1

Murid yang dikasihi itu, yang mendengar kata-kata Yesus di atas bukit, lama sesudah itu menulis dalam ilham Roh Kudus, menyatakan hukum sebagai kewajiban abadi. Dia katakan bahwa “dosa adalah pelanggaran hukum dan bahwa “setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah.” I Yohanes 3:4. Dia jelaskan bahwa hukum yang ia tunjukkan itu adalah “perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya.” 1 Yohanes 2:7. Dia menyatakan hukum yang ada pada waktu penciptaan dan diulangi di atas Gunung Sinai. MB 48.2

Menyatakan hukum itu, Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Di sini Ia menggunakan kata “menggenapi” dalam pengertian yang sama seperti ketika Dia mengatakan maksud-Nya kepada Yohanes Pembaptis untuk “menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Matius 3:15); yakni untuk memenuhi ukuran tuntutan hukum, untuk memberikan suatu contoh dari penyesuaian yang sempuma kepada kehendak Allah. MB 48.3

Misi-Nya adalah untuk “memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia.” Yesaya 42:21. Dia harus menunjukkan sifat rohani dari hukum itu, untuk menunjukkan prinsip-prinsipnya yang luas dan untuk menjelaskan kewajibannya yang abadi. MB 49.1

Keindahan tabiat Ilahi dari Kristus, mengenai siapa yang termulia dan paling lemah-lembut di antara manusia hanya suatu pantulan yang lemah; mengenai siapa Salomo oleh Roh ilham menuliskan, Dia adalah “mencolok mata di antara selaksa orang, . . . segala sesuatu padanya menarik” (Kidung Agung 5:10-16); mengenai siapa Daud, melihat-Nya dalam penglihatan nubuat, berkata, “Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia” (Mazmur 45:2); Yesus, citra yang jelas dari diri Bapa itu, cahaya dari kemuliaan-Nya; Penebus yang menyangkal diri, sepanjang perjalanan hidup-Nya yang penuh kasih di atas dunia adalah suatu gambaran hidup dari sifat hukum Allah. Di dalam kehidupan-Nya dinyatakan bahwa kasih yang lahir di surga, prinsip-prinsip yang menyerupai Kristus, mendasari hukum-hukum kejujuran yang abadi. MB 49.2

“Selama belum lenyap langit dan bumi ini,” kata Yesus, “satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Dengan penurutan-Nya sendiri kepada hukum, Kristus menyaksikan tentang tabiat-tabiat-Nya yang kekal dan membuktikan bahwa melalui kasih karunia-Nya hukum itu dapat dituruti dengan sempurna oleh setiap putra-putri Adam. Di atas bukit itu, Dia menyatakan bahwa tidak satu iota terkecil pun ditiadakan dari hukum itu sebelum semuanya terjadi — segala sesuatu yang menyangkut umat manusia, segala yang berhubungan dengan rencana penebusan. Dia tidak mengajarkan bahwa hukum itu akan dibatalkan, tetapi Ia mengarahkan mata sepenuhnya kepada horison masa depan manusia dan meyakinkan kita bahwa sebelum tujuan ini tercapai hukum itu akan tetap berwewenang, sehingga tak seorang pun boleh menyangka bahwa misi-Nya ialah untuk menghapus aturan-aturan dari hukum itu. Selagi langit dan bumi ada, prinsip suci hukum Allah akan tetap ada. Kebenaran-Nya adalah, “seperti gunung-gunung Allah” (Mazmur 36:6), akan terus, suatu sumber berkat, mengalirkan sungai-sungai kecil untuk menyegarkan bumi. MB 49.3

Kamis, 28 Mei

Mengetahui dan Melakukan


Yesus menutup Khotbah di Atas Bukit dengan tantangan terakhir yang penuh makna. Apakah tantangan itu? Bacalah Matius 7: 24–29.

“Yesus mengakhiri pengajaran-Nya di atas gunung dengan sebuah ilustrasi yang menyajikan dengan sangat jelas pentingnya mempraktikkan kata-kata yang telah Dia ucapkan. Di antara kerumunan orang yang berkerumun di sekitar Juruselamat, banyak yang telah menghabiskan hidup mereka di sekitar Danau Galilea. Saat mereka duduk di lereng bukit, mendengarkan firman Kristus, mereka dapat melihat lembah dan jurang tempat aliran sungai pegunungan mengalir menuju laut. Di musim panas, aliran sungai ini seringkali menghilang sepenuhnya, hanya menyisakan saluran yang kering dan berdebu. Tetapi ketika badai musim dingin menerjang perbukitan, sungai-sungai menjadi deras dan mengamuk, kadang-kadang meluapi lembah dan menghanyutkan segala sesuatu dalam banjirnya yang tak tertahankan. Seringkali, gubuk-gubuk yang dibangun oleh para petani di dataran berumput, yang tampaknya berada di luar jangkauan bahaya, tersapu. Tetapi di atas bukit-bukit terdapat rumah-rumah yang dibangun di atas batu. Di beberapa bagian negeri terdapat tempat tinggal yang seluruhnya dibangun dari batu, dan banyak di antaranya telah bertahan dari badai selama seribu tahun. Rumah-rumah ini dibangun dengan kerja keras dan kesulitan. Mereka Akses menuju ke sana tidak mudah, dan lokasinya tampak kurang menarik dibandingkan dataran berumput. Namun, bangunan-bangunan itu didirikan di atas batu karang, dan angin, banjir, serta badai menerjangnya tanpa hasil. MB 147.2

“Seperti para pembangun rumah-rumah di atas batu karang ini,” kata Yesus, “demikianlah orang yang akan menerima perkataan yang telah Kukatakan kepadamu, dan menjadikannya dasar bagi karakter dan hidupnya.” Berabad-abad sebelumnya, nabi Yesaya telah menulis, “Firman Allah kita akan tetap berdiri selama-lamanya” (Yesaya 40:8); dan Petrus, lama setelah Khotbah di Bukit disampaikan, mengutip perkataan Yesaya ini dan menambahkan, “Inilah firman yang diberitakan kepadamu melalui Injil” (1 Petrus 1:25). Firman Allah adalah satu-satunya hal yang teguh yang diketahui dunia kita. Itu adalah dasar yang pasti. “Langit dan bumi akan lenyap,” kata Yesus, “tetapi firman-Ku tidak akan lenyap.” Matius 24:35. MB 148.1

“Prinsip-prinsip besar hukum, hakikat Allah sendiri, terkandung dalam firman Kristus di atas gunung. Siapa pun yang membangun di atasnya, sedang membangun di atas Kristus, Batu Abadi. Dengan menerima firman, kita menerima Kristus. Dan hanya mereka yang menerima firman-Nya yang membangun di atas Dia. “Tidak ada dasar lain yang dapat diletakkan selain dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” 1 Korintus 3:11. “Tidak ada nama lain di bawah langit, yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita harus diselamatkan.” Kisah Para Rasul 4:12. Kristus, Firman, wahyu Allah,—manifestasi karakter-Nya, hukum-Nya, kasih-Nya, hidup-Nya,—adalah satu-satunya dasar yang dapat kita gunakan untuk membangun karakter yang akan bertahan lama.” MB 148.2

“Kita membangun di atas Kristus dengan menaati firman-Nya. Bukan hanya orang yang menikmati kebenaranlah yang benar, tetapi orang yang melakukan kebenaran. Kekudusan bukanlah pengangkatan; itu adalah hasil dari penyerahan segala sesuatu kepada Allah; itu adalah melakukan kehendak Bapa surgawi kita. Ketika anak-anak Israel berkemah di perbatasan Tanah Perjanjian, tidak cukup bagi mereka untuk memiliki pengetahuan tentang Kanaan, atau menyanyikan lagu-lagu Kanaan. Ini saja tidak akan membuat mereka memiliki kebun anggur dan kebun zaitun di tanah yang baik itu. Mereka dapat menjadikannya milik mereka secara sejati hanya dengan mendudukinya, dengan memenuhi syarat-syaratnya, dengan menjalankan iman yang hidup kepada Allah, dengan menerima janji-janji-Nya bagi diri mereka sendiri, sambil menaati perintah-Nya.” MB 149.1

Jumat, 29 Mei

Pendalaman

Kristus, pondasi yang benar, adalah batu yang hidup; kehidupan-Nya diberikan kepada segala yang dibangun di atas-Nya. “Kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.” “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” 1 Petrus 2:5; Efesus 2:21. Batu-batu itu menjadi satu dengan pondasi; karena kehidupan yang biasa tinggal di dalam semua. Bangunan itu tidak dapat dirobohkan angin topan; karena MB 150.2

“Siapa yang turut mengambil bagian dalam kehidupan Allah, mereka akan terpelihara semuanya.” MB 150.3

Tetapi setiap bangunan yang didirikan di atas pondasi lain yang bukan di atas firman Allah akan rubuh. Seperti Yahudi pada zaman Yesus, yang membangun di atas pondasi pikiran dan pendapat manusia, di atas bentuk-bentuk dan upacara-upacara ciptaan manusia, atau di atas perbuatan apa saja yang dapat ia lakukan secara bebas tentang kasih karunia Kristus, adalah mendirikan struktur tabiatnya di atas tanah yang bergeser. Angin topan pencobaan akan menghanyutkan pondasi berpasir itu dan meninggalkan rumahnya suatu rongsokan di akhir zaman. MB 150.4

“Sebab itu beginilah firman Tuhan Allah . . . Aku akan membuat keadilan menjadi tali pengukur, dan kebenaran menjadi tali sipat; hujan batu akan menyapu bersih perlindungan bohong, dan air lebat akan menghanyutkan persembunyian.” Yesaya 28:16, 17. MB 151.1

Tetapi sekarang belas kasihan memohon kepada orang-orang berdosa. “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” Yehezkiel 33:11. Suara yang berbicara kepada yang tidak menyesali dosanya pada hari ini adalah suara Dia yang dalam hati merasa sedih menyerukan ketika Dia melihat kota yang disayanginya: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Lukas 13:34, 35. Di Yerusalem, Yesus melihat suatu lambang dari dunia yang telah menolak dan menghina kasih karunia-Nya. Dia sedang meratap, Hai hati yang keras! Bahkan ketika air mata Yesus bercucuran di atas bukit, Yerusalem masih bisa bertobat, dan lepas dari malapetakanya. Untuk suatu masa yang singkat Pemberian surga itu masih menunggu sambutannya. Begitulah, wahai hati, kepadamu Kristus masih berbicara dengan nada kasih: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Wahyu 3:20; 2 Korintus 6:2. MB 151.2

Engkau yang meletakkan pengharapan kepada diri berarti membangun di atas pasir. Tetapi belum terlalu terlambat untuk menghindarkan kehancuran yang akan datang. Sebelum angin topan mengamuk, larilah ke pondasi yang tahan uji. “Beginilah firman Tuhan Allah: Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.” “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan bahkan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” “Kamu tidak akan mendapat malu dan tidak kena noda sampai selama-lamanya.” Yesaya 28:16; 45:22; 41:10; 45:17 MB 152.1