“Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” KJV - 1 Korintus 10:11
Tak ada cacat cela yang terdapat pada karakter suci Yosua. Ia adalah seorang pemimpin yang bijaksana. Hidupnya dibaktikan sepenuhnya kepada Allah. Sebelum meninggal, ia mengumpulkan pasukan Ibrani dan mengikuti teladan Musa, ia menceritakan kembali perjalanan mereka di padang gurun dan juga belas kasihan Allah terhadap mereka. Kemudian ia berbicara kepada mereka dengan fasih. Ia menceritakan kepada mereka bahwa raja Moab berperang melawan mereka dan memanggil Bileam untuk mengutuk mereka; tetapi Allah "tidak mau mendengarkan Bileam, oleh karena itu Dia tetap memberkati kamu." Dia kemudian berkata kepada mereka, "Dan jika kamu anggap tidak baik beribadah kepada Allah, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; entah allah-allah yang disembah nenek moyangmu yang berada di seberang sungai, atau allah-allah orang Amori, yang negerinya kamu diami ini; tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN." SR 181:3
“Lalu bangsa itu menjawab: Allah melarang kami untuk meninggalkan Allah, untuk beribadah kepada allah lain, sebab Tuhan, Allah kami, Dialah yang telah menuntun kami dan nenek moyang kami keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda yang ajaib di depan mata kami dan yang telah melindungi kami sepanjang jalan yang kami lalui dan di antara semua bangsa yang kami lalui.” SR 182.1
“Bangsa itu memperbarui perjanjian mereka dengan Yosua. Mereka berkata kepadanya, "Kami akan beribadah kepada Tuhan, Allah kami, dan firman-Nya akan kami taati." Yosua menuliskan firman perjanjian mereka dalam kitab yang berisi hukum dan ketetapan yang diberikan kepada Musa. Yosua dicintai dan dihormati oleh seluruh Israel, dan kematiannya sangat diratapi oleh mereka." SR 182.2
Pelajarilah ayat-ayat Alkitab berikut yang mengacu pada berbagai tipe dan cobalah untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan tipologi Alkitab: Rm. 5: 14, 1 Kor 10: 1-13, Ibr. 8: 5, dan Ibr. 9: 23.
Yeremia 30 : 7 : “Aduh, betapa hebatnya hari itu, sehingga tak ada taranya; bahkan itulah masa kesusahan Yakub itu; tetapi ia akan diluputkan daripadanya.”
Orang-orang yang mencapai masa kesusahan contoh saingan ini sedang kembali ke tanah air mereka. Mereka akan dihiburkan. Kenyataannya adalah cukup mengerikan, namun nasehat daripada Allah adalah, “Janganlah takut.”
Jelaslah, bahwa isi dari pasal ini adalah mengenai kembali ke tanah air contoh saingan. Walaupun kesusahan itu tampaknya mungkin menakutkan sekali, namun hasil dari padanya akan kelak sama halnya seperti pada contoh. Sampai pada waktu ini penyelidikan ini mungkin tidak menarik perhatian kita seperti yang seharusnya, tetapi masanya akan segera datang dimana kita akan menggali dengan cepat dan dengan sekuat-kuatnya untuk mendapatkannya sama seperti kita akan keluar dari bawah suatu timbunan es. Tetapi walaupun demikian orang-orang yang memiliki hanya sedikit iman dalam Firman Allah penyelidikan ini tidak akan membawa banyak manfaat bagi mereka. Sekaranglah waktunya untuk mulai membina iman yang kita perlukan untuk masa yang akan datang itu.
Contoh bagi kita, yaitu Yakub, ia cukup mengetahui bahwa Allah sudah menghantarkan dia kembali dari Padan-Aram ke tanah airnya, namun ia sangat gentar pada waktu didengarnya bahwa Esau bersama-sama dengan empat ratus pengikutnya sedang dalam perjalanan untuk menjumpai dia. Di samping itu ia telah dibawa untuk bergumul dengan malaikat sepanjang malam. Ia berhasil menang hanya karena tidak dilepaskannya malaikat itu pergi sebelum Ia memberkati dia. Hasil akhirnya adalah, bahwa pada keesokan harinya gantinya Esau membinasakan seluruh rombongan itu ia malahan menyambut Yakub dengan ramahnya sambil memberikan ciuman, lalu dengan akrabnya mengundang Yakub untuk pulang. Demikianlah setelah semuanya terlaksana dengan sendirinya, maka Yakub menyaksikan dengan jelas, bahwa adalah sama sekali tidak perlu memiliki takut. Betapa membesarkan hati bahwa “semua perkara ini telah jadi terhadap mereka sebagai contoh-contoh, dan semua itu telah ditulis menjadi nasehat bagi kita terhadap siapa akhir sejarah dunia akan datang.” 1 Korintus 10 : 11. Apa yang telah jadi terhadap Yakub pasti akan jadi juga terhadap kita, maka betapa membesarkan hati jika kita mengetahui semua ini jauh-jauh sebelumnya. Jika sebelumnya belum pernah kita tahu, maka kini akan kita saksikan, bahwa di mana terdapat contoh akan terdapat juga contoh saingannya, dan bahwa di mana tidak ada contoh, maka tidak akan ada Kebenaran.
“Ketika Allah hendak membantai anak sulung Mesir, Ia memerintahkan orang Israel untuk mengumpulkan anak-anak mereka dari tengah-tengah orang Mesir ke dalam rumah mereka sendiri dan menandai ambang pintu dengan darah, agar malaikat pembunuh melihatnya dan melewati rumah-rumah mereka. Adalah tugas orang tua mengumpulkan anak-anak mereka. Ini adalah tugasmu, ini adalah tugasku, dan tugas setiap ibu yang percaya pada kebenaran. Malaikat akan membubuhkan tanda di dahi semua yang terpisah dari dosa dan orang-orang berdosa, dan malaikat pembunuh akan mengikuti, untuk membantai habis baik tua maupun muda.” 5T 505.2
Dalam salah satu dari nubuatan-nubuatan yang luas, Yesaya memproyeksikan dalam bentuk-bentuk yang sama dengan tepat contoh saingannya yang besar mengenai pergerakan Eksodus itu sebagai berikut : “Maka akan ada sebuah jalan raya bagi umat-Nya yang sisa, yang tertinggal dari Assyiria; sama seperti halnya dengan Israel pada hari ia itu keluar dari negeri Mesir.” Yesaya 11 : 16. Seperti halnya “paskah” dan “pembantaian anak-anak sulung” (buah-buah pertama) yang tidak memiliki darah pada “ambang pintu”, telah melepaskan umat Allah yang dahulu dari perhambaan Mesir, maka demikian pula kelak paskah contoh saingan (Yehezkiel 9 : 4; Yesaya 66 : 16) akan melepaskan buah-buah pertama, mereka yang 144.000 itu, anak sulung-Nya yang sekarang, dari perhambaan dosa dan dari orang-orang berdosa di waktu ini.
“Maka akan jadi kelak, bahwa orang yang tertinggal di Sion, dan dia yang masih tinggal di Yerusalem akan kelak disebut suci, yaitu setiap orang yang tertulis namanya di antara orang-orang hidup yang di Yerusalem; apabila Tuhan kelak selesai membasuh kekotoran segala puteri Sion, dan kelak selesai membersihkan darah dari Yerusalem dari tengah-tengahnya oleh roh hukum dan oleh roh pembakaran. Maka Tuhan akan menciptakan di atas setiap tempat tinggal dari Gunung Sion, dan di atas seluruh perhimpunannya, sebuah awan dan asap pada siang hari, dan sebuah nyala api yang terang pada malam hari; karena di atas semuanya kemuliaan akan menjadi satu pertahanan. Maka akan terdapat sebuah tabernakel bagi tempat berteduh pada siang hari daripada panas, dan bagi sebuah tempat berlindung, dan bagi sebuah tempat sembunyi dari angin ribut dan dari hujan.” Yesaya 4 : 3 - 6.
Tempat kudus yang di surga, di mana Yesus melayani demi kita, adalah tempat kudus besar yang asli. Kemah suci yang dibangun oleh Musa mencontoh dari tempat kudus ini. Allah mencurahkan Roh-Nya ke atas orang-orang yang membangun kemah suci duniawi. Keterampilan artistik yang diperagakan dalam pembangunan tempat kudus itu adalah manifestasi hikmat Ilahi. GC 414.1
Dalam terang tipologi Alkitab, apakah signifikansi dari beberapa paralelisme antara kehidupan Musa dan Yosua? Lihat Kel. 3: 1, 2; Yos. 1: 1-3; Bil. 13: 1, 2; Yos. 2: 1; Kel. 3: 5; Yos. 5: 15.
Namun kiranya perlu diingat bahwa Pergerakan Eksodus itu, dalam contoh, terdiri dari dua bagian, bagian yang pertama dipimpin oleh Musa dan bagian kedua oleh Yosua, dan bahwa itulah yang terakhir, yang murni, yaitu bagian (yang tumbuh dewasa setelah empat puluh tahun mengembara di padang belantara, dan setelah hanya dua dari semua yang berusia dua puluh tahun ke atas sewaktu meninggalkan Mesir, meninggal dunia) yang memiliki tanah itu.
Dan seperti halnya Israel yang sudah murni dari zaman Yosua, generasi yang bertahan selama empat puluh tahun pengembaraan di padang belantara itu, pertama-tama mewarisi kepemimpinan terakhir dari contoh Pergerakan Eksodus itu, dan kemudian tanah perjanjian itu; demikian itu pula Israel yang sudah murni masa kini (mereka yang 144.000 itu), yaitu orang-orang yang sudah bertahan selama empat puluh tahun pengembaraan dari tahun 1890 – 1930, dan yang luput dari pembantaian Yehezkiel pasal 9, akan dipromosikan menduduki kepemimpinan yang terakhir dari Pergerakan Eksodus contoh saingan, kemudian mewarisi “tanah perjanjian itu”, dan menjadi warga negara di dalam Kerajaan yang kekal itu.
Demikianlah kita saksikan bahwa sesudah orang-orang yang bersungut-sungut itu dihapuskan, sesuai dengan contohnya, barulah Yosua mengambil alih, dan memimpin Pergerakan Eksodus itu di tanah Kanaan.
Akibat yang cepat dari semua persungutan ini, keluhan-keluhan dan keragu-raguan di waktu ini sudah akan membutakan mata banyak orang di dalam Pergerakan Advent, membuat mereka berbalik dari mengikuti Kristus Pemimpin mereka, dan terus menerus mundur “menuju Mesir.” -- Testimonies, vol. 5, p. 217. Akibatnya, dalam suatu kesamaan tragis yang lain, sama seperti yang ditulis Musa mengenai contoh pengalaman yang menyedihkan itu, demikian itu pula ditulis oleh pendiri gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mengenai pengalaman yang bahkan lebih menyedihkan lagi dalam contoh saingannya, yang diucapkannya dalam tahun 1888 yang lalu : “Banyak yang telah kehilangan pandangan terhadap Yesus”; dan “Keragu-raguan dan bahkan ketidak-percayaan terhadap kesaksian-kesaksian dari Roh Allah, sedang meracuni gereja-gereja kita di mana-mana.”--Testimonies, Vol. 5, p. 217.
Pelajarilah Ulangan 18:15-19, Ulangan 34:10-12, Yohannes 1:21, Kisah 3:22-26, dan Kisah 7:37. Siapakah yang menggenapi nubuatan Musa mengenai nabi yang seperti dirinya? Bagaimanakah Yosua berperan dalam hal ini?
Musa adalah satu lambang Kristus. Ia sendiri telah menyatakan kepada Israel, “Bahwa seorang nabi dari tengah-tengah kamu, dari antara segala saudaramu, dan yang seperti aku ini, yaitu akan dijadikan oleh Tuhan Allahmu bagi kamu, maka akan Dia patutlah kamu dengar.” Ulangan 18:15. Tuhan melihat bahwa sepatutnya untuk mendisiplin Musa di dalam sekolah penderitaan dan kemiskinan sebelum ia dapat dipersiapkan memimpin bala tentara Israel ke Kanaan duniawi. Bangsa Israel Allah, yang sedang berjalan menuju ke Kanaan sorgawi, mempunyai seorang Pemimpin yang tidak memerlukan pengajaran manusia untuk menyediakan Dia bagi tugas-Nya sebagai pemimpin ilahi; namun demikian Ia telah dijadikan sempurna melalui penderitaan; dan “sedangkan Ia sendiri telah merasa sengsara tatkala terkena coba, dapatlah Ia menolong orang yang terkena coba itu.” Ibrani 2:10, 18. Penebus kita tidak menyatakan adanya kelemahan atau ketidaksempurnaan manusia; namun demikian Ia telah mati untuk memperoleh bagi kita satu hak untuk memasuki Tanah Perjanjian. PP 480.1
“Adapun Musa itu setiawan di dalam segenap isi rumah Allah seperti hamba, akan menyatakan segala perkara yang akan difirmankan kelak, tetapi Kristus itu sebagaimana seorang anak berkuasa atas isi rumah Allah; maka kita inilah isi rumahnya itu, asal kita tetap di dalam iman dan harap, yang menjadi kemegahan kita, hingga kepada kesudahannya.” Ibrani 3:5, 6. PP 480.2
Bacalah Ibrani 3: 7-4: 11. Bagaimanakah Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yosua, Musa yang baru, adalah tipe dari Yesus Kristus?
“ ... Demikianlah firman Tuhan Allah; Tengoklah, bahwa Aku akan mengambil bani Israel dari antara bangsa kafir, ke mana mereka itu telah pergi, dan Aku akan menghimpunkan mereka itu dari semua pihak, lalu menghantarkan mereka itu ke dalam tanah airnya sendiri; maka Aku akan menjadikan mereka itu satu bangsa di tanah itu di atas gunung-gunung Israel; dan seorang raja akan menjadi raja bagi mereka sekalian; maka mereka kelak tidak lagi menjadi dua bangsa, juga mereka tidak lagi dibagi ke dalam dua kerajaan; dan tiada lagi mereka akan mencemarkan dirinya dengan berhala-berhalanya, atau dengan segala barang yang keji, ataupun dengan pelanggaran-pelanggaran mereka; melainkan Aku akan melepaskan mereka itu keluar dari semua tempat tinggalnya, dimana mereka telah berdosa, dan Aku akan menyucikan mereka; dengan demikian mereka akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allah mereka.
“Dan hamba-Ku Daud akan menjadi raja atas mereka; dan mereka sekalian akan memiliki seorang gembala; mereka juga akan berjalan dalam hukum-hukum-Ku, dan mematuhi semua syariat-Ku, dan melaksanakannya. Maka mereka akan tinggal di negeri yang sudah Ku berikan kepada Yakub hamba-Ku itu, dimana para nenek moyangmu telah tinggal; dan mereka akan tinggal di dalamnya, yaitu mereka, dan anak-anaknya, dan cucu-cucunya sampai selama-lamanya; dan hamba-Ku Daud akan menjadi penghulu mereka untuk selama-lamanya.
“Lagi pula Aku akan membuat suatu perjanjian damai dengan mereka; ia itu kelak merupakan suatu perjanjian yang kekal dengan mereka itu; maka Aku akan menempatkan mereka itu, dan melipatgandakan mereka itu, dan Aku akan menaruh tempat kesucian-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. Tabernakel-Ku pun akan berada dengan mereka itu; maka Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Maka orang kafir akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan yang menguduskan Israel, apabila tempat kesucian-Ku kelak berada di tengah-tengah mereka itu untuk selama-lamanya.” Yehezkiel 37 : 21 - 28.
Dalam mengukuhkan kebenaran bahwa umat Allah akan kembali menjadi sebuah kerajaan, maka Yehezkiel menubuatkan dari hal – Suatu Pembagian Baru Tanah Itu.
Nabi itu menyajikan pembagian tanah itu yang sama sekali berlainan daripada pembagian di zaman Yosua dahulu (Yosua 17): Ia itu akan terdapat dalam bidang-bidang dari timur sampai ke barat. Suku Dan akan memperoleh bagian yang pertama di utara, dan suku Gad bagian yang terakhir di selatan. Di antara batas-batas dari keduanya ini akan terdapat bagian-bagian milik suku-suku bangsa yang selebihnya. Tempat kesucian itu akan berada di tengah-tengah tanah itu, dan di dekatnya akan terdapat sebuah kota. (Lihat Yehezkiel 48).
Dari kenyataan bahwa pembagian tanah perjanjian itu yang sedemikian ini belum pernah dibuat, menunjukkan bahwa ia itu masih akan datang. Juga dari kenyataan bahwa tempat kesucian itu akan terdapat di sana, sedangkan ia itu tidak akan terdapat di dalam bumi yang sudah diperbaharui (Wahyu 21 : 22), menunjukkan secara pasti, bahwa peristiwa yang unik ini akan jadi sebelum masa seribu tahun itu. Lagi pula, dari kenyataan rangkap bahwa nama dari kota itu adalah “Tuhan ada disana”, dan bahwa lokasinya sesuai dengan pembagian tanah itu, harus perlu berbeda dari pembagian Yerusalem yang lama, menunjukkan bahwa Yerusalem yang sepatutnya adalah bukan kota itu.
Yosua, sebagai sebuah tipe, menunjuk kepada penggenapan pelayanan Yesus Kristus dalam kehidupan gereja, tubuh Kristus. Dalam arti apakah peperangan yang dilakukan oleh Israel di bawah kepemimpinan Yosua membayangkan kepada pergumulan rohani gereja? Bagaimanakah perbedaannya? Lihat 1 Tim. 1: 18; 2 Tim. 4: 7; Ef. 6: 10-12; 2 Kor. 10: 3-5; dan Kis. 20: 32.
“Berharap kepada Allah, dan penurutan kepada kehendakNya, adalah perlu bagi orang Kristen di dalam peperangan rohani sebagaimana kepada Gideon dan Yusak di dalam peperangan mereka melawan bangsa Kanani. Melalui pernyataan kuasanya yang berulang-ulang demi kepentingan bangsa Israel, Allah mau memimpin mereka supaya memiliki iman di dalam Dia—dengan disertai kepercayaan untuk mencari pertolonganNya di dalam setiap keadaan darurat. Ia masih tetap ingin bekerja bersama dengan usaha dari umatNya sekarang ini, dan melaksanakan perkara-perkara besar melalui alat-alat yang lemah. Segenap sorga menunggu permintaan kita akan hikmat serta kuasanya. Allah “berkuasa melakukan dengan berlebih-lebihan daripada barang apa yang kita pohonkan atau sangkakan.” Efesus 3:20. “ PP 554.1
Apa yang dikatakan teks-teks ini tentang pemenuhan akhir dari tipologi Yosua? 1Pet. 1:4, Col. 3:24, Wahyu. 20:9, Wahyu. 21:3.
Yesaya 63 : 17 : “Ya Tuhan, mengapa Engkau membiarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan membiarkan kami mengeraskan hati terhadap takut akan Dikau? Kembalilah Tuhan demi hamba-hamba-Mu, demi semua suku bangsa milik pusaka-Mu.”
Di sini terdapat seseorang yang mengetahui, bahwa umat Allah berada dalam kekeliruan -- tidak berjalan mengikuti jalan-jalan Allah, dan bahwa mereka tidak takut akan Dia. Oleh sebab itu himbauan dari utusan itu ialah agar Allah kembali kepada mereka, tidak meninggalkan mereka untuk selamanya.
Doa permohonan dari pasal enam puluh tiga dilanjutkan dalam seluruh isi pasal enam puluh empat, dan memberikan suatu teladan yang baik terhadap bagaimana hendaknya kita berdoa pada masa ini. Marilah kita membaca keseluruhannya.
Yesaya 64 “Oh sekiranya Engkau mengoyakkan segala langit, dan Engkau turun, sekiranya segala gunung dapat berguguran di hadapan hadirat-Mu, seperti apabila api yang mencair bernyala-nyala, api itu membuat air mendidih, untuk membuat nama-Mu dikenal bagi semua musuh-Mu, sehingga segala bangsa akan gemetar di hadapan hadirat-Mu. Apabila Engkau melakukan perkara-perkara yang dahsyat yang tidak kami harapkan, Engkau turun, segala gunung berguguran di hadapan hadirat-Mu. -
“Karena semenjak mula pertama dunia ini manusia tidak pernah mendengar ataupun mengetahui dengan telinga, juga tidak melihat dengan matanya, melainkan Engkau juga Ya Allah, barang yang dibuat kelak bagi mereka yang menantikan Dikau. Engkau bertemu orang yang bersuka cita dan berbuat kebenaran, yaitu mereka yang ingat akan Dikau dalam segala jalan-Mu; bahwasanya Engkau sudah murka sangat karena kami telah berdosa, jikalau kiranya selalu kami tetap pada segala jalan-Mu itu niscaya terpeliharalah kami.
“Tetapi kami semua adalah bagaikan sesuatu yang najis, dan semua kebenaran kami adalah bagaikan kain-kain gombal yang kotor; maka kami semua menjadi layu bagaikan sehelai daun, maka semua kejahatan kami, bagaikan angin yang menerbangkan kami pergi. Maka seorang pun tiada yang menyebut nama-Mu, yang tergerak hatinya untuk berpegang kepada-Mu; karena Engkau telah menyembunyikan wajah-Mu daripada kami, dan Engkau sudah menghancurkan kami, karena sebab semua kejahatan kami.
“Tetapi kini Ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami; kami adalah hanya tanah liat, dan Engkaulah Penjunan kami; maka kami sekalian adalah perbuatan tangan-Mu. Janganlah kiranya Engkau terlalu murka, Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau ingat selalu akan segala kesalahan kami; lihatlah dan tiliklah kami sekalian umat-Mu. Segala negeri-Mu yang suci sudah menjadi padang belantara, Sion sudah menjadi padang tandus, Yerusalem sudah menjadi sunyi. Rumah kami yang suci dan yang indah itu, dimana nenek moyang kami telah memuji-muji Dikau, telah terbakar dengan api; dan semua milik kami yang indah-indah sudah habis binasa. Ya Tuhan, masakan Engkau menahani dirimu akan segala perkara ini? Masakan engkau berdiam diri-Mu dan membiarkan kami sangat menderita?”
“Ribuan orang akan menerima kebenaran jika mereka dapat melakukannya tanpa menyangkal diri sendiri, tetapi golongan ini tidak akan pernah membangun pekerjaan Allah. Mereka tidak akan pernah berjuang dengan gagah berani melawan musuh—dunia, cinta diri, dan nafsu daging—dengan mempercayai Pemimpin Ilahi mereka untuk memberikan kemenangan. Gereja membutuhkan orang-orang setia seperti Kaleb dan Yosua, yang siap menerima hidup kekal dengan syarat sederhana Allah: ketaatan. Gereja-gereja kita kekurangan pekerja. Dunia adalah ladang kita. Misionaris dibutuhkan di kota-kota dan desa-desa yang lebih terikat oleh penyembahan berhala daripada orang-orang kafir di Timur yang belum pernah melihat cahaya kebenaran. Semangat misionaris yang sejati telah meninggalkan gereja-gereja yang membuat pengakuan yang begitu mulia; hati mereka tidak lagi berkobar dengan cinta untuk jiwa-jiwa dan keinginan untuk membawa mereka ke dalam kawanan Kristus. Kita membutuhkan pekerja yang sungguh-sungguh. Apakah tidak ada yang merespons seruan yang terdengar dari segala penjuru: “Datanglah ... dan bantulah kami”? 4T 155.4