“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” KJV - Yohanes 17:3
“Inilah hidup kekal,” kata Kristus, “yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus, yang telah Engkau utus.” Yohanes 17:3. Mengapa kita tidak menyadari nilai dari pengetahuan ini? Mengapa kebenaran-kebenaran mulia ini tidak menyala di dalam hati kita, bergetar di bibir kita, dan menembusi segenap tubuh kita? COL 133:3
“Dalam memberikan firman-Nya kepada kita, Allah telah menempatkan dalam kita setiap kebenaran yang penting untuk keselamatan kita. Ribuan orang telah mengambil air dari sumur kehidupan ini, namun air itu tidak berkurang. Ribuan orang telah menempatkan Tuhan di depannya dan memandang-Nya telah diubah ke dalam peta yang sama. Jiwanya berkobar-kobar di dalam dirinya manakala mereka berbicara tentang tabiatNya, menceritakan apa artinya Kristus bagi mereka dan apa arti mereka bagi Kristus. Tetapi para penyelidik ini tidak kehabisan tema yang besar dan kudus itu. Ribuan orang lagi boleh ikut serta dalam usaha penyelidikan rahasia-rahasia keselamatan. Bila kehidupan Kristus dan sifat dari tugas-Nya direnungkan, sinar-sinar terang akan bercahaya semakin jelas pada setiap usaha untuk menemukan kebenaran. Setiap penyelidikan yang baru akan menunjukkan sesuatu yang lebih menarik daripada yang telah dipahami. Pelajaran ini tidak ada habis-habisnya. Penyelidikan tentang penjelmaan Kristus, pengorbanan grafirat-Nya dan pekerjaan pengantaraan, akan menggunakan pikiran pelajar yang tekun selama waktu mengizinkan dan memandang ke surga dengan tahun-tahun yang tak terhitung, ia akan berkata, “Besarlah rahasia kesalehan.” COL 133.4
“Dalam masa kekekalan kita akan belajar perkara, yang kalau kita terima keterangannya adalah mungkin untuk mendapatkannya di sini dan akan membuka pengertian kita. Tema penebusan akan menggunakan hati, pikiran dan lidah umat tebusan sepanjang abad-abad yang kekal. Mereka akan mengerti kebenaran yang Kristus ingin paparkan kepada murid-murid-Nya, tetapi mereka tidak mempunyai iman untuk memahaminya. Terus dan seterusnya pandangan-pandangan baru tentang kesempurnaan dan kemuliaan Allah akan tampil. Sepanjang zaman yang tiada berkesudahan Tuan rumah yang setia itu akan mengeluarkan dari simpanan-Nya harta yang baru dan lama.” COL 134.1
Bacalah Kejadian 3: 1-5. Apakah tujuan Lucifer dalam percakapannya dengan Hawa? Kebohongan apakah yang dia katakan kepada Hawa tentang karakter Allah?
“Setan, yang telah menghasut pemberontakan di surga, ingin menggiring penduduk bumi agar bersatu dalam peperangannya melawan Allah. Adam dan Hawa telah hidup dalam kebahagiaan yang sempurna dalam ketaatan kepada hukum Allah—sebuah kesaksian yang konsisten menentang klaim yang Setan sampaikan di surga bahwa hukum Allah itu menindas. Setan bertekad untuk menyebabkan kejatuhan mereka, agar ia dapat menguasai bumi dan di sini mendirikan kerajaannya sebagai lawan dari Yang Mahatinggi.” HF 328.1
“Ia menyatakan bahwa mereka akan menjadi seperti Tuhan, memiliki kebijaksanaan yang lebih besar dari sebelumnya, dan mampu mencapai tingkat eksistensi yang lebih tinggi. Hawa menyerah pada godaan; dan melalui pengaruhnya, Adam terjerumus ke dalam dosa. Mereka menerima perkataan ular itu, bahwa Tuhan tidak sungguh-sungguh seperti yang dikatakan-Nya; mereka tidak mempercayai Pencipta mereka, dan mengira bahwa Ia membatasi kebebasan mereka, dan bahwa mereka dapat memperoleh kebijaksanaan dan kemuliaan yang besar dengan melanggar hukum-Nya.” GC88 532.1
Buah itu, tentu saja, menarik baginya, tetapi dia tergoda oleh gagasan untuk memiliki kesempatan diangkat ke takhta Tuhan, diangkat ke posisi yang sama dengan yang diidamkan Lucifer sendiri. Lucifer pasti benar-benar percaya bahwa dia akan menjadi seperti Tuhan jika para malaikat di Surga dan manusia di bumi mau menuruti perintahnya.
Dan demikian itulah kita saksikan bahwa si Jahat itu telah menyesatkan Hawa pada landasan-landasan yang sama seperti ia sendiri telah menyesatkan dirinya dan semua malaikat-malaikatnya, hanya perbedaan yang ada ialah bahwa ia menyebabkan Hawa memakan buah pohon itu, yang mana ia sendiri berikut semua malaikatnya tidak mau memakannya. Akibatnya, Hawa telah berdosa melanggar juga keadaan fisiknya, oleh memakan sesuatu yang telah diciptakan bukan bagi makanan manusia, maka akibatnya ia mati. Tetapi Setan dan malaikat-malaikatnya masih tetap hidup.
“Pengetahuan yang tidak Allah inginkan dimiliki oleh orang tua pertama kita adalah pengetahuan tentang rasa bersalah. Dan ketika mereka menerima pernyataan Setan yang palsu, ketidaktaatan dan pelanggaran masuk ke dunia kita. Ketidaktaatan terhadap perintah Allah yang tegas ini, kepercayaan pada kebohongan Setan, telah membuka pintu gerbang malapetaka atas dunia. Setan terus melanjutkan pekerjaan yang dimulai di Taman Eden. Dia telah bekerja dengan tekun, agar manusia menerima pernyataannya sebagai bukti melawan Allah. Dia telah bekerja melawan Kristus dalam upaya-Nya untuk memulihkan citra Allah dalam diri manusia, dan menanamkan dalam jiwanya keserupaan dengan Allah.” 1SM 214.2
Bagaimanakah ayat-ayat berikut menggambarkan Allah: Imamat 20: 26, 1 Samuel 2: 2, Yesaya 57: 15, dan Yehezkiel 38: 23?
“Aku diperintahkan untuk berkata kepada para siswa, Dalam pencarianmu akan pengetahuan, naiklah lebih tinggi dari standar yang ditetapkan dunia; ikutilah jalan yang telah ditunjukkan Yesus. Dan kepada para guru, aku mau berkata, Waspadalah terhadap bagaimana kalian menabur benih ketidakpercayaan di dalam hati dan pikiran manusia. Bersihkanlah diri kalian dari segala kekotoran daging dan roh. Kemuliaan tertinggi dari sifat-sifat Kristus adalah kekudusan-Nya. Malaikat-malaikat sujud di hadapan-Nya dalam penyembahan, sambil berseru, “Kudus, kudus, kudus, Tuhan Allah Yang Mahakuasa.” Wahyu 4:8. Ia dinyatakan mulia dalam kekudusan-Nya. Pelajarilah karakter Allah. Dengan memandang Kristus, dengan mencari Dia dalam iman dan doa, kalian dapat menjadi seperti Dia.” CT 402.2
Mereka yang mengalami pengudusan cara Alkitab akan menunjukkan roh kerendahan hati. Seperti Musa, mereka telah memandang kebesaran kekudusan yang menakjubkan, dan melihat betapa ketidaklayakan mereka tidak bisa dibandingkan dengan kemurnian dan kesempurnaan yang ditinggikan dari Yang Kekal itu. GC 470.2
Nabi Daniel adalah satu contoh pengudusan yang benar. Sepanjang hidupnya dipenuhi dengan pelayanan mulia bagi Tuannya. Ia adalah “orang yang dikasihi Surga.” (Daniel 10:11). Namun, gantinya mengakui murni dan kudus, nabi yang dihormati ini menyatakan dirinya sebagai seorang yang sangat berdosa di Israel, pada waktu bermohon kepada Allah mengenai bangsanya, “sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah.” “Kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik.” (Daniel 9:18, 15). Ia menyatakan, “Sementara aku berbicara dan berdoa dan mengaku dosaku dan dosa bangsaku, bangsa Israel.” (Daniel 9:20). Dan pada waktu hari kemudian Anak Allah muncul, untuk memberikan petunjuk kepadanya, Daniel berkata, “aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku.” (Daniel 10:8). GC 470.3
Pada waktu Ayub mendengar suara Tuhan dari angin badai, ia berseru, “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:6). Yesaya berseru setelah ia melihat kemuliaan Tuhan dan mendengar kerub berseru: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam. Celakalah aku! Aku binasa!’’(Yesaya 6:3, 5). Rasul Paulus, setelah terangkat ke langit yang ketiga, dan mendengar kata-kata yang tak terucapkan oleh manusia, berbicara mengenai dirinya, sebagai “yang paling hina di antara segala orang kudus.” (2 Korintus 12:2-4; Efesus 3:8). Yohanes yang kekasih, yang bersandar kepada Yesus dan yang memandang kemuliaan-Nya, jatuh tersungkur di depan kaki malaikat itu. (Wahyu 1:17). GC 471.1
Mereka yang berjalan dalam bayang-bayang salib Golgota tidak akan meninggikan diri, tidak akan menyombongkan diri karena mereka telah dibebaskan dari dosa. Mereka merasa bahwa oleh karena dosa-dosa merekalah yang menyebabkan penderitaan yang menghancurkan hati Anak Allah, dan pemikiran ini akan menuntun mereka kepada penyesalan yang mendalam. Mereka yang hidup paling dekat dengan Yesus melihat dengan jelas kelemahan dan keberdosaan manusia, dan harapan mereka satu-satunya hanyalah jasa-jasa Juruselamat yang tersalib dan yang telah bangkit kembali itu. GC 471.2
Apakah yang dijelaskan dalam 1 Yohanes 4: 7-19 tentang kasih?
“Allah adalah kasih.” 1 Yohanes 4:16. Sifat, dan hukum-Nya adalah kasih. Hal itu senantiasa demikian dan akan selalu demikian. “Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya,” yang “perjalanan-Nya berabad-abad,” tidak berubah. PadaNya “tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran,” Yesaya 57:15 ; Habakuk 3:6, Yakobus 1:17. SRNJ1 21.1
Setiap pernyataan kuasa-Nya dalam hal menciptakan adalah suatu pernyataan kasih yang tidak terbatas. Pemerintahan Allah mencakup kelimpahan berkat kepada semua makhluk ciptaan-Nya. SRNJ1 21.2
Bukan atas kuasanya sendiri sehingga tahun demi tahun bumi mengeluarkan banyak berkatnya, dan melanjutkan perjalanannya mengelilingi matahari, tapi karena tangan Allah mengendalikan planet-planet dan menjaganya tetap pada posisinya secara teratur dan bergerak menjelajahi cakrawala. Melalui kuasa-Nyalah musim panas dan musim dingin, masa menabur dan masa menuai, siang dan malam silih berganti secara berturut-turut. Oleh firman-Nyalah tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan subur sehingga daun-daun kelihatan dan bunga-bunga berkembang. Setiap benda yang kita miliki, setiap sinar cahaya matahari dan tetesan hujan, setiap butir makanan, setiap saat dari kehidupan adalah suatu pemberian kasih. KAB 85.2
Anak-anak Allah adalah orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat-Nya. Bukanlah pangkat duniawi, atau kelahiran, atau kebangsaan, atau hak-hak yang berhubungan dengan agama, yang membuktikan bahwa kita adalah anggota-anggota keluarga Allah; itu adalah kasih, kasih yang merangkul semua umat manusia. Walaupun orang-orang berdosa yang hatinya sama sekali tidak tertutup kepada Roh Allah, akan bersaksi kepada kebaikan; sementara mereka bisa membalas kebencian dengan kebencian, mereka juga akan membalas kasih dengan kasih. Tetapi hanya Roh Allah yang membalas kebencian dengan kasih. Menjadi baik kepada orang-orang yang tidak berterima kasih dan orang-orang jahat, berbuat baik tanpa mengharapkan apa-apa kembali, adalah lencana keluarga surga, tanda yang pasti yang olehnya anak-anak dari Yang Mahatinggi menyatakan tingkat hidup mereka yang tinggi. KAB 86.1
Sejarah pertarungan yang hebat antara yang baik dan yang jahat, dari sejak mula pertama di surga sampai ke akhir pemberontakan dan dihapuskannya dosa adalah juga satu pernyataan kasih Allah yang tidak berubah. SRNJ1 21.3
“Karunia Kristus menyatakan hati Bapa. Disaksikannya bahwa pikiran Allah terhadap kita adalah “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.” Yeremia 29:11. Hal itu menandaskan bahwa meskipun kebencian hati Allah terhadap dosa kuat laksana maut, kasih-Nya kepada orang berdosa lebih kuat daripada maut. Setelah melaksanakan penebusan kita, Ia tidak akan menahan barang sesuatu, bagaimana pun mahalnya, yang perlu untuk penyempurnaan pekerjaan-Nya. Tiada kebenaran penting yang ditahankan bagi keselamatan kita, tiada mukjizat kemurahan yang dilalaikan, tiada alat Ilahi yang tidak digunakan. Keridlaan ditimbun atas keridlaan, karunia atas karunia. Seluruh perbendaharaan surga terbuka bagi orang-orang yang hendak diselamatkan-Nya. Sesudah mengumpulkan kekayaan alam semesta, dan membukakan sumber-sumber kekuasaan yang tidak terhingga, diserahkan-Nya semuanya ini ke tangan Kristus, seraya bersabda, Semuanya ini adalah untuk manusia. Gunakanlah segala karunia ini untuk menginsafkan manusia itu bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih-Ku di dunia atau di surga. Kebahagiaannya yang terbesar akan terdapat dalam mengasihi Aku. KSZ1 47.2
Di salib Golgota, kasih dan sifat mementingkan diri tegak berhadap-hadapan. Di sinilah puncak kenyataannya. Kristus telah hidup hanya untuk menghibur dan memberkati, dan dalam membunuh Dia, Setan menyatakan kedurjanaan kebencian hatinya kepada Allah. Ditunjukkannya dengan nyata bahwa maksud pemberontakannya yang sesungguhnya ialah hendak menurunkan Allah dari takhta-Nya, dan untuk membinasakan Dia yang oleh-Nya kasih Allah ditunjukkan. KSZ1 47.3
“Apabila waktunya telah tiba, jendela-jendela surga terbuka, dan berkah surgawi mengalir deras ke seluruh dunia. Allah memberikan kepada dunia kita karunia yang luar biasa berupa Putra Tunggal-Nya. Mengingat perbuatan ini, tidak mungkin bagi penghuni dunia lain untuk mengatakan bahwa Allah dapat melakukan lebih dari yang telah Ia lakukan untuk menunjukkan kasih-Nya kepada anak-anak manusia. Ia melakukan pengorbanan yang melampaui segala pemikiran. Untuk menyelamatkan umat manusia yang telah jatuh, Ia mencurahkan seluruh harta surga dalam satu karunia.” RH January 3, 1907, par. 11
Bandingkan gambaran tentang Allah dalam Kejadian 1: 1 dan Kejadian 2: 7. Apakah yang Anda perhatikan?
“Bapa dan Anak mulai melakukan pekerjaan agung dan menakjubkan yang telah mereka rencanakan — yaitu menciptakan dunia. Bumi tercipta dari tangan Sang Pencipta dengan sangat indah. Ada gunung, bukit, dan dataran; dan di antaranya terdapat sungai dan perairan. Bumi bukanlah dataran luas yang membentang, tetapi pemandangan yang monoton itu dipecah oleh bukit dan gunung, tidak tinggi dan setajam seperti sekarang, tetapi teratur dan indah bentuknya. Batu-batu tinggi yang gundul tidak pernah terlihat di atasnya, tetapi terletak di bawah permukaan, seperti tulang bagi bumi. Air tersebar secara teratur. Bukit, gunung, dan dataran yang sangat indah dihiasi dengan tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga, dan pohon-pohon tinggi dan megah dari berbagai jenis, yang berkali-kali lebih besar dan jauh lebih indah daripada pohon-pohon sekarang. Udaranya murni dan sehat, dan bumi tampak seperti istana yang megah. Malaikat-malaikat menyaksikan dan bersukacita atas karya-karya Allah yang menakjubkan dan indah.” LHU 47.2
“Setelah bumi diciptakan, beserta binatang-binatang yang ada di atasnya, Bapa dan Anak melaksanakan tujuan mereka, yang telah dirancang sebelum kejatuhan Setan, untuk menciptakan manusia menurut gambar mereka sendiri. Mereka telah bekerja bersama dalam penciptaan bumi dan segala makhluk hidup di atasnya. Dan sekarang Allah berkata kepada Anak-Nya, “Marilah Kita menciptakan manusia menurut gambar Kita.” Ketika Adam keluar dari tangan Penciptanya, ia memiliki tinggi badan yang mulia dan simetri yang indah. Ia lebih dari dua kali lebih tinggi dari manusia yang hidup di bumi sekarang, dan proporsinya sempurna. Wajahnya sempurna dan indah.... Hawa tidak setinggi Adam. Kepalanya mencapai sedikit di atas bahu Adam. Ia juga mulia, simetris sempurna, dan sangat cantik.” LHU 47.3
Dalam Matius 1: 23, sebuah nama khusus diberikan kepada Yesus. Mengapa hal ini penting untuk memahami karakter Allah? Baca Matius 28: 20, khususnya bagian terakhir dari ayat tersebut. Bandingkan dengan Matius 1: 23. Apakah yang Anda perhatikan?
“Mereka akan menamakan Dia Imanuel,. .. Allah menyertai kita.” “Terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah” nampak “pada wajah Kristus.” Sejak masa kekekalan Tuhan Yesus Kristus satu dengan Bapa; Ialah “gambar Allah,” peta kebesaran dan keagungan-Nya, “cahaya kemuliaan-Nya.” Untuk menyatakan kemuliaan inilah Ia datang ke dunia ini. Ke bumi yang sudah digelapkan oleh dosa ini Ia datang untuk menyatakan terang kasih Allah,--menjadi “Allah menyertai kita.” Karena itulah maka telah dinubuatkan tentang Dia, “Mereka akan menamakan Dia Imanuel.” DA 19.1
“Oleh datang tinggal bersama kita, Yesus harus menyatakan Allah baik kepada umat manusia maupun kepada segala malaikat. Ialah Firman Allah, buah pikiran Allah yang diperdengarkan. Dalam doa-Nya untuk murid-murid-Nya Ia berkata, “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka,”-“penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,”-“Supaya kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Akan tetapi bukan untuk anak-anak-Nya di dunia ini saja pernyataan ini dikeluarkan. Dunia kita yang kecil ini adalah buku pelajaran semesta alam. Maksud anugerah Allah yang ajaib, rahasia kasih penebusan, ialah pokok pikiran yang “ingin diketahui oleh malaikat-malaikat,” dan yang akan menjadi mata pelajaran mereka sepanjang masa kekekalan. Baik umat tebusan maupun makhluk-makhluk yang tidak jatuh ke dalam dosa akan mendapat ilmu pengetahuan serta nyanyian mereka itu di salib Kristus. Akan tampaklah kelak bahwa kemuliaan yang bersinar pada wajah Yesus itu ialah kemuliaan kasih yang lahir dari pengorbanan diri. Dalam terang yang dari Golgota akan tampak kelak, bahwa hukum kasih yang lahir dari penyangkalan diri ialah hukum hidup untuk bumi dan surga; bahwa kasih yang “tidak mencari keuntungan diri” bersumber dalam hati Allah; dan bahwa dalam diri Pribadi yang lemah lembut dan rendah hati itu ternyata tabiat Dia yang bersemayam dalam terang, yang tidak dapat dihampiri oleh seorang pun juga.” DA 19.2
“Kehadiran Kristus yang dapat dilihat sudah hampir ditarik dari muridmurid-Nya, tetapi pemberian kuasa yang baru adalah bagian mereka. Roh Kudus harus dikaruniakan dalam kepenuhannya, memeteraikan dia untuk pekerjaannya.” AA 30.2
“Juruselamat tahu bahwa tidak ada perbedaan pendapat, meskipun ma-suk di akal, akan melunakkan hati yang keras atau menghancurkan lapisan keduniawian dan kasih akan diri sendiri. Ia mengetahui bahwa muridmurid-Nya harus menerima pemberian surga; bahwa Injil akan menge-sankan hanya bila itu dimasyhurkan oleh hati yang dihangatkan dan bibir yang difasihkan oleh pengetahuan yang hidup tentang Dia yang menjadi jalan, kebenaran dan kehidupan. Pekerjaan yang dipercayakan kepada murid-murid akan menuntut kegunaan yang besar; karena arus kejahatan berjalan dalam dan kuat terhadap mereka. Suatu pemimpin yang waspada dan tekun memegang kuasa kegelapan dan para pengikut Kristus akan dapat berperang demi kebenaran hanya oleh pertolongan Allah, dengan pertolongan Roh-Nya, yang memberikannya kepada mereka.” AA 31.1
Dengan perkataan yang kuat dan penuh harapan Juruselamat mengakhiri petunjuk-Nya. Kemudian dicurahkan-Nya beban jiwa-Nya dalam doa bagi murid-murid-Nya. Sambil menengadah ke langit, Ia berkata. “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu. yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” DA 680.2
Kristus telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada-Nya untuk dilakukan. Ia telah memuliakan Allah di bumi. Ia telah mewujudkan nama Bapa. Ia telah mengumpulkan orang-orang yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya di antara manusia. Dan Ia berkata, “Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia; tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharakanlah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” “Dan bukan untuk mereka itu saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu,... Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” DA 680.3
Demikianlah dalam bahasa seorang yang mempunyai kuasa Ilahi, Kristus menyerahkan umat pilihan-Nya kepada tangan Bapa. Sebagai imam besar yang penuh pengabdian Ia menjadi perantara bagi umat-Nya. Sebagai seorang gembala yang setia Ia menghimpunkan domba-domba-Nya di bawah naungan Yang Mahakuasa, dalam perlindungan yang kuat dan pasti. Bagi-Nya sedang menunggu pertempuran yang terakhir dengan Setan, dan Ia maju ke depan untuk menghadapinya. DA 680.4