
“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. ”KJV - Filipi 3:10-11
“Pohon yang baik itu akan menghasilkan buah yang baik. Jikalau buahnya tidak enak dan tidak berharga, pohon itu tidak baik. Demikian pula buah yang dihasilkan di dalam kehidupan menjadi saksi keadaan hati dan kesempurnaan tabiat. Perbuatan yang baik tidak dapat membeli keselamatan, tetapi perbuatan itu ialah bukti iman yang bekerja oleh kasih dan yang membersihkan jiwa. Dan walaupun upah yang kekal itu tidak diberikan sebab jasa kita, tetapi itu akan sepadan dengan pekerjaan yang telah dikerjakan melalui anugerah Kristus.” DA 314.2
“Biarlah pokok bahasan ini dijelaskan dengan terang bahwa tidak mungkin dapat mempengaruhi apapun kedudukan kita di hadapan Allah ataupun karunia pemberian Allah oleh karena perbuatan baik kita. Jika iman dan perbuatan baik dapat memperoleh keselamatan bagi siapapun, maka Sang Pencipta berkewajiban memberinya kepada ciptaan-Nya. Di sinilah kesempatan agar kepalsuan diterima sebagai kebenaran. Jika seseorang dapat memperoleh keselamatan melalui apa pun yang dilakukannya, maka ia berada dalam posisi yang sama dengan umat Katolik untuk melakukan penebusan dosa. Keselamatan, kemudian, sebagian merupakan hutang yang dapat diperoleh sebagai upah. Jika manusia tidak dapat, melalui perbuatan baiknya, memperoleh keselamatan, maka itu sepenuhnya adalah anugerah, yang diterima manusia sebagai orang berdosa karena ia menerima dan percaya kepada Yesus. Ini sepenuhnya adalah karunia cuma-cuma. Pembenaran melalui iman tidak bisa diperdebatkan lagi. Dan semua perdebatan ini berakhir, segera setelah masalahnya diselesaikan bahwa perbuatan baik manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, karena perbuatan baiknya tidak akan pernah dapat memperoleh hidup kekal—Manuskrip 36, 1890, 2, 3. (“Danger of False Ideas on Justification by Faith,” undated.)” 3MR 420.3
Bacalah Filipi 3: 1-3. Catatan positif dan negatif apa yang Paulus sampaikan di sini, dan bagaimanakah keduanya saling berhubungan? Bagaimanakah ia menggambarkan orang-orang percaya?
Meskipun kehidupan Kristen akan ditandai oleh kerendahan hati, tetapi tidak mesti ditandai oleh kesedihan dan rendah diri. Adalah kesempatan setiap orang untuk hidup sedemikian rupa sehingga Allah berkenan kepadanya dan memberkatinya. Bukanlah kehendak Bapa surgawi kita agar kita tetap di bawah hukum dan kegelapan. Kepala yang selalu tertunduk dan hati yang dipenuhi dengan pemikiran diri sendiri bukanlah bukti kerendahan hati yang sejati. Kita boleh datang kepada Yesus dan dibasuh, dan berdiri di hadapan hukum tanpa malu dan perasaan bersalah yang mendalam. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” (Roma 8:1). GC 477.2
Melalui Kristus anak-anak Adam yang jatuh menjadi “anak-anak Allah.” “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.” (Ibrani 2:11). Kehidupan Kristen haruslah merupakan suatu kehidupan iman, kemenangan dan sukacita di dalam Allah. “Sebab semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4). Hamba Allah, Nehemia berkata dengan sungguh-sungguh, “Sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:11). Dan Rasul Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (Filipi 4:4; 1 Tes. 5:16-18). GC 477.3
Demikianlah buah-buah pertobatan dan pengudusan menurut Alkitab; dan adalah oleh karena prinsip-prinsip kebenaran agung yang terdapat di dalam hukum Allah begitu disepelekan oleh dunia Kristen, sehingga buah-buah ini begitu jarang dapat disaksikan. Itulah sebabnya mengapa sedikit saja terlihat pekerjaan Roh Allah yang dalam, yang menandai kebangunan rohani pada tahun-tahun terdahulu. GC 478.1
Adalah oleh memandang kita berubah. Dan pada waktu ajaran-ajaran kudus di mana Allah telah membukakan kepada manusia penyempurnaan dan penyucian tabiat-Nya dilalaikan, dan pikiran orang-orang telah ditarik kepada ajaran-ajaran dan teori-teori manusia, maka tidak heran kalau terjadi kemerosotan dalam kesalehan yang hidup di gereja. Tuhan berkata, “Mereka meninggalkan Aku, sumber air hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” (Yeremia 2:13). GC 478.2
“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut hasihat orang fasik ... tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1.3). Hanya kalau hukum Allah dikembalikan kepada kedudukannya yang benar barulah ada kebangunan iman yang sederhana dan kesalehan di antara umat-umat-Nya. “Beginilah firman Tuhan: Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan.” (Yeremia. 6:16). GC 478.3
Dalam Filipi 3: 4-6; Paulus menunjukkan banyak hal dalam hidupnya yang pernah ia banggakan. Apa sajakah itu? Bagaimanakah Anda menggambarkan hal-hal “baik" dalam hidup Anda sendiri (baik di masa lalu maupun sekarang)?
Yang terkemuka di antara para pemimpin Yahudi yang menjadi sangat tenar oleh kemajuan yang menyertai pekabaran Injil adalah Saulus dari Tarsus. Seorang warga negara Roma oleh kelahiran, meskipun demikian Saulus adalah seorang Yahudi oleh keturunan dan telah dididik di Yerusalem oleh yang paling terkenal dari rabi-rabi. “Dari bangsa Israel, dari suku Benyamin,” Saulus adalah “orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Filipi 3:5, 6. Ia dianggap oleh rabi-rabi sebagai seorang muda yang memiliki harapan yang besar, dan pengharapan yang tinggi yang dihargai tentang dia sebagai seorang pembela yang sanggup dan bersemangat dari iman yang terdahulu. Pengangkatannya kepada keanggotaan dalam rapat Sanhedrin menempatkan dia dalam kedudukan penguasa. AA 112.1
Saulus telah mengambil bagian yang mencolok dalam ujian dan keyakinan Stefanus, dan bukti yang nyata dari kehadiran Allah dengan orang yang mati syahid itu, telah memimpin Saulus untuk meragukan kebenaran pekerjaannya melawan pengikut-pengikut Yesus. Pikirannya sangat kacau. Dalam kebimbangannya ia meminta nasihat kepada mereka yang kebijaksanaan dan penilaiannya ia percayai sepenuhnya. Bantahan rabi-rabi dan penghulu-penghulu akhirnya meyakinkan kepadanya bahwa Stefanus adalah seorang pengkhianat, bahwa Kristus yang dikhotbahkan oleh murid-murid yang mati syahid adalah seorang penipu, dan bahwa mereka yang melayani di tempat yang suci pastilah benar. AA 112.2
Bukannya tanpa ujian yang keras Saulus tiba pada kesimpulan ini. Tetapi pada akhirnya pendidikan dan prasangkanya, kehormatannya untuk guru-gurunya yang dulu, dan kesombongannya akan kepopuleran menguatkan dia untuk memberontak terhadap suara angan-angan hati dan anugerah Allah. Dan setelah sepenuhnya yakin bahwa imam-imam dan ahli-ahli taurat itu benar, Saulus menjadi sengit dalam pertentangannya terhadap doktrin yang diajarkan oleh murid-murid Yesus. Kegiatannya dalam menyebabkan pria dan wanita yang suci ditarik di hadapan pengadilan, di mana beberapa orang dipersalahkan untuk dimasukkan ke dalam penjara dan beberapa orang sampai kepada kematian, hanya karena iman mereka kepada Yesus, membawa kesedihan dan kemurungan kepada sidang yang baru di organisasi itu dan menyebabkan banyak orang mencari keselamatan dalam pelarian. AA 113.1
Mereka yang diusir dari Yerusalem oleh penganiayaan ini “menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.” Kisah 8:4. Dan di antara kota-kota ke mana mereka pergi termasuk Damsyik, di mana iman yang baru itu memperoleh banyak orang bertobat. AA 113.2
Imam-imam dan para penguasa telah mengharapkan bahwa oleh usaha yang sungguh-sungguh dan penganiayaan yang keras kemurtadan itu harus ditekan. Sekarang mereka merasa bahwa mereka harus melaksanakan di tempat lain tindakan tegas yang telah diambil di Yerusalem terhadap ajaran yang baru. Untuk pekerjaan yang istimewa yang mereka ingin lakukan di Damsyik, Saulus menawarkan jasanya. “Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.” Demikianlah “dengan kuasa penuh dan tugas dari imam-imam kepala” (Kisah 26:12), Saulus dari Tarsus, dalam kekuatan dan kesigapan seorang muda, dan didorong oleh semangat yang salah, memulai perjalanan yang tak terlupakan itu, kejadian yang aneh yang harus mengubahkan seluruh arus kehidupannya. AA 113.3
Pada hari yang terakhir dari perjalanan, “pada tengah hari bolong” sebagai pengelana-pengelana yang lelah mendekati Damsyik, mereka melihat hamparan luas tanah-tanah yang subur, kebun-kebun yang indah, dan kebun buah-buahan yang subur, diairi dengan aliran yang sejuk dari gunung-gunung sekelilingnya. Sesudah perjalanan yang panjang pada tanah tandus yang sunyi, pemandangan seperti itu sungguh menyegarkan. Sementara Saulus, dengan teman-temannya, memandang dengan kekaguman akan dataran yang subur dan kota yang indah di bawahnya, “tiba-tiba,” sebagaimana ia menyatakan sesudah itu, cahaya “turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku” “cahaya dari langit, yang lebih terang dari pada cahaya matahari” (Kisah 26:13), terlalu mulia untuk mata yang fana menahannya. Dibutakan dan bingung, Saulus jatuh tersungkur ke tanah. AA 114.1
Sementara terang terus bersinar sekeliling mereka, Saulus ‘mendengar suatu suara yang mengatakan… dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Dan ia menjawab: Siapakah Engkau, Tuhan? Dan Tuhan menjawab: Akulah Yesus yang engkau aniaya: sukar bagimu menendang ke galah rangsang.” Kisah 26:14. AA 114.2
Dalam Yohanes 9 menceritakan kisah seorang yang dahulu buta tetapi kemudian melihat Yesus dengan jelas. Yesus berkata bahwa la datang ke dunia "supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta” (Yoh. 9: 39). Bagaimanakah prinsip ini dapat diterapkan dalam hidup Anda sendiri?
“Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat menjadi buta ” Yesus telah datang untuk mencelikkan mata orang yang buta, untuk memberikan terang kepada mereka yang duduk dalam kegelapan. Ia telah menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia, dan mukjizat yang baru saja diadakan membuktikan tugas-Nya. Orang-orang yang memandang Juruselamat pada kedatangan-Nya dianugerahi pertunjukan hadirat Ilahi yang lebih penuh daripada yang pernah dinikmati oleh dunia sebelumnya. Pengetahuan akan Allah dinyatakan dengan lebih sempurna. Tetapi, justru dalam penyataan inilah hukuman sedang menimpa mereka. Tabiat mereka diuji, dan nasib mereka ditentukan. KSZ2 91.1
Pertunjukan kuasa Ilahi telah memberi orang yang tadinya buta penglihatan jasmani dan rohani telah membiarkan orang Farisi dalam kegelapan yang lebih gelap lagi. Beberapa dari antara pendengar-Nya, merasa bahwa perkataan Kristus ditujukan kepada mereka yang bertanya, “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa.” Jika Allah tidak memungkinkan kamu melihat kebenaran, maka kurangnya pengetahuan itu tidak akan melibatkan kamu dalam kesalahan. Tetapi karena kamu berkata: Kami melihat.” Kamu percaya bahwa kamu sendiri dapat melihat dan menolak cara yang hanya olehnya kamu mendapat penglihatan. Kepada semua orang yang menyadari keperluan mereka, Kristus datang dengan pertolongan yang tidak terbatas. Tetapi orang Farisi tidak mau mengakui keperluan mereka, mereka enggan datang kepada Kristus, itulah sebabnya mereka ditinggalkan dalam kegelapan, – suatu kegelapan yang untuk itu mereka sendiri bersalah. Yesus berkata, Maka tetaplah dosamu itu.” KSZ2 91.2
“Orang-orang Farisi secara rohani buta, dan mereka adalah pemimpin-pemimpin orang buta. Kebutaan fisik yang disembuhkan Yesus pada orang yang lahir buta, tidak seberbahaya kebutaan moral mereka yang memiliki begitu banyak bukti mengenai sifat ilahi Penebus dunia, namun mereka menutup mata pengertian mereka dan menolak untuk melihat, karena mereka terlalu sombong untuk menerima pengajaran dari Kristus. Mereka mengklaim diri mereka berpengetahuan dalam Kitab Suci, memiliki penglihatan rohani, namun mereka menjadikan spesifikasi yang paling jelas tentang Kristus sebagai hal yang berbeda dari apa yang dicatat dalam kitab-kitab. ‘Tanah Zabulon dan tanah Naftali, melalui laut, di seberang Yordan, Galilea orang-orang kafir; orang-orang yang duduk dalam kegelapan melihat cahaya yang besar; dan bagi mereka yang duduk di daerah dan bayang-bayang maut, cahaya telah terpancar. Cahaya dunia bersinar di tengah kegelapan moral, dan kegelapan itu tidak memahaminya. Kegelapan yang membutakan pikiran para Farisi jauh lebih menyedihkan daripada kegelapan yang membutakan mata orang yang lahir buta.” ST November 6, 1893, par. 2
Berada “dalam Dia,” yaitu dalam Kristus, adalah suatu ungkapan yang menarik. Bacalah Efesus 1: 4; 2 Korintus 5: 21; Kolose 2: 9, dan Galatia 2: 20. Berdasarkan ayat-ayat ini, menurut Anda, apakah yang Paulus maksudkan dengan gagasan ini?
Dalam janji-janji dan amaran-amaran-Nya, Yesus tujukan kepada setiap orang. Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, jangan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Pengalaman-pengalaman yang diceritakan dalam firman Allah hendaknya menjadi pengalaman saya juga. Doa dan janji, ajaran dan amaran, adalah untuk saya. “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Gal. 2:19, 20. Bila iman menerima dan menyelami prinsip-prinsip kebenaran dengan cara demikian, itu menjadi bagian dari kehidupan serta kuasa pendorong bagi kehidupan. Firman Allah itu, bila diterima ke dalam jiwa, mengubahkan pikiran, dan masuk ke dalam perkembangan tabiat. DA 390.5
Oleh selalu memandang kepada Yesus dengan mata iman, kita akan dikuatkan. Allah akan mengadakan wahyu yang paling berharga kepada umat-Nya yang lapar dan haus. Mereka akan mendapati bahwa Kristus adalah Juruselamat pribadi. Bila mereka makan dari firman-Nya, mereka mendapati bahwa firman itu adalah roh dan hidup. Firman itu memusnahkan sifat bawaan, dan sifat duniawi, dan memberikan suatu hidup yang baru dalam Kristus Yesus. Roh Kudus datang ke dalam jiwa sebagai Penghibur. Oleh rahmat-Nya yang mengubahkan itu, peta Allah dihasilkan kembali pada murid itu; ia menjadi suatu kejadian yang baru. Kasih menggantikan kebencian, dan hati menerima kesamaan Ilahi. Inilah yang dimaksudkan oleh hidup “dengan setiap firman yang keluar daripada mulut Allah.” Inilah yang dimaksudkan dengan makan Roti yang berasal dari surga. DA 391.1
Bacalah Filipi 3: 9. Apakah dua hal yang Paulus bandingkan, dan mengapa perbandingan ini penting untuk selalu kita ingat?
“Membaca dan mengajarkan Alkitab adalah satu hal, dan mempraktikkan prinsip-prinsipnya yang memberi hidup dan menguduskan yang tertanam dalam jiwa adalah hal lain.... “Oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman” (Efesus 2:8). Pikiran harus dididik untuk menjalankan iman daripada memelihara keraguan, kecurigaan, dan iri hati. Kita terlalu mudah menganggap rintangan sebagai hal yang mustahil. Memiliki iman pada janji-janji Allah, untuk maju dengan iman, terus maju tanpa dikendalikan oleh keadaan, adalah pelajaran yang sulit dipelajari. Namun, sangat penting bagi setiap anak Allah untuk mempelajari pelajaran ini. Kasih karunia Allah melalui Kristus harus selalu dihargai, karena itu diberikan kepada kita sebagai satu-satunya jalan untuk mendekati Allah.... HP 109.2
“Iman yang disebutkan dalam Firman Tuhan menuntut kehidupan di mana iman kepada Kristus merupakan prinsip yang aktif dan hidup. Adalah kehendak Tuhan agar iman kepada Kristus disempurnakan oleh perbuatan; Ia menghubungkan keselamatan dan hidup kekal orang-orang yang percaya dengan perbuatan-perbuatan ini, dan melalui perbuatan-perbuatan itu Ia menyediakan terang kebenaran untuk sampai ke semua negeri dan bangsa. Inilah buah dari pekerjaan Roh Kudus.” HP 109.3
“Kita menunjukkan iman kita kepada Tuhan dengan menaati perintah-perintah-Nya. Iman selalu diungkapkan dalam perkataan dan perbuatan. Iman menghasilkan hasil nyata, karena merupakan unsur penting dalam kehidupan. Kehidupan yang dibentuk oleh iman mengembangkan tekad untuk maju, untuk melangkah ke depan, mengikuti jejak Kristus.” HP 109.4
Bacalah Filipi 3: 10-16. Apa sajakah poin utama yang Paulus sampaikan dalam ayat-ayat ini?
“Panggilan Paulus menuntutnya untuk melayani dalam berbagai bentuk—bekerja dengan tangannya untuk mencari nafkah, mendirikan gereja-gereja, menulis surat kepada gereja-gereja yang sudah ada. Namun di tengah berbagai pekerjaan ini, ia menyatakan, “Hanya satu hal yang kulakukan.” (Filipi 3:13). Satu tujuan yang selalu dipegang teguh dalam semua pekerjaannya adalah setia kepada Kristus, yang, ketika ia menghujat nama-Nya dan menggunakan segala cara yang dimilikinya untuk membuat orang lain menghujatnya, telah menyatakan diri-Nya kepadanya. Satu-satunya tujuan besar dalam hidupnya adalah untuk melayani dan menghormati Dia yang nama-Nya pernah membuatnya hina. Satu-satunya keinginannya adalah untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Juruselamat. Orang Yahudi dan bukan Yahudi mungkin menentang dan menganiaya dia, tetapi tidak ada yang dapat mengalihkan dia dari tujuannya.” SR 310.3
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, ia menggambarkan pengalamannya sebelum dan sesudah pertobatannya. “Jika ada orang lain yang mengira bahwa ia mempunyai sesuatu yang dapat diandalkan dalam daging,” katanya, “aku lebih dari itu: disunat pada hari kedelapan, dari keturunan Israel, dari suku Benyamin, seorang Ibrani dari orang Ibrani; mengenai hukum Taurat, aku seorang Farisi; mengenai semangat, aku menganiaya jemaat; mengenai kebenaran yang ada dalam hukum Taurat, aku tidak bercela.” Filipi 3:4-6. SR 311.1
Setelah pertobatannya, kesaksiannya adalah: SR 311.2
“‘Sesungguhnya, segala sesuatu kuanggap sebagai kerugian demi keunggulan pengetahuan tentang Kristus Yesus, Tuhanku. Karena Dialah aku telah kehilangan segala sesuatu dan menganggapnya sebagai sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan didapati di dalam Dia, bukan dengan kebenaran yang berasal dari hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran yang diperoleh melalui iman di dalam Kristus, yaitu kebenaran yang berasal dari Allah melalui iman.’ Filipi 3:8-9, A.R.V. SR 311.3
“Kebenaran yang sebelumnya sangat berharga baginya kini tak berharga di matanya. Kerinduan jiwanya adalah: “Supaya aku mengenal Dia, dan kuasa kebangkitan-Nya, dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dan menjadi serupa dengan kematian-Nya, supaya aku dapat mencapai kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah mencapainya, atau telah sempurna, tetapi aku terus berusaha, supaya aku dapat mencapai apa yang telah ditetapkan Kristus Yesus untukku. Saudara-saudara, aku tidak menganggap diriku telah mencapainya, tetapi satu hal ini yang kulakukan: melupakan hal-hal yang di belakang dan mengarahkan pandanganku kepada hal-hal yang di depan, aku terus berusaha mencapai tujuan untuk memperoleh hadiah panggilan Allah yang tinggi dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:10-14. SR 311.4
Pertobatan Saulus adalah bukti yang mencolok tentang kuasa yang ajaib dari Roh Kudus untuk meyakinkan manusia dari dosa. Ia sudah percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Yesus dari Nazaret telah meniadakan hukum Allah dan bahwa Ia telah mengajar kepada murid-murid-Nya bahwa hal itu tidak lagi berpengaruh. Tetapi sesudah pertobatannya, Saulus mengakui Yesus sebagai seorang yang telah datang ke dunia ini dengan maksud yang jelas untuk mempertahankan hukum Bapa-Nya. Ia diyakinkan bahwa Yesus adalah asal mula dari seluruh sistem pengorbanan Yahudi. Ia melihat bahwa pada penyaliban itu, contoh telah menemui contoh saingannya, bahwa Yesus telah menggenapi nubuatan Perjanjian Lama mengenai Penebus bangsa Israel. AA 120.2
Dalam catatan mengenai pertobatan Saulus prinsip penting diberikan kepada kita, yang harus selalu kita ingat. Saulus dibawa langsung ke hadirat Kristus. Ia adalah seorang yang dimaksudkan oleh Kristus untuk pekerjaan yang paling penting, seorang yang harus dipilih sebagai “bejana pilihan” bagi-Nya; tetapi Tuhan tidak dengan segera mengatakan kepadanya tentang pekerjaan yang telah ditentukan baginya. Ia menghentikan dia pada jalannya dan menyadarkan dia akan dosa; tetapi saat Saulus bertanya, ‘Apakah yang akan saya perbuat?’ Juruselamat menempatkan orang Yahudi yang sedang bertanya-tanya itu dalam hubungan dengan sidang-Nya, di sanalah ia memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah mengenai dia. AA 120.3
Terang yang ajaib yang menerangi kegelapan Saulus adalah pekerjaan Tuhan; tetapi ada juga suatu pekerjaan yang harus dilakukan baginya oleh murid-murid. Kristus telah melakukan pekerjaan penyingkapan dan penghakiman; dan sekarang orang yang bertobat itu berada dalam keadaan untuk belajar dari mereka yang telah ditentukan Allah untuk mengajarkan kebenaran-Nya. AA 121.1