
“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” KJV- Yosua 24:15
“Saat Yosua menjelang akhir hidupnya, ia mulai meninjau kembali masa lalu dengan dua alasan—membimbing Israel umat Allah untuk bersyukur atas manifestasi nyata pemeliharaan Allah dalam semua perjalanan mereka, dan untuk membimbing mereka kepada kerendahan hati untuk menyadari akan persungutan dan protes serta kelalaian mereka yang tidak beralasan dalam menuruti kehendak Allah yang dinyatakan.” 4MR 220.1
“Yosua kemudian memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh terhadap penyembahan berhala di sekitar mereka. Mereka diperingatkan untuk tidak berhubungan dengan orang-orang penyembah berhala, tidak menikah dengan mereka, dan tidak berhubungan dengan cara apapun yang membahayakan diri mereka sendiri agar tidak terpengaruh dan dirusak oleh kekejian mereka. Mereka dinasihatkan untuk menjauhi segala bentuk kejahatan, tidak bermain-main dengan batasan-batasan dosa, karena ini adalah cara paling nyata untuk terjerumus ke dalam dosa dan kehancuran. Ia menunjukkan kepada mereka bahwa kehancuran akan terjadi akibat dari menjauhkan diri dari Allah, dan sebagaimana Allah setia pada janji-Nya, Ia juga akan setia dalam melaksanakan ancaman-Nya. Tuhan ingin kamu menerapkan ini pada diri kamu sendiri.” 4MR 220.2
Bacalah Yosua 24: 2-13. Apakah dorongan utama dari pesan Allah kepada Israel?
Sebelum kematian Yosua, pemimpin-pemimpin dan wakil-wakil dari suku bangsa itu, sesuai dengan perintahnya, telah berhimpun bersama-sama di Sikhem. Tidak ada satu tempat di seluruh negeri itu yang mempunyai begitu banyak kenangan yang suci, yang dapat mengalihkan ingatan mereka kembali kepada perjanjian Allah dengan Abraham dan Yakub, serta mengingatkan mereka kepada perjanjian mereka yang khidmat pada waktu mereka memasuki Kanaan. Di tempat inilah terdapat Bukit Ebal dan Gerizim, saksi-saksi yang diam dari janji-janji yang sekarang, di hadapan pemimpin mereka yang tidak lama lagi akan mati, akan mereka perbarui. Di sekeliling mereka terdapat bukti-bukti dari yang telah diperbuat Allah bagi mereka; bagaimana Ia telah memberikan kepada mereka suatu negeri yang mereka tidak pernah usahakan, dan kota-kota yang tidak pernah mereka dirikan, kebun-kebun anggur dan pohon zaitun yang tidak pernah mereka tanam. Yosua mengulangi kembali sejarah Israel, mengingatkan kembali akan pekerjaan Allah yang ajaib, agar supaya semua orang mempunyai satu perasaan akan kasih dan rahmat-Nya, dan mau melayani Dia “dengan tulus ikhlas dan setia.” PP 522.4
Oleh perintah Yosua tabut perjanjian diangkat dari Silo. Peristiwa ini merupakan sesuatu yang amat khidmat, dan lambang hadirat Allah ini akan memperdalam kesan yang ia mau tanamkan di dalam diri orang banyak itu. Setelah menghadapkan segala kebajikan Allah terhadap Israel, ia mengajak mereka, di dalam nama Tuhan, untuk memilih siapa yang akan mereka layani. Sebegitu jauh perbaktian kepada berhala masih tetap dijalankan dengan sembunyi-sembunyi, dan Yosua berusaha sekarang ini untuk membawa mereka kepada satu keputusan yang akan melenyapkan dosa ini dari Israel. “Tetapi jika kamu untuk beribadah kepada TUHAN,” katanya, “pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Yosua ingin menuntun mereka untuk beribadah kepada Allah, bukan oleh paksaan, melainkan dengan tulus hati. Kasih kepada Allah adalah dasar dari agama. Ikut serta dalam pelayanan-Nya dengan didorong hanya oleh pengharapan akan mendapat pahala atau takut menerima hukuman, tidak ada gunanya sama sekali. Kemurtadan yang terang-terangan tidaklah lebih menghina Tuhan daripada kemunafikan dan perbaktian yang hanya sekadar rupa saja. PP 523.1
Apa imbauan Yosua kepada bangsa Israel untuk dilakukan? (Yos. 24: 14, 15). Apakah artinya melayani Tuhan dengan tulus dan dalam kebenaran?
Pemimpin yang sudah tua itu mengajak orang banyak itu untuk memikir-mikirkan, baik buruknya, apa yang telah dihadapkannya kepada mereka, dan mengambil keputusan apakah mereka benar-benar ingin hidup seperti bangsa-bangsa penyembah berhala yang sudah rusak, yang ada di sekeliling mereka. Jikalau kelihatannya tidak baik bagi mereka untuk menyembah Tuhan, sumber kuasa itu, pancaran berkat, biarlah mereka pada hari itu juga mengambil keputusan siapakah yang akan mereka sembah, – “Allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah,” dari siapa Abraham telah dipanggil keluar, “atau Allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” Pesan-pesan yang terakhir ini merupakan satu tempelakan yang keras kepada Israel. Berhala-berhala orang Amori tidak pernah sanggup untuk melindungi orang-orang yang menyembahnya. Oleh sebab dosa-dosa mereka yang keji dan merusak itu, bangsa-bangsa yang jahat itu telah dibinasakan, dan negeri yang baik yang dahulu mereka miliki telah diberikan kepada umat Allah. Betapa bodohnya bagi Israel untuk memilih menyembah dewa-dewa untuk mana bangsa Amori telah dibinasakan! “Tetapi aku dan seisi rumahku,” kata Yosua, “kami akan beribadah kepada TUHAN!” Semangat suci yang sama yang telah memberikan ilham ke dalam hati pemimpin itu telah disampaikan kepada bangsa itu. Ajakannya telah merangsang sambutan yang tidak berlambatan, “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada Allah lain! PP 523.2
“Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN,” kata Yosua, “sebab Dialah Allah yang kudus; ... Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Sebelum pembaruan yang tetap bisa diadakan, orang banyak itu harus dipimpin untuk merasakan akan ketidaksanggupan mereka, oleh mereka sendiri, untuk menurut Tuhan. Mereka telah melanggar hukum-Nya, itu telah menghukum mereka sebagai pelanggar-pelanggar, dan itu tidak menyediakan jalan untuk melepaskan diri. Sementara mereka berharap kepada kekuatan dan kebenaran mereka sendiri, maka tidak mungkin bagi mereka memperoleh keampunan dari dosa-dosa mereka; mereka tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan hukum Allah yang sempurna itu, dan adalah sia-sia bagi mereka untuk berjanji melayani Allah. Hanyalah oleh iman dalam Kristus di mana mereka bisa memperoleh keampunan dari dosa, dan menerima kekuatan untuk menurut hukum Allah. Mereka harus berhenti bergantung kepada usaha mereka untuk memperoleh keselamatan, mereka harus dengan sepenuhnya berharap kepada jasa Juruselamat yang telah dijanjikan itu, jikalau mereka mau berkenan kepada Allah. PP 524.1
Apa tanggapan Israel terhadap seruan Yosua? (Yos. 24: 16-18). Menurut Anda, mengapa Yosua bereaksi seperti itu terhadap jawaban mereka? (Yos. 24: 19-21).
Yosua berusaha menuntun para pendengarnya untuk menimbang-nimbang kata-kata mereka, dan menahan diri daripada mengadakan janji-janji yang mereka belum bersedia untuk menggenapinya. Dengan kesungguh-sungguhan yang dalam mereka mengulangi kembali ucapan mereka, “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah!” Sambil dengan khidmat menyetujui akan saksi-saksi terhadap diri mereka bahwa mereka telah memilih Tuhan, sekali lagi mereka telah mengulangi janji setia mereka: “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan Firman-Nya akan kami dengarkan.” SRNJ2 137.2
“Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.” Setelah menuliskan peristiwa yang khidmat ini sebagai satu catatan, ia telah meletakkannya, bersama-sama dengan kitab Taurat itu, di samping tabut perjanjian. Dan ia telah mendirikan satu tiang sebagai suatu peringatan, sambil berkata, “Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala Firman TUHAN yang diucapkanNya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu. Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya.” SRNJ2 138.1
Israel adalah harta karun yang istimewa bagi Tuhan. Penghargaan yang tinggi yang diberikan-Nya kepada mereka terlihat dari mukjizat-mukjizat besar yang dilakukan untuk kepentingan mereka. Seperti seorang ayah memperlakukan anak kesayangannya, demikianlah Tuhan menolong, mendisiplinkan, dan menegur Israel. Ia berusaha menanamkan dalam hati mereka cinta terhadap karakter dan tuntutan-Nya, yang akan membawa mereka kepada ketaatan yang sukarela.ST May 26, 1881, par. 6
“Melalui umat-Nya, Israel, Allah berencana untuk memberikan kepada dunia pengetahuan tentang kehendak-Nya. Janji-janji-Nya dan peringatan-peringatan-Nya, petunjuk-petunjuk-Nya dan teguran-teguran-Nya, serta perwujudan-perwujudan kuasa-Nya yang luar biasa di antara mereka—baik dalam berkat bagi ketaatan maupun hukuman bagi pelanggaran dan kemurtadan—semuanya dirancang untuk pendidikan dan pengembangan prinsip-prinsip agama di antara umat Allah hingga akhir zaman. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal sejarah umat Ibrani dan merenungkan dengan seksama cara Allah berurusan dengan mereka.” ST May 26, 1881, par. 7
Bacalah Yosua 24: 22-24. Mengapa Yosua perlu mengulangi seruannya kepada orang Israel untuk menyingkirkan berhala-berhala mereka?
“Namun Yosua memperingatkan bangsa itu agar tidak membuat janji-janji gegabah yang tidak mereka sanggupi, tetapi agar mempertimbangkan dengan cermat masalah tersebut, dan memutuskan langkah mereka selanjutnya. “Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.” Dengan setia ia berusaha membangkitkan kesadaran mereka akan tuntutan Tuhan atas mereka, dan keyakinan yang lebih dalam bahwa keselamatan mereka hanya ada dalam ketaatan terhadap hukum-Nya. ST May 26, 1881, par. 3
“Jemaat menjawab dengan satu suara, “Kami akan melayani Tuhan. Lalu Yosua berkata kepada bangsa itu, “Kamu adalah saksi-saksi terhadap dirimu sendiri bahwa kamu telah memilih Tuhan untuk melayani Dia.” Dan mereka menjawab, “Kami adalah saksi-saksi. Karena itu, buanglah (kata Yosua) allah-allah asing yang ada di antara kamu, dan condongkanlah hatimu kepada Tuhan Allah Israel. Lalu bangsa itu berkata kepada Yosua, “Tuhan Allah kami akan kami layani, dan suara-Nya akan kami taati.” ST May 26, 1881, par. 4
Perjanjian khidmat ini dicatat dalam kitab hukum, untuk dipelihara secara suci. Kemudian Yosua mendirikan sebuah batu besar di bawah pohon ek yang berada di dekat tempat kudus Tuhan. “Dan Yosua berkata kepada seluruh umat: Lihatlah, batu ini akan menjadi saksi bagi kita, karena batu ini telah mendengar segala firman Tuhan yang telah diucapkan-Nya kepada kita. Karena itu, batu ini akan menjadi saksi bagi kamu, supaya kamu jangan mengingkari Allahmu.” Di sini Yosua dengan jelas menyatakan bahwa petunjuk dan peringatannya kepada bangsa itu bukanlah kata-katanya sendiri, melainkan kata-kata Allah. Batu besar ini akan berdiri untuk menjadi saksi bagi generasi-generasi mendatang tentang peristiwa yang didirikan untuk memperingatinya, dan akan menjadi saksi melawan bangsa itu, jika mereka kembali terjerumus ke dalam penyembahan berhala. ST May 26, 1881, par. 5
Israel adalah harta istimewa kepunyaan Tuhan. Penghargaan tinggi yang diberikan-Nya kepada mereka ditunjukkan oleh mukjizat-mukjizat dahsyat yang dilakukan untuk mereka. Seperti seorang ayah memperlakukan anak kesayangannya, demikianlah Tuhan menolong, mendisiplinkan, dan menghukum Israel. Ia berusaha menanamkan dalam hati mereka kasih akan tabiat dan tuntutan-Nya yang akan menuntun mereka pada ketaatan yang rela. ST May 26, 1881, par. 6
Bacalah kata-kata penutup kitab Yosua yang ditulis oleh editor yang diilhami (Yos. 24: 29-33). Bagaimanakah kata-kata ini tidak hanya melihat ke belakang kepada kehidupan Yosua tetapi juga melihat ke masa depan?
Pidato perpisahan Yosua kepada bangsa Israel meninggalkan kesan yang mendalam pada mereka. Mereka menyadari bahwa mereka sedang mendengarkan kesaksian terakhirnya, dan bahwa tidak ada rasa bangga, ambisi, atau kepentingan pribadi yang dapat mempengaruhi dirinya. Melalui pengalaman yang panjang, pemimpin yang sudah lanjut usia itu telah belajar cara paling efektif untuk menyentuh hati rakyat. Ia menyadari pentingnya kesempatan saat itu, dan memanfaatkannya sebaik mungkin. ST May 26, 1881, par. 1
“Seruan tulusnya memicu respons: ‘Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui, TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita.’” ST May 26, 1881, par. 2
Pekerjaan Yosua bagi Israel telah berakhir. Ia “telah menurut TUHAN pada segenap jalannya,” dan di dalam buku Allah ia dicatat sebagai, “Hamba TUHAN.” Kesaksian yang paling agung tentang tabiatnya sebagai seorang pemimpin orang banyak adalah sejarah generasi yang telah menikmati usahanya: “Orang Israel beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama daripada Yosua.” PP 524.4
“Kepada kita hari ini Kristus berkata, ‘Tanpa Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.’ Dia lebih kuat daripada kekuatan manusia yang paling kuat. Semakin lemah engkau menyadari dirimu, semakin engkau harus menyadari kebutuhan untuk bersandar pada Guru Agung, dan semakin engkau dapat menjadi kuat dalam kekuatan-Nya. Dalam kelemahanmu, Dia akan menyempurnakan kekuatan-Nya. Kuduskanlah Tuhan Allah semesta alam, dan jadikanlah Dia ketakutanmu, dan jadikanlah Dia kekagumanmu. Hanya percayalah kepada-Nya; dan meskipun lemah, Dia akan menguatkanmu; meskipun lesu, Dia akan menghidupkanmu kembali; meskipun terluka, Dia akan menyembuhkanmu. YI June 20, 1901, par. 6
“Manusia tidak memperoleh apapun dengan mendahului Tuhan. Banyak orang mengira bahwa kemampuan mereka sendiri sudah cukup untuk suatu usaha. Demikianlah Musa berpikir ketika ia membunuh orang Mesir. Namun ia terpaksa melarikan diri ke padang gurun untuk menyelamatkan nyawanya. Di sana ia menggembalakan domba selama empat puluh tahun, hingga ia belajar menjadi gembala bagi manusia. Ia belajar pelajaran itu dengan sempurna sehingga meskipun Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berbicara dengannya muka dengan muka, seperti seorang berbicara kepada sahabatnya, ia tidak menjadi sombong. ‘Ikutlah Aku,’ kata Yesus. Janganlah berlari mendahului Aku. Ikutilah ke mana jejak langkah-Ku menuntun jalan. Maka kamu tidak akan menghadapi pasukan Setan sendirian. Biarkanlah Aku berjalan di depanmu, dan kamu tidak akan dikalahkan oleh rencana musuh.” YI June 20, 1901, par. 7