“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” KJV - Roma 5:3-5
“Augsburg telah ditetapkan sebagai tempat pengadilan, dan Sang Reformator berangkat berjalan kaki untuk melakukan perjalanan ke sana. Kekhawatiran serius menghantui dirinya. Ancaman telah dilontarkan secara terbuka bahwa ia akan ditangkap dan dibunuh dalam perjalanan, sehingga teman-temannya memohon agar ia tidak mengambil risiko. Bahkan, mereka memintanya meninggalkan Wittenberg untuk sementara waktu, dan berlindung pada mereka yang dengan senang melindunginya. Tetapi ia tidak akan meninggalkan posisi di mana Allah telah menempatkannya, ia harus terus setia mempertahankan kebenaran, meskipun badai menerpa. Inilah ucapannya: ‘Aku seperti Yeremia, seorang yang penuh pertikaian dan pertentangan, tetapi semakin besar ancaman mereka, semakin besar pula sukacitaku.... Mereka telah menghancurkan kehormatan dan reputasiku. Hanya satu hal yang tersisa; yaitu tubuhku yang malang: biarlah mereka mengambilnya; dengan demikian mereka akan mempersingkat hidupku beberapa jam. Tetapi mengenai jiwaku, mereka tidak dapat mengambilnya. Ia yang rindu menyiarkan firman Kristus ke dunia ini, harus mengharapkan kematian setiap saat,“ —Ibid,b. 4, ch. 4. GC 134.3
Bacalah kembali kisah badai ini dalam Markus 4: 35-41. Pelajaran iman apakah yang bisa Anda ambil dari peristiwa ini?
Sebagaimana Yesus bersandar oleh iman pada penjagaan Bapa, demikian pula kita harus bersandar pada penjagaan Juruselamat kita. Jikalau murid-murid itu berharap kepada-Nya, mereka pasti akan mendapat kedamaian. Ketakutan mereka saat menghadapi bahaya menunjukkan mereka kurang percaya. Dalam usaha mereka menyelamatkan diri, mereka melupakan Yesus; dan hanyalah pada waktu mereka berada dalam putus harap dan tiada berdaya lagi, barulah mereka memandang kepada-Nya supaya Ia dapat memberikan pertolongan kepada mereka. DA 336.2
Betapa sering pengalaman murid-murid itu merupakan pengalaman kita juga! Jika badai pencobaan bertubi-tubi, dan kilat yang hebat menyambar serta gelombang memukul kita, kita berjuang melawan badai itu sendirian, lupa bahwa ada Seorang yang dapat menolong kita. Kita berharap pada kekuatan kita sendiri sampai pengharapan kita lenyap, dan kita hampir binasa. Kemudian kita teringat akan Yesus, dan jikalau kita memanggil Dia untuk menyelamatkan kita, kita tidak akan meratap dengan sia-sia. Walaupun Ia dengan sedih menegur kurang percaya dan ketergantungan kita terhadap diri sendiri, Ia tidak pernah gagal untuk memberikan pertolongan yang kita perlukan. Di darat atau di lautan, jikalau kita mempunyai Juruselamat di dalam hati kita, tidak perlu ada kekhawatiran. Iman yang hidup di dalam Penebus akan menenangkan laut kehidupan serta akan melepaskan kita dari marabahaya di dalam cara yang menurut pengetahuan-Nya adalah yang terbaik. DA 336.3
Ada pula pelajaran lain bagi kerohanian yang diperoleh di dalam mukjizat menenangkan angin ribut ini. Setiap pengalaman manusia menyaksikan kebenaran perkataan Alkitab: “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang,... Tiada damai bagi orang-orang fasik itu, firman Allahku.” Yesaya 57:20 21. Dosa telah membinasakan kedamaian kita. Apabila diri tidak ditaklukkan, kita tidak akan memperoleh ketenangan. Tidak ada kuasa manusia yang dapat menguasai keangkuhan hawa nafsu hati. Kita pun tidak berdaya, sama halnya dengan murid-murid itu untuk meneduhkan gelora ombak. Tetapi Ia yang telah mendiamkan Danau Galilea juga telah mengucapkan perkataan damai bagi setiap jiwa. Bagaimana pun besarnya topan, orang-orang yang berpaling kepada Yesus serta berseru: “Tuhan, selamatkan kami,” akan mendapat kelepasan. Kemurahan-Nyalah yang telah memperdamaikan jiwa kepada Allah, menenangkan peperangan hawa nafsu manusia, dan di dalam kasih-Nya hati itu tenang. “Dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.” Mazmur 107:29, 30. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya. Roma 5.1, Yesaya 32:17. DA 336.4
Bacalah Markus 5: 21-34. Apakah yang terjadi dan apakah yang bisa kita pelajari?
Dalam perjalanan menuju rumah penghulu itu, Yesus telah menemukan di antara orang banyak itu, seorang perempuan malang karena telah dua belas tahun lamanya ia menderita penyakit yang membuat hidupnya suatu beban. Ia telah menggunakan segala miliknya untuk tabib dan obat-obatan, namun hanya mendapat perkataan bahwa penyakitnya tidak dapat diobati. Tetapi pengharapannya timbul lagi bila ia mendengar kesembuhan yang telah diadakan oleh Kristus. Ia merasa pasti bahwa jikalau ia dapat pergi kepada-Nya, ia akan sembuh. Di dalam tubuh yang lemah dan susah payah ia datang ke tepi pantai di mana Yesus sedang mengajar, dan mencoba menerobos melalui orang banyak, tetapi sia-sia adanya. Sekali lagi ia mengikuti Yesus dari rumah Matius Lewi, namun demikian belum juga sampai kepada-Nya. Ia mulai putus asa, dan waktu Yesus berjalan melalui orang banyak itu, Yesus datang dekat kepadanya. DA 343.4
Kesempatan yang indah telah datang. Ia berada di hadapan Tabib Besar itu! Tetapi di tengah-tengah hiruk pikuk orang banyak itu ia tidak dapat berbicara kepada-Nya, sekalipun hanya memandang wajah-Nya. Karena takut kehilangan satu-satunya kesempatan untuk memperoleh kesembuhan, ia mendesak ke depan, sambil berkata kepada diri sendiri: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Sementara Yesus berlalu, perempuan itu maju ke depan, dan dapat menjamah pinggir jubah-Nya. Saat itu juga ia merasa sembuh. Di dalam satu jamahan itu seluruh iman hidupnya dipusatkan, dan pada waktu itu penyakit dan tubuhnya yang lemah dipulihkan dan diganti dengan kekuatan dan kesehatan tubuhnya. DA 343.5
Dengan berterima kasih dalam hati ia mencoba mengundurkan diri dari antara orang banyak; tetapi tiba-tiba Yesus berhenti, dan orang banyak pun berhenti dengan Dia. Ia berbalik, dan memandang sekeliling serta bertanya dengan suara yang nyaring sekalipun di dalam keributan orang banyak dapat didengar: “Siapa yang menjamah Aku?” Orang banyak menjawab pertanyaan yang aneh itu dengan roman muka yang keheranan. Dikerumuni dari segala penjuru, didesak ke sana ke mari, kelihatannya merupakan satu pertanyaan yang aneh sekali. DA 344.1
Petrus yang selalu siap sedia berbicara, berkata: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Maka jawab Yesus “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.” Juruselamat dapat membedakan jamahan iman dari sentuhan yang kebetulan oleh orang banyak yang kurang peduli. Iman yang demikian tidak patut dilalukan tanpa komentar. Ia mau berbicara kepada perempuan itu perkataan penghiburan yang baginya menjadi mata air kesukaan, perkataan yang dapat menjadi berkat kepada pengikut-pengikut-Nya hingga pada akhir zaman. DA 344.2
Dengan menoleh kepada perempuan itu Yesus mendesak untuk mengetahui siapa yang menjamah Dia. Karena perempuan itu tak dapat menyembunyikan dirinya, datanglah ia dengan gemetar lalu sujud di kaki Yesus. Dengan air mata ia menceritakan kisah penderitaannya, dan bagaimana ia telah mendapat kesembuhan. Yesus berkata dengan lemah lembut: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” Ia tidak memberikan kesempatan untuk takhayul menyatakan penyembuhan hanya karena menjamah jubah-Nya saja. Bukanlah melalui jamahan secara luar dengan Dia, tetapi melalui iman yang berpegang atas kuasa Keilahian-Nya, yang membawa kesembuhan itu. DA 344.3
Orang banyak yang keheran-heranan dan berdesak-desakan di sekitar Kristus sadar bahwa tiada penambahan kuasa yang amat penting. Tetapi apabila perempuan yang menderita ini mengulurkan tangannya menjamah Dia, percaya bahwa ia akan sembuh, ia merasakan kuasa penyembuhan. Demikian juga dalam hal rohani. Berbicara mengenai agama dalam suatu cara kebetulan saja, berdoa tanpa jiwa yang haus dan iman yang hidup, tiada faedahnya. Suatu iman yang hanya nama saja di dalam Kristus, menerima Dia hanya sebagai Juruselamat dunia ini, tidak akan pernah membawa kesembuhan kepada jiwa. Iman yang membawa keselamatan bukan hanya sekadar pengetahuan intelek akan kebenaran. Orang yang menunggu akan pengetahuan yang sempurna sebelum ia mempraktikkan iman, tidak dapat menerima berkat dari Allah. Tidaklah cukup hanya percaya akan Kristus; kita harus percaya di dalam Dia. Satu-satunya iman yang membawa faedah bagi kita ialah dengan menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi, yang menjadikan jasa-jasa-Nya sebagai milik kita. Banyak orang yang memegang iman sebagai suatu pendapat. Iman yang menyelamatkan ialah suatu perjanjian oleh mana orang-orang yang menerima Kristus menggabungkan diri mereka sendiri di dalam perjanjian yang berhubungan dengan Allah. Iman yang sejati ialah kehidupan. Iman yang hidup berarti menambah semangat, memperdalam kepercayaan, sehingga jiwa menjadi suatu kuasa yang dapat mengalahkan. DA 347.1
Sesudah menyembuhkan perempuan itu, Yesus ingin agar ia menghargai berkat yang telah diterimanya. Pemberian yang dikaruniakan oleh Injil itu jangan hendaknya diperoleh dengan diam-diam atau dinikmati sembunyi-sembunyi. Demikianlah Allah memanggil kita untuk mengakui kebaikan-Nya. “Kamulah saksi-saksi-Ku, demikianlah firman Tuhan, dan Akulah Allah.” Yesaya 43: 12. DA 347.2
Bagaimanakah tanggapan Ayub? Bacalah Ayub 19: 23-27 dan Ayub 23: 8-12.
Dari kekecewaan yang mendalam dan kehilangan semangat Ayub bangkit kepada ketinggian kepercayaan yang selengkapnya di dalam rahmat dan kuasa Allah yang menyelamatkan. Dengan sorak kemenangan ia berseru: PR 94.3
“Meskipun Ia hendak membunuh aku, namun aku akan percaya pada-Nya: Itulah yang menyelamatkan aku.”
“Tetapi aku tahu Penebusku hidup, Dan akhirnya ia akan bangkit di atas debu: Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, Tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, Yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku, Mataku sendiri menyaksikan-Nya, dan bukan orang lain.” Ayub 13:15, 16; 19:25-27. PR 94.6
“Maka dari dalam badai Tuhan menjawab Ayub” (Ayub 38:1), dan menyatakan kepada hamba-Nya kebesaran kuasa-Nya. Ketika Ayub selintas melihat penciptanya, ia benci akan dirinya sendiri dan menyatakan penyesalannya dalam abu duli. Barulah Tuhan dapat memberkatinya dengan selimpah-limpahnya menjadikan akhir hidupnya sangat berbahagia. PR 94.7
Pengharapan dan keberanian adalah unsur yang penting untuk pelayanan yang sempurna bagi Allah. Inilah buah-buah iman. Patah semangat adalah dosa yang tidak beralasan. Allah sanggup dan rela mencurahkan ke atas hamba-hambanya dengan lebih limpah kekuatan yang mereka butuhkan untuk menghadapi ujian dan cobaan. Rencana-rencana musuh terhadap pekerjaan-Nya barangkali telah dicanangkan dan diolah dengan sebaik-baiknya, tetapi Allah bisa menyingkirkan rencana-rencana itu bagaimana besarnya sekalipun. Olehnya Ia membuat waktu dan caranya, apabila Ia melihat bahwa iman hamba-hambanya telah lolos dari ujian. PR 94.8
Bagi yang putus asa pastilah ada obatnya--iman, doa, bekerja. Iman dan kegiatan akan memberikan kepastian dan kepuasan yang akan bertambah-tambah dari hari ke hari. Adakah engkau dicobai untuk memberikan jalan kepada perasaan-perasaan firasat yang mencemaskan atau kehilangan semangat sama sekali? Pada hari-hari kelam, apabila perkara-perkara tampaknya menakutkan, janganlah gentar. Percayalah akan Allah. Ia mengetahui kebutuhanmu. Ia memiliki segala kuasa. Kasih-Nya dan kemurahan-Nya yang tiada terbatas tidak pernah akan layu. Janganlah takut bahwa Ia tidak akan memenuhi janji-Nya. Dialah kebenaran yang abadi. Ia tidak akan pernah mengubahkan perjanjian yang dibuat-Nya dengan mereka yang mengasihi-Nya. Dan Ia akan mencurahkan ke atas hamba-hamba-Nya yang setiawan ukuran keberhasilan yang menjadi tuntutan kebutuhan mereka. Rasul Paulus menyaksikan: “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna... Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus: Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12:9, 10. PR 94.9
Bacalah percakapan dalam Lukas 24: 13-27 dan pikirkan tentang dua sudut pandang yang berbeda: dua murid itu dan Yesus.
Belum begitu jauh mereka berjalan ketika seorang asing menggabungkan diri dengan mereka, tetapi mereka sangat dicekam kesedihan dan kekecewaan sehingga mereka tidak memperhatikan dia baik-baik. Mereka meneruskan percakapan mereka, mengungkapkan isi hati mereka. Mereka sedang mempertimbangkan mengenai pelajaran-pelajaran yang telah diberikan oleh Kristus, yang tampaknya tidak dapat mereka pahami. Ketika mereka bercakap-cakap tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, Yesus ingin menghibur mereka. Ia telah melihat kesedihan mereka, Ia mengerti pikiran-pikiran yang bertentangan dan membingungkan yang membawa kepada ingatan mereka pendapat, Mungkinkah Orang ini, yang membiarkan diri-Nya dihina, adalah Kristus? Kesedihan mereka tidak dapat ditahan, dan mereka pun menangis. Yesus mengetahui bahwa hati mereka terikat dengan Dia dalam kasih, dan Ia rindu menyapu air mata mereka, dan memenuhi mereka dengan kegirangan dan kesukaan. Tetapi Ia harus terlebih dulu memberi mereka pelajaran yang tidak pernah akan mereka lupakan. DA 795.2
“Yesus berkata kepada mereka: Apakah yang kamu percakapankan sementara kamu berjalan? Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka namanya Kleopas, menjawab-Nya: Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Mereka menceritakan kepada-Nya tentang kekecewaan mereka mengenai Guru mereka, “yaitu seorang Nabi yang berkuasa dalam perbuatan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami, tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami,” kata mereka, “telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.” Dengan hati yang sedih dengan kekecewaan, dan dengan bibir gemetar, mereka menambahkan., “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari sejak semuanya itu terjadi.” DA 796.1
Merasa heran murid-murid tidak ingat akan perkataan Kristus, dan menyadari bahwa Ia telah menubuatkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi itu. Mereka tidak menyadari bahwa bagian terakhir dari hal yang telah dinyatakan-Nya akan digenapi dengan sesungguhnya seperti halnya dengan bagian pertama, bahwa pada hari ketiga Ia akan bangkit lagi. Inilah bagian yang seharusnya mereka ingat. Para imam dan penghulu tidak lupa akan hal ini. Pada hari “sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: ‘Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidupnya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.” Mat. 27:62,63. Tetapi murid-murid tidak ingat akan perkataan ini. DA 796.2
“Maka kata Yesus kepada mereka itu, Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu yang dikatakan para nabi. Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya? Murid-murid itu berpikir siapa gerangan orang asing ini, sehingga Ia dapat menyelami jiwa mereka, dan berbicara dengan kesungguh-sungguhan, dan simpati, dan dengan penuh pengharapan. Untuk pertama kalinya sejak Kristus diserahkan, mereka mulai merasa menaruh pengharapan. Sering mereka memandang dengan teliti kepada orang asing yang berjalan dengan mereka, dari berpikir bahwa perkataan-Nya justru merupakan perkataan yang akan diucapkan oleh Kristus. Mereka dipenuhi dengan keheranan, dan hati mereka mulai berdebar dengan harapan yang penuh kegirangan. DA 796.3
Mulai pada zaman Musa, permulaan sejarah Alkitab, Kristus mulai menjelaskan di seluruh Kitab Suci perkara-perkara mengenai diri-Nya. Sekiranya Ia telah memperkenalkan diri lebih dulu kepada mereka, maka hati mereka akan merasa puas. Dalam kegembiraan yang sempurna mereka tidak lagi lapar akan sesuatu. Tetapi perlu bagi mereka mengerti akan kesaksian tentang Dia oleh upacara bayangan dan nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama. Di atas inilah iman mereka harus didirikan. Kristus tidak mengadakan mukjizat untuk meyakinkan mereka, melainkan adalah pekerjaan-Nya yang utama menjelaskan Kitab Suci itu. Mereka telah menganggap kematian-Nya sebagai suatu hal yang membinasakan segala harapan mereka. Sekarang Ia menunjukkan dari nabi-nabi bahwa inilah bukti yang paling kuat untuk iman mereka. DA 796.4
“Kemudian aku melihat sejumlah besar malaikat membawa mahkota-mahkota mulia dari kota itu—mahkota untuk setiap orang kudus, dengan namanya tertulis di atasnya. Ketika Yesus meminta mahkota-mahkota itu, para malaikat mempersembahkannya kepada-Nya, dan dengan tangan kanan-Nya sendiri, Yesus yang terkasih meletakkan mahkota-mahkota itu di atas kepala orang-orang kudus. Dengan cara yang sama, para malaikat membawa harpa, dan Yesus juga mempersembahkannya kepada orang-orang kudus. Para malaikat yang memberi perintah pertama-tama membunyikan nadanya, dan kemudian setiap suara berseru dengan penuh syukur dan sukacita, dan setiap tangan dengan terampil memainkan senar-senar harpa, menghasilkan musik yang merdu dengan nada yang kaya dan sempurna. Kemudian aku melihat Yesus memimpin rombongan orang-orang yang ditebus ke gerbang kota. Ia memegang gerbang itu dan membukanya dengan engselnya yang berkilauan dan memerintahkan bangsa-bangsa yang telah memelihara kebenaran untuk masuk. Di dalam kota itu ada segala sesuatu yang memanjakan mata. Kemuliaan yang melimpah mereka lihat di mana-mana. Kemudian Yesus memandang orang-orang kudus yang ditebus-Nya; wajah mereka berseri-seri dengan kemuliaan; dan ketika Ia menatap mereka dengan mata kasih-Nya, Ia berkata, dengan suara-Nya yang merdu dan merdu, “Aku melihat jerih payah jiwa-Ku, dan Aku puas. Kemuliaan yang agung ini adalah milikmu untuk dinikmati selama-lamanya. Kesedihanmu telah berakhir. Tidak akan ada lagi kematian, kesedihan, tangisan, dan tidak akan ada lagi rasa sakit.” Aku melihat orang-orang yang ditebus membungkuk dan melemparkan mahkota mereka yang berkilauan di kaki Yesus, dan kemudian, ketika tangan-Nya yang penuh kasih mengangkat mereka, mereka memainkan harpa emas mereka dan memenuhi seluruh surga dengan musik dan nyanyian mereka yang merdu kepada Anak Domba. EW 288.1
“Kemudian aku melihat Yesus menuntun umat-Nya ke pohon kehidupan, dan sekali lagi kami mendengar suara-Nya yang merdu, lebih indah dari musik apa pun yang pernah terdengar di telinga manusia, berkata, “Daun pohon ini untuk penyembuhan bangsa-bangsa. Makanlah semuanya!” Di pohon kehidupan itu ada buah yang sangat indah, yang dapat dinikmati oleh orang-orang kudus dengan cuma-cuma. Di kota itu ada takhta yang sangat mulia, dari mana mengalir sungai air kehidupan yang murni, jernih seperti kristal. Di setiap sisi sungai ini ada pohon kehidupan, dan di tepi sungai itu ada pohon-pohon indah lainnya yang berbuah baik untuk dimakan.” EW 289.1
“Bahasa sungguh terlalu lemah untuk mencoba menggambarkan surga. Saat pemandangan itu terbentang di hadapanku, aku terpukau. Terhanyut oleh kemegahan dan kemuliaan yang luar biasa, aku meletakkan pena, dan berseru, “Oh, betapa besar kasihnya! Betapa menakjubkan kasih itu!” Bahasa yang paling agung pun gagal menggambarkan kemuliaan surga atau kedalaman kasih Juruselamat yang tak tertandingi.” EW 289.2
Banyak orang yang telah kehilangan pengharapan. Bawalah kembali sinar matahari kepada mereka. Banyak orang telah kehilangan keberanian. Tuturkanlah kepada mereka itu kata-kata penghiburan. Berdoa bagi mereka. Ada orang yang memerlukan roti hidup. Bacakan bagi mereka sabda Allah. Banyak orang yang jiwanya sakit yang tak dapat disembuhkan oleh obat maupun tabib. Doakan jiwa-jiwa ini, bawalah mereka kembali kepada Yesus. Beritahukan kepada mereka bahwa terdapat balsem di Gilead dan ada Seorang Tabib di sana. COL 418.2
Terang adalah suatu berkat, suatu berkat yang menyeluruh, memancarkan sinar-sinarnya ke dunia yang tidak bersyukur, tidak suci, dengan akhlak yang merosot. Demikianlah dengan terang Matahari Kebenaran. Seluruh dunia, terbungkus sebagaimana keadaannya dalam kegelapan dosa, dan kedukaan dan derita, harus diterangi dengan pengetahuan tentang kasih Allah. Terang yang bersinar dari takhta surga tidak boleh dilewatkan dari kelompok itu, dari tingkatan atau golongan manusia yang mana saja. COL 418.3
Berita pengharapan dan pengasihan harus dibawa ke ujung bumi. Barangsiapa mau, boleh menjangkau dan memegang kekuatan Allah dan berdamai dengan Dia dan Ia akan mengadakan perdamaian. Lalu orang kafir tidak akan terbungkus oleh kegelapan tengah malam. Awan gelap akan hilang di hadapan sinar-sinar terang dari Matahari Kebenaran. Kuasa neraka telah dikalahkan. COL 418.4