
“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” KJV - Kolose 4:6
“Ada cukup banyak hal yang bermanfaat untuk direnungkan dan dibicarakan. Percakapan orang Kristen seharusnya hal surga, dari sanalah kita menantikan Juruselamat. Merenungkan perkara-perkara surgawi itu bermanfaat, dan akan selalu disertai dengan damai sejahtera dan penghiburan Roh Kudus. Panggilan kita kudus, pengakuan kita luhur. Allah sedang memurnikan suatu umat pilihan-Nya sendiri, yang giat melakukan perbuatan baik. Ia duduk sebagai pemurni dan yang mentahirkan perak. Ketika kotoran dan logam disingkirkan, maka citra-Nya akan tercermin sempurna dalam diri kita. Kemudian doa Kristus bagi murid-murid-Nya akan dijawab dalam diri kita: “Kuduskanlah mereka melalui kebenaran-Mu: firman-Mu adalah kebenaran.” Ketika kebenaran memiliki pengaruh yang menguduskan hati dan hidup kita, kita dapat memberikan pelayanan yang berkenan kepada Allah dan dapat memuliakan Dia di bumi, menjadi bagian dari sifat ilahi dan telah terlepas dari kerusakan yang ada di dunia karena hawa nafsu.” 2T 317.2
Saudara menyadari akan kenyataan, bahwa kita telah diberikan suatu tugas besar dan, bahwa untuk melaksanakannya adalah sangat singkat; sehingga oleh karenanya kita harus belajar merubah waktu yang terbuang sia-sia menjadi berguna. Ada orang pernah mengatakan, bahwa secara rata-rata lebih dari separuh hidup manusia dan tenaga dihambur-hamburkan pada pembicaraan-pembicaraan yang sia-sia dan di dalam mengawasi orang-orang lain. Oleh karena itu salah satu keperluan kita yang terbesar ialah supaya kita belajar mengawasi lidah kita supaya memeliharakan hidung kita dari semua urusan orang lain, untuk dapat mengumpulkan waktu dan tenaga, damai dan keutuhan.
Adalah baik diingat juga, bahwa lidah kita telah dikaruniakan kepada kita untuk maksud membicarakan Kebenaran Allah serta pujian-Nya, dan tenaga kita untuk memberitakan Kebenaran-Nya dan untuk membawakan berkat kepada umat-Nya. Hendaklah kita berbicara dari hal prinsip-prinsip yang berasal dari sorga, dan hendaklah kita bekerja untuk prinsip-prinsip ini. Jika Saudara secara kebetulan melihat atau mendengar, bahwa seseorang sedang melakukan sesuatu perkara yang menurut penilaianmu yang terbaik adalah tidak pantas dilakukan oleh seorang Kristen, dan jika Saudara mengira Saudara dapat menolongnya, maka janganlah membuat diri anda menjadi seorang pembawa berita untuk menceritakannya kepada setiap orang, melainkan supaya berbicara sendiri dengan orang yang bersalah itu.
Bacalah Kolose 3: 18, 19. Keseimbangan apakah yang Anda lihat? Nasihat tambahan apakah yang diberikan Paulus dalam Efesus 5: 22-25, 33?
Sering timbul pertanyaan, “Apakah seorang istri tidak memiliki kemauannya sendiri?” Kitab Suci menjelaskan dengan tegas bahwa suami itulah kepala rumah tangga. “Hai istri, hendaklah kamu tunduk kepada suamimu.” Kalau nasehat ini berakhir di situ, kita boleh mengatakan bahwa kedudukan istri bukanlah suatu kedudukan yang dikehendaki; itu adalah satu kedudukan yang sangat berat dalam banyak hal menyusahkan, dan lebih baik kalau pernikahan itu sedikit saja. Banyak suami berhenti pada perkataan, “Hai istri, hendaklah kamu tunduk,” tetapi kita akan membaca kesimpulan nasihat itu, yang berbunyi, “Seperti kepada Tuhan.” AH 115.3
Allah menuntut istri selalu taat dan memuliakan Allah. Penurutan yang saksama dilakukan hanya kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah menebus dia sebagai anak-Nya sendiri dengan nilai nyawa-Nya yang tidak ternilai itu. Allah telah memberikan kepadanya suatu hati nurani, yang tidak boleh dilanggarnya tanpa hukuman. Kepribadiannya tidak boleh dilebur ke dalam kepribadian suaminya, karena dia adalah milik Kristus. Adalah suatu kesalahan untuk membayangkan bahwa dengan pengabdian buta ia harus melakukan persis seperti yang dikatakan suaminya dalam segala hal, padahal ia tahu bahwa dengan melakukan hal itu, akan terjadi kerugian bagi tubuh dan jiwanya, yang telah ditebus dari perbudakan Setan. Ada Seorang yang kedudukannya lebih tinggi daripada suami bagi sang istri; yaitu Penebusnya, dan penyerahannya kepada suaminya harus diberikan sebagaimana petunjuk yang diberikan Tuhan; “seperti kepada Tuhan.” AH 116.1
Apabila para suami menuntut ketaatan yang saksama dari para istri mereka dengan mengatakan bahwa wanita tidak mempunyai suara atau kehendak dalam keluarga, tetapi harus tunduk sama sekali, mereka menempatkan istri mereka dalam satu kedudukan yang bertentangan dengan Kitab Suci. Dalam menafsirkan Kitab Suci dengan cara demikian ini, mereka memperkosa tujuan dari peraturan pernikahan. Tafsiran itu mereka adakan hanya untuk menjalankan perintah sewenang-wenang, yang bukan menjadi hal mereka. Tetapi kita membaca lebih jauh, “Hai suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Apakah yang menyebabkan suami kasar terhadap istrinya? Kalau suami telah menemukan dia berdosa dan penuh dengan kesalahan, kepahitan hati tidak akan menyembuhkan kejahatan itu. AH 116.2
Bacalah ayat-ayat berikut. Prinsip-prinsip apakah yang diberikan untuk membesarkan anak-anak?
Amsal 22:6, 15 – “Kepada orangtua telah dipercayakan pekerjaan yang besar untuk mendidik dan melatih anak-anak mereka untuk kehidupan yang kekal masa mendatang. Banyak bapa dan ibu seolah-olah berpikir bahwa jikalau mereka telah memberikan makanan dan pakaian kepada anak-anak mereka, mereka telah melaksanakan tugas mereka. Mereka terlalu sibuk dengan usaha dan kepelesiran mereka sehingga tidak menjadikan pekerjaan mendidik anak-anak mereka sebagai sesuatu yang harus mereka pelajari di dalam hidup mereka. Mereka tidak berusaha untuk mendidik anak-anak mereka sehingga mereka ini akan menggunakan bakat-bakat mereka untuk kemuliaan Penebus mereka. Salomo tidaklah berkata, “Katakan kepada seorang anak tentang jalan yang harus ia tempuh, dan bilamana ia sudah tua, maka ia tidak akan berpaling daripadanya.” Melainkan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” CG 38.2
Di dalam kekuatan Allah, orangtua harus bangkit dan memerintahkan seluruh anggota keluarga mereka supaya patuh kepada mereka. Mereka harus belajar untuk menekan yang salah dengan tangan yang kuat, tetapi tanpa disertai hawa nafsu atau sikap tidak sabar. Janganlah mereka membiarkan anak-anak mereka menerka-nerka apa yang benar itu, tetapi harus menunjukkan jalan itu dengan cara yang jelas dan mengajar mereka untuk berjalan di jalan itu. CG 87.3
Mat. 19:14 – “Ini adalah suatu pelajaran yang menggembirakan hati kepada para ibu dalam segala zaman. Setelah melakukan sesuatu yang dapat mereka lakukan dengan cara yang sebaik-baiknya, mereka boleh membawa anak-anak itu kepada Yesus. Demikian juga anak-anak bayi yang ada dalam pangkuan ibu adalah indah dalam pandangan-Nya. Dan sementara hati ibu merindukan bantuan yang tidak dapat diberikannya, rahmat pun tidak dapat diberikannya, dan dia menyerahkan dirinya dan anak-anaknya ke pengakuan Kristus yang penuh kasih, Ia akan menerima dan memberkati mereka; Ia akan memberikan kesejahteraan, pengharapan, dan kebahagiaan kepada ibu dan anak-anak. Inilah kesempatan indah yang diberikan Yesus kepada semua ibu.
Ulangan 6:6,7 – “Sekalipun ada petunjuk yang jelas ini, beberapa dari antara umat Allah mengizinkan anak-anak mereka untuk memasuki sekolah umum, di mana mereka bercampur baur dengan anak-anak yang akhlaknya rusak. Di sekolah-sekolah ini anak-anak mereka tidak dapat mempelajari Kitab Suci atau prinsip-prinsipnya. Para orangtua, engkau harus mengadakan persediaan bagi anak-anakmu untuk dididik dalam prinsip-prinsip Kitab Suci. CG 305.1
Amsal 1:8,9 – Para orangtua yang bijaksana memandang ke depan. Mereka sangat berhati-hati memberikan jaminan bagi hari depan anak-anaknya. Ini mereka lakukan dengan menanamkan dalam diri anak-anak mereka prinsip-prinsip yang berasal dari Surga pada mana anak-anak dapat dengan berhasil membangun pengalaman hidup mereka, karena atas landasan apapun para orangtua pada mulanya membuat mereka membangun, maka itulah satu-satunya yang mereka dapat terus membangun. Suatu landasan yang rapuh akan senantiasa menghalangi mereka dari setiap perkara yang lebih maju daripada yang dimungkinkan oleh landasan itu sendiri, apakah itu dalam agama ataupun dalam sesuatu usaha dagang.
Bacalah Kolose 3: 22-25 dan Kolose 4: 1. Apakah petunjuk yang diberikan kepada para hamba? Prinsip apakah yang dapat diterapkan dalam hubungan kerja secara umum?
“Mereka yang tidak setia terhadap pekerjaan Allah, kekurangan prinsip; motif mereka tidaklah bersifat untuk mendorong mereka memilih yang benar dalam segala keadaan. Hamba-hamba Allah harus selalu merasa bahwa mereka berada di bawah pengawasan Tuhan mereka. Dia yang mengawasi pesta penyembahan berhala Belshazzar hadir di semua lembaga kita, di kamar hitung pedagang, di bengkel pribadi; dan tangan yang tak berdarah itu dengan pasti mencatat kelalaianmu, sebagaimana ia mencatat hukuman mengerikan raja yang menghujat. Hukuman Belshazzar ditulis dengan kata-kata api, “Engkau telah ditimbang di timbangan, dan engkau ditemukan kurang;” dan jika Anda gagal memenuhi kewajiban yang diberikan Allah, hukuman Anda akan sama. RH September 22, 1891, par. 9
Ada banyak orang yang mengaku sebagai Kristen namun tidak bersatu dengan Kristus. Kehidupan sehari-hari mereka, roh mereka, menunjukkan bahwa Kristus tidak berdiam di dalam diri mereka, harapan akan kemuliaan. Mereka tidak dapat diandalkan, mereka tidak dapat dipercaya. Mereka berusaha untuk mengurangi pelayanan mereka seminimal mungkin, namun pada saat yang sama menuntut upah yang tertinggi. Nama “hamba” berlaku bagi setiap orang; sebab kita semua adalah hamba, dan akan baik bagi kita untuk melihat bentuk apa yang kita ambil. Apakah itu bentuk ketidaksetiaan, atau kesetiaan?” RH September 22, 1891, par. 10
“Apakah memang sifat umum para pelayan untuk bekerja sebanyak mungkin? Bukankah justru kebiasaan yang umum adalah menyelesaikan pekerjaan secepat dan semudah mungkin, serta mendapatkan upah dengan biaya serendah mungkin bagi diri mereka sendiri? Tujuannya bukanlah untuk bekerja sepenuh hati, tetapi untuk mendapatkan imbalan. Mereka yang mengaku sebagai pelayan Kristus tidak seharusnya melupakan perintah Rasul Paulus, ‘Hamba-hamba, taatilah dalam segala hal kepada tuanmu menurut daging; janganlah dengan pelayanan yang hanya terlihat, seperti orang yang mencari pujian; tetapi dengan hati yang tulus, takut akan Allah: dan apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan sepenuh hati, seolah-olah untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia; karena kamu tahu bahwa dari Tuhan kamu akan menerima upah warisan: sebab kamu melayani Tuhan Kristus.’” RH September 22, 1891, par. 11
“Mereka yang memasuki pekerjaan sebagai ‘pelayan yang hanya bekerja seseorang yang bekerja dengan rajin hanya saat diawasi oleh atasan atau orang lain,’ akan menemukan bahwa pekerjaan mereka tidak akan tahan terhadap pemeriksaan manusia atau malaikat. Hal yang penting untuk kesuksesan pekerjaan adalah pengetahuan tentang Kristus; karena pengetahuan ini akan memberikan prinsip-prinsip yang benar, menanamkan semangat yang mulia dan tidak egois, seperti yang dimiliki oleh Juruselamat kita yang kita akui untuk melayani-Nya. Kesetiaan, kepedulian, ketelitian, dan ketekunan harus menjadi ciri khas semua pekerjaan kita, di mana pun kita berada, baik di dapur, bengkel, kantor penerbitan, Sanitarium, perguruan tinggi, atau dimanapun kita ditempatkan di kebun anggur Tuhan. ‘Barangsiapa setia dalam hal yang kecil, ia juga setia dalam hal yang besar; dan barangsiapa tidak setia dalam hal yang kecil, ia juga tidak setia dalam hal yang besar.’” RH September 22, 1891, par. 12
Bacalah Kolose 4: 2-4. Prinsip-prinsip doa apakah yang Anda temukan dalam ayat-ayat ini? Permohonan doa apakah yang diminta Paulus?
“Ketekunan dalam berdoa sangatlah penting; jangan biarkan apa pun menghalangimu. Berusahalah sekuat tenaga untuk menjaga agar persekutuan antara Yesus dan jiwamu tetap terbuka. Carilah setiap kesempatan untuk pergi ke tempat di mana doa biasa dipanjatkan. Mereka yang benar-benar mencari persekutuan dengan Tuhan akan terlihat dalam pertemuan doa, setia melakukan tugas mereka dan sungguh-sungguh serta bersemangat untuk menuai semua manfaat yang dapat mereka peroleh. Mereka akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menempatkan diri mereka di tempat di mana mereka dapat menerima sinar terang dari surga.” Pr 284.1
“Kita hendaknya berdoa dalam lingkaran keluarga, dan yang terpenting kita tidak boleh mengabaikan doa pribadi, karena inilah kehidupan jiwa. Jiwa tidak mungkin berkembang jika doa diabaikan. Doa keluarga atau doa umum saja tidak cukup. Dalam kesendirian, biarlah jiwa terbuka kepada mata Tuhan yang mengamati. Doa pribadi hanya boleh didengar oleh Tuhan yang mendengar doa. Tidak ada telinga yang ingin tahu yang boleh menerima beban permohonan tersebut. Dalam doa pribadi, jiwa terbebas dari pengaruh lingkungan sekitar, terbebas dari kegelisahan. Dengan tenang, namun penuh semangat, jiwa akan menjangkau Tuhan. Manis dan abadi akan menjadi pengaruh yang terpancar dari Dia yang melihat dalam rahasia, yang telinga-Nya terbuka untuk mendengar doa yang muncul dari hati. Dengan iman yang tenang dan sederhana, jiwa menjalin persekutuan dengan Tuhan dan mengumpulkan sinar cahaya ilahi untuk memperkuat dan menopangnya dalam konflik dengan Setan. Tuhan adalah menara kekuatan kita.” Pr 284.2
Bacalah kembali Kolose 4: 3. Apakah "pintu pemberitaan” yang mungkin dibukakan Allah bagi Anda dalam membagikan iman Anda?
Kita tidak hanya perlu membaca Firman kehidupan, tetapi juga mempelajari Firman itu dengan penuh doa, agar kita dapat menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar kepada orang-orang yang tidak percaya. Terang yang kita terima dari Firman Allah harus kita bagikan kepada orang lain, agar mereka tertarik untuk mempelajari Kitab Suci. “Kamu menyelidiki Kitab Suci,” kata Kristus, “karena di dalamnya kamu mengira kamu memiliki hidup kekal.” [Yoh. 5:39.]” 18LtMs, Ms 85, 1903, par. 24
Marilah kita berdoa untuk keberhasilan upaya para misionaris Tuhan. Marilah kita memohon kepada Tuhan agar membukakan bagi kita pintu kemampuan berbicara, sehingga kita dapat menyampaikan misteri-misteri Kristus. Alih-alih mengucapkan kata-kata kritik, yang akan melemahkan jiwa-jiwa yang sudah lemah, marilah kita berbicara tentang kasih dan kebaikan Allah. “Berjalanlah dengan bijaksana terhadap orang-orang di luar, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya.” Persembahkanlah talenta berbicara kepada Allah. Biarlah imanmu berpegang teguh pada janji-janji-Nya, dan berserulah dalam pujian dan syukur kepada-Nya.” PUR December 15, 1904, par. 13
Bacalah Kolose 4: 5, 6. Dalam situasi apakah Paulus menunjukkan bahwa kita terutama perlu "hidup dalam hikmat"? Mengapa demikian?
Kristus, Sang Guru Agung, dituduh makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Ia memang makan bersama mereka, tetapi itu bertujuan untuk membiarkan kebenaran bersinar. Teladan-Nya, yang selalu luhur, mulia, dan murni, sangat kontras dengan teladan orang-orang Farisi, imam-imam, dan para penguasa pada zaman-Nya. Mereka mengabaikan pekerjaan yang telah Ia percayakan kepada mereka. 16MR 6.3
Kristus menemui orang-orang di tempat mereka berada—di meja tamu, di jalan-jalan, di tepi danau, di sinagoge dan bait suci, dan di jalan-jalan raya yang ramai. Di tempat-tempat inilah ditemukan banyak orang yang bersedia mengakui bahwa mereka adalah orang berdosa. Di dalam hati mereka, Kristus dapat menabur benih kebenaran; dan setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, benih-benih ini, yang tersebar hampir di setiap tempat, tumbuh di bawah pengajaran para rasul, dan dalam satu hari 5.000 orang percaya bertobat. 16MR 7.1
“Tepat sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Segala kuasa telah diberikan kepada-Ku di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka untuk mentaati segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu; dan lihatlah, Aku menyertai kamu selalu sampai akhir zaman” [Matius 28:18-20]. 16MR 7.2
“Tugas ini adalah tugas kita. Tidak semua orang memiliki pekerjaan yang sama, tetapi setiap orang diberi tugasnya masing-masing. Tidak seorang pun dipercayakan seluruh pekerjaan. Tidak seorang pun boleh meninggikan dirinya sendiri atau orang lain; karena apa pun kedudukan seseorang, ia tidak luput dari kekurangan, dan ia harus menjaga diri dari kesombongan, iri hati, cemburu, egois, dan keserakahan.” 16MR 7.3
“Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan sepenuh hati, seperti kepada Tuhan, dan bukan kepada manusia; karena kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima upah warisan, sebab kamu melayani Tuhan Kristus. Tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia akan menerima balasan atas kejahatan yang dilakukannya; dan di hadapan Allah tidak ada pilih kasih.” [Kolose 3:23-25] 16MR 7.4
Kita harus mempunyai Roh Allah, jikalau tidak sudah tentu kita tidak memperoleh kerukunan dalam rumah tangga. Sang istri, kalau ada Roh Kristus padanya akan berhati-hati dalam perkataannya; ia akan mengendalikan rohnya, ia akan taat, namun ia tidak merasa bahwa ia seorang budak, melainkan sebagai seorang sahabat kepada suaminya. Kalau si suami adalah seorang hamba Allah, ia tidak akan menjadi tuan terhadap istrinya; ia tidak akan berbuat sesukanya dan tidak menuntut dengan paksa. Kita tidak dapat menghargai cinta kasih rumah tangga dengan terlalu ketat penjagaan, karena rumah tangga adalah suatu teladan surga, kalau Roh Tuhan berdiam di sana.... Kalau seorang ada bersalah, yang lain harus melatih kesabaran sama seperti Kristus dan tidak menjauhkan diri dengan hati yang membeku. AH 118.1
Janganlah suami maupun istri memaksakan kuasa lalimnya terhadap satu sama lain. Jangan coba memaksakan kehendak hatimu terhadap satu sama lain. Kamu tidak dapat lakukan ini dan terus memelihara cinta terhadap satu sama lain. Hendaklah kamu manis budi, sabar, menahan diri, hormat menghormati dan sopan santun. Oleh kasih karunia Allah semoga kamu berhasil membahagiakan satu sama lain, sebagaimana kamu telah berjanji hendak melakukan yang demikian dalam sumpah perkawinan. AH 118.2
Dalam hidup pernikahan kadang-kadang para pria dan wanita berlaku seperti anak-anak nakal yang tidak berdisiplin. Si suami mau melakukan yang ini, dan sang istri mau melakukan yang itu, dan tidak ada seorang pun yang mau mengalah. Keadaan yang demikian hanya membawa kesusahan yang sangat besar. Baik suami maupun istri harus rela meninggalkan kemauan atau pemikirannya. Tidak mungkin ada kebahagiaan sementara keduanya berkeras hati dalam melakukan sebagaimana yang mereka sukai. AH 118.3
Kecuali para pria dan wanita belajar dari Kristus, yaitu kelemahlembutan dan kerendahan hati-Nya, mereka akan menyatakan dorongan hatinya, roh yang tidak masuk akal dan sering sama seperti anak-anak. Kehendak hati yang keras, dan tidak berdisiplin akan berusaha untuk memerintah. Orang-orang yang demikian perlu mempelajari perkataan Rasul Paulus: “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. AH 118.4