Hukum yang kedua melarang perbaktian kepada Allah yang benar dengan patung-patung atau yang menyerupainya. Banyak bangsa kafir menyatakan bahwa patung-patung mereka itu hanyalah sekadar gambaran atau lambang oleh mana Allah itu disembah, tetapi Allah telah menyatakan bahwa perbaktian seperti itu adalah dosa. Usaha untuk menggambarkan Pribadi Yang Kekal itu oleh benda-benda materi akan merendahkan dasar pemikiran manusia tentang Allah. Pikiran kita, bila dipalingkan dari kesempurnaan Tuhan yang tidak terbatas itu, akan tertarik kepada benda yang dijadikan gantinya kepada Khalik itu. Dan apabila pandangannya tentang Allah telah direndahkan, maka demikian juga manusia itu akan menjadi merosot martabatnya. PP 306.1
“Sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu.” Hubungan yang intim dan suci antara Allah dengan umat-Nya dilambangkan sebagai satu pernikahan. Oleh karena penyembahan berhala merupakan perzinahan rohani, maka rasa tidak senang Allah terhadap hal itu dengan tepat sekali disebut sebagai kecemburuan. PP 306.2
“Semangat penyembahan berhala kafir masih merajalela dewasa ini, meskipun di bawah pengaruh ilmu pengetahuan dan pendidikan, semangat itu telah mengambil bentuk yang lebih halus dan menarik. Setiap hari semakin banyak bukti menyedihkan bahwa iman pada firman nubuat yang pasti semakin berkurang, dan sebagai gantinya takhayul dan sihir setan sedang memikat pikiran manusia. Semua orang yang tidak sungguh-sungguh menyelidiki Kitab Suci dan menyerahkan setiap keinginan dan tujuan hidup kepada ujian yang tak pernah salah itu, semua orang yang tidak mencari Tuhan dalam doa untuk mengetahui kehendak-Nya, pasti akan menyimpang dari jalan yang benar dan jatuh ke dalam tipu daya Setan.” CCh 320.3
“Orang mabuk dihina dan dikatakan bahwa dosanya akan membuatnya tidak masuk surga, sementara kesombongan, keegoisan, dan ketamakan tidak ditegur. Tetapi ini adalah dosa-dosa yang sangat menyinggung Allah. Ia “menentang orang yang sombong,” dan Paulus memberi tahu kita bahwa ketamakan adalah penyembahan berhala. Mereka yang terbiasa dengan kecaman terhadap penyembahan berhala dalam firman Allah akan segera melihat betapa beratnya pelanggaran dosa ini.” 5T 337.2
Zakharia 13:1, 2 — "Pada hari itu [pada hari terjadinya dukacita yang besar] akan dibuka sebuah mata air bagi isi rumah Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk dosa dan kenajisan. Dan akan terjadi pada hari itu, firman TUHAN semesta alam, bahwa Aku akan menghapus nama-nama berhala dari negeri itu, dan nama-nama itu tidak akan diingat lagi; dan Aku juga akan mengusir para nabi dan roh jahat dari negeri itu."
Dua hal kini tampak jelas dalam ayat-ayat ini: (1) bahwa isi rumah Daud harus ada sebelum mata air penyucian dibuka; (2) bahwa penyucian dimulai dengan menghapus nama-nama berhala, dan mengusir nabi-nabi palsu dan roh-roh jahat dari negeri itu.
Berhala-berhala ini adalah jenis yang berbicara; mereka adalah manusia. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah pelayan-pelayan gereja yang mengkhotbahkan diri mereka sendiri alih-alih Kristus, dan yang dipuja-puja oleh anggota awam. Akibatnya, anggota awam secara buta mengikuti mereka, dan apa pun keputusan yang dibuat oleh “berhala-berhala” mereka mengenai apa itu Kebenaran dan apa yang salah, apa itu dosa dan apa yang benar, itulah keputusan yang dilakukan oleh anggota awam. Oleh karena itu, “berhala-berhala” ini menciptakan situasi yang mirip dengan yang diciptakan oleh para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi pada masa kedatangan Kristus yang pertama. Akibatnya, para penyembah berhala tidak bersusah payah untuk menyelidiki pekabaran-pekabaran baru secara pribadi, dan dengan demikian mereka secara bodoh mengikuti manusia gantinya Kristus dan Kebenaran-Nya yang terus berkembang. Mereka ini, bersama dengan para nabi palsu dan roh-roh jahat, akan lenyap dari negeri ini.